Pendidikan Bermutu, Jangan Hanya Jadi Wacana

Oleh :
Kurniawan Adi Santoso
Penulis adalah Guru SDN Sidorejo, Kec. Krian, Sidoarjo

Di tengah pandemi Covid-19 serta di era industri 4.0 ini, Pendidikan macam apa yang mampu mengubah peserta didik dari ketidaktahuan, ketidakmampuan, ketidakberdayaan, ketidakbenaran, ketidakjujuran, dan dari buruknya akhlak dan keimanan menuju berbagai kemampuan, kemauan, kejujuran, akhlaq mulia, lebih dekat kepada Tuhan dan lebih berdaya saing? Ya, itu adalah pendidikan bermutu.

Pendidikan bermutu dimaknai sebagai pendidikan yang mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, memotivasi, membuat kangen, menginspirasi peserta didik, untuk mengembangkan potensinya secara optimal (Sujarwo, 2021). Hasil pendidikannya mampu membentuk pribadi anak didik menjadi kritis (mampu membaca dan membuat peluang). Juga pemikiran kreatif (menciptakan peluang dan alternatif solusinya), inovatif (melahirkan karya-karya baru yang memiliki nilai guna tinggi), kolaboratif (mampu membuat jaringan kerja dan komunitas) dan komunikatif (mampu mempublikasikan karyanya kepada khalayak).

Pendidikan bermutu bukan sekadar tansfer of knowledge yang dilakukan guru secara klasikal. Tetapi, lebih pada pembangunan karakter siswa dari sosok individu yang diharapkan dapat tumbuh kembang menjadi insan berbudi luhur, cerdas, memiliki etika dan estetika. Sehingga kelak ia dapat menjalani dan menjaga marwah kehidupan dengan menjaga keselarasan dan alam raya.

Pembentukan karakter memang menjadi agenda prioritas dalam pendidikan bermutu. Karakter dijadikan sebagai fondasi dan ruh di setiap kegiatan pembelajaran. Ini karena secara prinsip dasar, semua pihak menyakini bahwa melalui karakter yang kuat dan kemampuan berdaya saing tinggi peserta didik akan sanggup menjalani hidup di era Industri 4.0 ini.

Berperan Optimal

Pendidikan bermutu mensyaratkan semua unsur pendidikan dapat berperan secara optimal. Semua unsur tersebut harus berjalan seirama dan saling mendukung antara unsur satu dan unsur yang lain untuk meningkatkan mutu pendidikan. Dalam sistem pendidikan terdapat unsur input, proses, dan ouput.

Unsur input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia dan menjadi bahan mentah yang akan diolah melalui proses pendidikan. Proses pendidikan merupakan proses berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain dengan mengintegrasikan input pendidikan sehingga mampu menciptakan suasana pendidikan yang menyenangkan.

Kemudian juga mampu mendorong motivasi dan minat belajar peserta didik dan pendidik, dan benar-benar mampu memberdayakan peserta didik yang menjadi mitra pendidik. Output pendidikan adalah kinerja pendidikan yang dapat diukur dari kualitas, efektivitas, produktivitas, efisiensi, inovasi, dan moral kerja.

Agar ketiga unsur tersebut dapat berjalan optimal mencapai tujuan pendidikan, maka dibutuhkanlah yang namanya kurikulum. Kurikulum adalah dokumen yang berisi tentang tujuan dan arah pendidikan yang disiapkan, agar proses belajar mengajar di sekolah dapat berjalan dengan baik dan teratur serta memenuhi standar pendidikan.

Kewenangan membuat kurikulum sepenuhnya ada pada sekolah. Sehingga sekolah bisa mendesain kurikulum yang dapat mendorong para guru untuk memilih materi atau metode pembelajaran dengan kualitas tinggi, namun tetap sesuai tingkat kompetensi, minat, dan bakat masing-masing peserta didik.

Seragamnya kompetensi anak tidak lagi menjadi tuntutan. Guru diharapkan mengajar pada level yang sesuai dengan kemampuan peserta didik. Sehingga peserta didik dapat belajar tidak terlalu mudah namun juga tidak terlalu sulit.

Keluar Zona Nyaman

Selain itu, kurikulum juga dirancang untuk mendorong guru menjadi penggerak bagi peserta didiknya keluar dari zona nyaman. Guru berani mengajak siswa memanfaatkan Learning Management Sistem (LMS) melalui berbagai platform dan aplikasi pembelajaran. Ini dimaksudkan untuk menciptakan kemandirian belajar dan tanggung jawab akademis peserta didik, menyiapkan siswa untuk menghadapi dunia yang berpusat pada teknologi, meningkatkan kemampuan kolaboratif, menarik dan menyenangkan serta memicu keterlibatan secara penuh (fisik dan sosio emosional) peserta didik dalam proses pembelajaran.

Maka itu, strategi pembelajaran yang digunakan lebih menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna dalam proses pembelajaran untuk menjawab pertanyaan, pandangan atau masalah yang dihadapai peserta didik. Aktivitas belajar diarahkan pada keterampilan berfikir kritis, analisis, membandingkan, generalisasi, memprediksi maupun menyusun hipotesis.

Kemudian, pelaksanaan asesmen (penilaian) pembelajaran harus memerdekakan, menekankan proses penyusunan makna secara aktif yang melibatkan keterampilan terintegrasi pada permasalahan dalam konteks nyata. Serta menekankan pada keterampilan secara berkelompok.

Keberagaman minat dan kemampuan yang dimiliki peserta didik menjadi alasan logis agar pengukuran kinerja peserta didik tidak hanya dinilai menggunakan angka-angka pencapaian akademik. Melainkan harus mengakomodir dan memberikan pengakuan pada aktivitas lain di luar kelas sebagai bentuk pengembangan diri peserta didik.

Dengan demikian, pendidikan bermutu lahir dari sistem perencanaan yang baik, proses yang menyenangkan, materi yang memberikan nilai tambah, serta pendidik yang humanis mempesona dan inspiratif. Peserta didik mampu dibuat nyaman dengan lingkungannya, nyaman suasana belajar, nyaman tempatnya, dan nyaman berinteraksi dengan pendidiknya. Suasana nyaman akan melahirkan energi positif dalam menanamkan nilai-nilai edukasi dalam diri peserta didik untuk meraih sukses.

Lantas pertanyaannya, sanggupkah guru menerapkan pendidikan bermutu? Pertanyaan ini muncul karena ada semacam keraguan, pendidikan bermutu hanya sebatas wacana. Hal ini bukan tanpa sebab. Mayoritas guru kita kompetensinya masih di bawah standar. Itu terlihat dari hasil UKG terkini (tahun 2018), pencapaian rata-rata nasional baru 53,02 atau di bawah standar kompetensi minimal yang ditetapkan yakni 55,00. Jadi, sanggup atau tidaknya? Ya silakan dijawab, wahai para guru.

——- *** ———

Tags: