Pendidikan Karakter; Membangun SDM yang Bermoral

Oleh :
M Firdaus Rahmatullah
Guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Panarukan

Tuhan menciptakan manusia dengan akal sebagai kelebihannya adalah suatu anugerah. Dengan akal, hakikat manusia dengan makhluk lain, seperti hewan, menjadi pembeda. Dengan akal pula, manusia mampu melampaui makhluk lain bernama malaikat. Akal adalah puncak nalar dan kelogisan manusia.

Seturut dengan akal, nurani adalah penyeimbang. Ia penentu pertimbangan manusia dalam segala laku kehidupan. Hal yang baik, hal yang buruk, hal yang di antara keduanya, didasarkan pada nurani yang mau menerima dan menolak apa yang telah dilakukan oleh akal, yaitu melalui proses berpikir.

Proses berpikir dari beragam masalah melahirkan buah pikiran. Manusia mau turut serta dalam arus zaman atau menciptakan eranya sendiri adalah pilihan. Kekuatan pikiran menembus batas-batas diri manusia akan berkembang seiring problematika yang mereka hadapi dalam laku hidup keseharian, sehingga dalam perjalanannya mereka akan menemukan kunci pemecahan setiap masalah.

Namun, tidak semua buah pikiran yang dihasilkan oleh manusia adalah positif dan bermanfaat. Ada juga yang bersifat negatif dan merusak, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Oleh karena itu, manusia harus bijak dalam memilih dan menggunakan buah pikirannya. Manusia harus mampu membedakan antara yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, yang hak dan yang batil. Manusia harus bertanggung jawab atas akibat dari buah pikirannya, baik di dunia maupun di akhirat.

Namun, persoalan yang muncul, benarkah dengan anugerah demikian manusia mampu berpikir logis dan bernurani bijak?

Menurut Thomas Lickona dalam bukunya yang berjudul Educating for Character: How Our School Can Teach Respect and Responsibility, pendidikan karakter adalah upaya secara sadar seseorang untuk mendidik orang lain dengan menginternalisasi nilai-nilai karakter sebagai unsur pencerahan (enlightenment) bagi mereka. Oleh karena itu, pendidikan karakter merupakan upaya kolektif untuk membantu seseorang dalam memahami, peduli, dan bertindak sebagai landasan etis. Pendidikan karakter mendorong manusia untuk menampilkan perilaku baik, seperti jujur, bertanggung jawab, menghormati orang lain, dan beretika selayaknya manusia.

Pendidikan karakter, sebagai medium yang mendorong murid menjadi manusia seutuhnya, mempunyai beberapa tujuan, di antaranya: (1) pendidikan karakter dapat meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan yang berkualitas, (2) adanya pendidikan karakter ditujukan untuk menciptakan sumber daya manusia yang memiliki karakter mulia, kompeten, dan bermoral sekaligus membekali murid dengan kecerdasan emosi, (3) membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak, hingga toleran dengan perbedaan juga termasuk salah satu tujuan lain dari keberadaan pendidikan karakter. Hal demikian penting bagi para pemerhati dan pelaku dunia pendidikan untuk dipahami untuk menciptakan generasi-generasi yang unggul dan mempunyai etikabilitas.

Sementara itu, secara konseptual, pendidikan karakter adalah model pendidikan yang mengandung tiga unsur fundamental dengan sifat saling berkesinambungan. Ketiganya yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (desiring the good), dan melakukan kebaikan (doing the good). Titik temu dari ketiga unsur ini berada pada konteks kebaikan. Unsur-unsur tersebut mesti ditempa dan dibiasakan agar tidak berhenti pada salah satu unsur semata.

D alam praktiknya, pendidikan karakter tidak bisa dilepaskan dari peran guru sebagai pendidik utama di sekolah. Guru harus menjadi teladan dan inspirator bagi siswa dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan. Guru harus memiliki kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian yang tinggi. Guru harus mampu mengembangkan kurikulum, metode, media, dan evaluasi yang mendukung pembentukan karakter siswa. Guru harus berkolaborasi dengan orang tua dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pendidikan karakter.

Dengan demikian, pendidikan karakter memang termasuk model pendidikan yang berbasis pada upaya menciptakan sumber daya manusia yang bermoral dan memiliki sikap yang baik. Tidak hanya itu, pendidikan karakter sebagai pembentuk kepribadian murid yang selaras dengan cita-cita konstitusi, sehingga mampu menyesuaikan diri dengan tantangan zaman, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melakukan kajian mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam konteks pendidikan karakter di Indonesia. Kelima nilai yang dimaksud yakni: (1) nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, (2) nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan diri sendiri, (3) nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan sesama manusia, (4) nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan lingkungan, (5) nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan kebangsaan. Kelima nilai tersebut digali dari falsafah hidup bangsa dan selaras dengan nilai-nilai Pancasila.

Di era digital ini, batas antara manusia satu dengan manusia lain tiada lagi berjarak. Ketika seorang berada di kamarnya, ia tidak terbatas di dalam ruang yang dilapisi dinding belaka. Tanpa disadari, ia tengah berselancar ke dunia maya (cyberspace), mengunjungi aneka situs, bahkan kejahatan digital. Kita tidak dapat membatasi hal tersebut hanya dengan melarang. Dorongan dari orang tua, orang-orang sekitar, dan dorongan diri anak (self driving) menjadi kunci penting agar anak-anak tidak terjerumus ke dalam lembah-lembah digital yang kelam. Selain itu, anak perlu melatih sikap kerendahan hati agar dapat memikirkan ulang (rethinking) akan hal-hal yang akan dan telah terjadi ke depannya. Dengan sikap ini, keingintahuan yang besar dan rasa penasaran yang membuncah dapat menjadi modal untuk menemukan hal-hal baru, yang positif, yang reflektif, sesuai dengan kebutuhan anak-anak. Dengan cara ini, menurut Rhenald Kasali, Guru Besar Universitas Indonesia, anak-anak memiliki wawasan yang multiperspektif sehingga adaptif dan fleksibel menghadapi dunia yang artifisial.

Di sisi lain, anak juga perlu menyadari bahwa dunia maya tidak selalu mencerminkan realitas. Banyak hal yang terjadi di internet yang bisa menyesatkan, menipu, atau bahkan merugikan. Oleh karena itu, anak harus memiliki keterampilan literasi digital yang memadai untuk memilah-milah informasi yang benar dan bermanfaat dari yang salah dan berbahaya. Anak juga harus bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan di dunia maya, termasuk menghormati hak dan privasi orang lain, serta menjaga etika dan moral yang baik. Anak harus menghindari perilaku negatif seperti cyberbullying, sexting, hacking, atau plagiarisme, yang bisa merusak reputasi dan masa depan mereka.

Tidak dapat dimungkiri, perkembangan zaman yang kian pesat dan teknologi yang makin menembus batas-batas peradaban, menciptakan ruang-ruang tak bersekat antara pribadi satu dengan yang lain. Jarak menjadi nisbi, informasi-informasi berseliweran tanpa henti, sementara ilmu pengetahuan kehilangan pakar yang membidani. Hal ini bila tidak diimbangi dengan penanaman pendidikan karakter kepada para murid, akan menjadi seperti penggembala yang kehilangan tali kekang gembalaannya. Bangsa ini perlu dituntut oleh manusia-manusia dengan karakter-karakter yang baik agar arah kapal tiada kehilangan arah setelah layar terkembang hampir delapan dasawarsa.

Dengan demikian, tidak akan kita temui lagi persoalan-persoalan yang menyangkut kepribadian buruk manusia sehingga menjatuhkan marwah dan martabat manusia sebagai Manusia (dengan M besar) seutuhnya. Sepenuhnya. []

————- *** ————-

Tags: