Pencegahan Bullying di Pesantren

Oleh :
Ahmad Fatoni
Pengajar PBA-FAI Universtas Muhammadiyah Malang

Maraknya kasus kekerasan pada anak telah menyedot perhatian banyak pihak, terutama bagi orang tua, guru, serta pemerhati perlindungan anak. Belakangan kasus kekerasan yang paling banyak dibincang orang adalah kasus kekerasan dalam bentuk bullying. Bullying didefinisikan sebagai sikap mengejek, menghina, mengancam, memukul, mencuri, dan serangan langsung yang dilakukan oleh seseorang atau lebih terhadap korban. Bullying adalah kasus yang bisa terjadi di mana pun, termasuk di dunia pesantren.
Terlepas dari fungsi pesantren sebagai tempat untuk menimba ilmu, terkadang di tempat ini tidak steril dari bullying. Seperti misalnya, salah satu santri yang dijadikan sebagai bahan lelucon di depan teman-temannya. Ada pula bullying melalui candaan yang ujung-ujungnya berakhir dengan ejekan. Bahkan ada juga santri yang dijadikan sasaran emosi. Santri yang menjadi korban itu merasa takut dan akhirnya tertekan baik secara psikis maupun fisik.
Jamak dimaklumi, kepribadian santri di pesantren memiliki sifat dan karakter yang beragam. Ada yang introvert, tidak suka bergaul atau tidak mau menjalin interaksi sama teman-temannya. Ada yang memiliki sifat yang ekstrovert, suka bergaul dengan siapa saja, terbuka dengan semua teman yang ada di pesantren.
Ada sepenggal cerita tentang salah satu santri yang memiliki kepribadian yang introvert. Dia suka belajar, pintar, dan menjadi bintang kelas di pesantren. Di antara teman-temannya yang hidup di pesantren ada yang iri dengan santri tersebut. Kemudian mereka membuat rencana dengan pihak lainnya untuk menghasud santri tadi. Karena sikap iri tadi, mereka membuat rencana secara diam-diam untuk menjauhinya. Selain menjauhinya, mereka juga menggosip tentang kekurangannya.
Dampak bullying sungguh sangat merugikan, terutama bagi korban. Bullying pun tidak memberi keuntungan bagi yang melakukan. Yang pasti, bullying dapat memunculkan rasa depresi, stress, cemas, takut, dan berbagai perasaan negatif dalam diri si korban. Berapa banyak santri yang tidak betah tinggal di pesantren atau minta berhenti menuntut ilmu dari pesantren gegara perbuatan bullying.

Penyebab Terjadinya Bullying di Pesantren
Selain cerita di atas, ada ada pula pembullyan dikarenakan faktor fisik. Ambil contoh, ada anak santri yang memiliki tubuh yang gemuk, berambut keriting, atau berkulit gelap. Melihat fisik seperti itu, santri-santri lainnya terpancing untuk membully santri tersebut.
Penyebab lain kasus santri membully temannya karena jauh dari orang tua. Selama ini tanggung jawab orang tua adalah mengawasi perilaku anak-anaknya. Sementara, motivasi orang tua memondokkan anak memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Ada keinginan orang tua memondokkan anaknya karena si anak memiliki karakter yang dulunya nakal. Berhubung sulit diatur, lantas anaknya dititipkan ke pesantren agar mengerti ilmu agama dan berakhlak yang baik. Toh di pesantren ada wali santri yang dapat menggantikan posisi sebagai orang tua yaitu ustadz atau ustadzah.
Memang tugas utama ustadz atau ustadzah di pesantren adalah mendidik dan mengawasi para santri. Tetapi tugas mereka terkadang tidak maksimal mengawasi seluruh santri sebab yang ditangani bukan hanya satu dua santri, melainkan banyak santri. Tentu pengawasan mereka menjadi tidak optimal seperti orang tua santri di rumah. Itu sebabnya, peluang pembullyian antara santri cukup besar.
Dalam amatan penulis, setiap pesantren telah membuat peraturan agar antar santri tidak melakukan tindakan bullying. Setiap pesantren tinggal memastikan bagaimana larangan bullying itu bisa dipatuhi oleh seluruh santri. Namun demikian, itu semua tergantung santri sendiri. Kenyataannya, ada santri yang mematuhi dan ada pula santri yang tidak taat aturan. Setiap santri yang melanggar peraturan sudah seharusnya diberi sanksi. Dan sanksi terberat yaitu dikeluarkan dari pesantren.

Upaya Mencegah Bullying di Pesantren
Pesantren telah melakukan apapun demi meningkatkan upaya untuk menciptakan iklim kepesantrenan yang kondusif. Jika iklim pesantren positif maka semakin rendah potensi bullying akan terjadi, namun jika iklimnya negatif maka semakin tinggi pula potensi perilaku bullying terjadi. Suatu keniscayaan bagi ustadz dan ustadzah atau musyrif dan musyrifah agar mengawasi perilaku santri secara menyeluruh saat jam kosong atau istirahat. Pimpinan pesantren dalam berbagai kesempatan tentu telah mengingatkan santri tentang bahaya bullying.
Andai pihak pesantren mengabaikan perilaku bullying, niscaya membuka peluang bagi para santri untuk berbuat bullying antar mereka. Terlebih hal ini kemudian ditambah dengan rendahnya pengawasan dari pihak musyrif atau musyrifah mengenai bullying yang terjadi di asrama santri. Pihak pesantren akhirnya sulit untuk melakukan tindakan pencegahan bullying maupun hukuman kepada pelaku bullying.
Faktor lingkungan pembelajaran di pesantren yang menyenangkan juga menjadi dambaan setiap santri. Lingkungan pembelajaran di mana ustadz atau ustadzah ketika berbuat kasar dalam pemberian sanksi kepada santri, menyebabkan kegiatan belajar menjadi tidak menggembirakan. Kebijakan pesantren yang tidak konsisten atau peraturan yang terlalu ketat justru mendorong santri ingin melanggar peraturan.
Tak pelak, pihak pesantren memiliki peran penting dalam mencegah adanya perilaku bullying, selain peran orang tua dan keluarga. Jika pihak pesantren saja lemah dan terkesan tidak peduli serta menunda-nunda dalam menangani permasalahan ini, maka tidak menutup kemungkinan bullying akan menjadi tradisi dan kegiatan wajib tahun ke tahun oleh santri di lingkungan pesantren.
Salah satu cara agar mengurangi tingkatan bullying di pesantren yaitu melakukan sosialisasi terhadap santri tentang apa saja bahaya bullying terhadap dampak psikologis. Tujuan sosialiasi diadakan supaya santri mempelajari dan mengetahui bahwa bullying itu merugikan baik bagi korban maupun pelaku. Selain itu, kiranya setiap asrama di pesantren ada musyrif atau musyirifah yang pintar mengatasi pembullyan.
Pihak pesantren juga perlu merekrut ustadz atau ustadzah yang lulusan psikologi atau bimbingan konseling. Fungsinya yaitu meningkatkan pengawasan terhdaap perilaku santri. Kepada mereka, santri bisa menceritakan segala masalah yang dialami olehnya agar kalau punya masalah tidak dipendam sendirian. Apapun solusinya bisa bekerjasama dengan musyrif atau musyrifah yang mendampingi santri di asrama.
Peran orang tua dalam kasus bullying ini tentu saja sangat besar sebagai pihak yang melindungi anak sehingga anak tidak terpuruk dengan peristiwa buruk yang dialaminya. Melindungi anak yang terkena bullying bisa dilakukan dengan menasehati anak yang menjadi pelaku bullying, menemui orang tuanya, membesarkan hati anak, dan lain sebagainya.
Orang tua juga ikut andil dalam upaya mencegahnya terjadinya bullying. Orang tua hendaknya secara aktif menunjukkan kepada anak masing-masing untuk dapat mengerti permasalahan dari sudut pandang orang lain. Saat menjenguk sang anak di pesantren, orang tua tidak pernah bosan menyadarkan dan mengajarinya bahwa membully sesama santri adalah suatu hal yang tidak pantas dan merugikan masa depan santri lain.

Rate this article!
Tags: