Pendidikan Lingkungan untuk Keanekaragaman Hayati

Oleh:
Rachmad K Dwi Susilo
Pengajar Mata Kuliah Sosiologi Lingkungan dan Sumber Daya Alam Program Studi Sosiologi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang, Ketua Program Studi Sosiologi FISIP UMM.

Setiap tanggal 22 Mei, komunitas dunia memperingati Hari Keanekaragaman Hayati atau biodiversitas. Biodiversitas adalah keseluruhan gen, spesies dan ekosisten di suatu kawasan. Terhadap peringatan ini, Indonesia sangat berkepentingan, mengingat bangsa kita merupakan negara mega biodiversiti seperti ditunjukkan dari kekayaan hutan, lautan dan daratan.

Indonesia go.id mencatat bahwa Indonesia memiliki kekayaan hayati yaitu: 1.500 jenis alga, 80.000 jenis tumbuhan berspora, 595 jenis lumut kerak, 2.197 jenis paku-pakuan, 40.000 jenis flora tumbuhan berbiji, 8.157 fauna vertebrata dan 1.900 jenis kupu-kupu (10% dari jenis kupu-kupu dunia). Selain itu, bangsa kita memiliki 56 spesies bambu, 150 rotan yang bisa dimanfaatkan untuk furnitur, keranjang, perabotan rumah tangga, alat pertanian, kerajinan tangan dan alat-alat tradisional.

Sumber daya hayati tersebut memiliki fungsi ekologis seperti menjadi penyangga sumber daya alam lain untuk wilayah-wilayah yang berada disekitarnya. Selain fungsi ekologis, sumber hayati dimanfaatkan secara ekonomis untuk manusia seperti bahan pangan, papan dan pariwisata.

Bahan baku perusahaan farmasi atau obat-obatan juga memanfaatkan sumber daya dari hutan. Demikian, pula wanawisata mendulang banyak keuntungan dari kunjungan wisatawan.

Sementara itu secara sosial, sumber daya hayati menstimuli terlembaganya sistem pengetahuan lokal komunitas-komunitas tertentu. Mitos-mitos tertentu terbentuk dari makna sosial, persepsi dan sistem gagasan pada hutan atau danau.

Begitu besar kepentingan kita pada keanekaragaman hayati, maka begitu penting menjaganya dan merawatnya. Sumber hayati tidak boleh rusak dan selalu dilestarikan melalui berbagai lembaga/institusi di masyarakat modern.

Taman Nasional sebagai Solusi

Penetapan taman nasional di Indonesia sesungguhnya merupakan komitmen negara dalam menjaga keanekaragaman hayati karena melalui kebijakan ini kekayaan flora dan fauna yang terdapat didalamnya dilindungi negara.

Sebutlah gajah, harimau, badak dan binatang-binatang langka lain dipelihara dan tidak boleh dibunuh. Misal, Hutan Tesso Nila dengan luas 120.000 ha melindungi gajah. Demikian pula tumbuh-tumbuhan yang sulit ditemukan di lingkungan kebanyakan. Kemitmen ini sudah dimulai sejak masa Kolonial Hindia Belanda, dimana pemerintahan Kolonial ingin menunjukkan kepedulian yang sama dengan Amerika, maka pemerintah Hindia Belanda tidak mau menyamai sebagai Taman Nasional, tetapi membuat suaka margasatwa.

Konservasi ini sesungguhnya memiliki itikad baik, sayangnya, pengelolaan taman nasional masih menghadapi persoalan-persoalan lapang. Kebijakan dan aksi pemerintah seringkali belum jelas. Persepsi atas taman nasional ini belum benar, misalnya memperlakukan sebagai obyek konservasi atau eksploitasi. Tidak bisa dipungkiri otonomi daerah menyebabkan pemerintah daerah memandang taman nasional sebagai obyek eksploitasi. Jika tidak ada keuntungan pragmatis pemerintah daerah biasanya ogah-ogahan merawat taman nasional.

Pebisnis sumber daya alam juga makna lain. Praktik yang terjadi, jika daerah konservasi hayati dianalisa memiliki sumber daya alam sebagai bahan baku, maka ia akan dikapitalisasi untuk kepentingan bisnis. Konsekuensinya, sumber daya hayati semakin tidak beragam, tidak berkualitas dan setiap tahun jumlahnya kian merosot. Persoalan biodiversiti merupakan komitmen untuk pengelolaan dan kesadaran. Kita bisa simpulkan bahwa jaminan keberlanjutan sangat lemah.

Negara belum berhasil mengelola partisipasi masyarakat, padahal kesadaran masyarakat pada lingkungan hari ini sudah semakin meningkat, terbukti setiap ada pembangunan yang berpotensi merubah lingkungan fisik masyarakat langsung melakukan aksi protes dan penolakan, seperti yang terjadi baik di Purworejo, Jember maupun Pulau Komodo.

Pelembagaan Pendidikan Lingkungan

Peran masyarakat penting karena pengetahuan dan kebijakan tentang keanekaragaman hayati tidak ada artinya tanpa digerakan manusia sebagai kelompok atau komunitas penggerak aksi-aksi kolektif. Dengan aksi-aksi ini pesan ekologis yang disampaikan semakin mengena dan berefek penting.

Kita perlu menyosialisasikan bahwa persoalan sumber daya hayati adalah persoalan bersama, bukan sekedar persoalan dan tanggung jawab pemerintah. Kesadaran ini didorong pemahaman bahwa konservasi ini tidak hanya berdampak pada lokalitas tertentu, tetapi penghuni bumi manusia keseluruhan. Ingat, pelestarian hayati akan menentukan masa depan bumi milik bersama ini.

Sebagai langkah mencapai tujuan, penanaman nilai melalui institusi pendidikan menjadi penting. Institusi ini memiliki peran strategis untuk transfer pengetahuan dan kesadaran karena sesungguhnya belum banyak masyarakat yang mengetahui kekayaan taman nasional. Penyuntikkan gagasan secara terencana dan periodik melalui pendidikan akan membentuk manusia-manusia ekologis. Pendidikan sendiri memiliki karakter universal. Unsur edukasi tidak hanya di sekolah tetapi juga dirumah tangga dan bahkan di masyarakat luas.

Untuk itu, di tengah praktik kebijakan yang berlaku pada berbagai level. Pendidikan lingkungan bertujuan menanamkan pengetahuan pada pihak-pihak yang berkepentingan, makanya ia menyuplai informasi, pengetahuan dan strategi konservasi. Data-data sumber hayati bisa diperoleh dari kampus dan lembaga-lembaga pemerintah. Kalau sudah pada tahapan ini, tinggal penanaman kesadaran.

Lantas siapa yang menjalankan pendidikan ini? Lembaga-lembaga pendidikan formal maupun non formal. Pendidikan formal seperti lembaga-lembaga yang berada di bawah kemendikbud yang menyelenggarakan praktik belajar mengajar secara formal, sedangkan pendidikan non formal diselenggarakan oleh komunitas.

Materi pendidikan biodiversiti yaitu penghormatan komponen ekosistem lain, misalnya kita akan menyelamatkan flora fauna, maka yang diselamatkan hutan dan taman nasional. Jika kita ingin menyelamatkan biota yang ada di air, maka laut menjadi sasaran. Bisa dijelaskan bahwa penyelamatan biodiversity mengikutkan interaksi antara sistem fisik, sistem biologis dan sistem sosial.

Konservasi bertujuan pada penyelamatan dan pemeliharaan lingkungan maka kecintaan dan penghormatan pada lingkungan dan lingkungan menjadi muatan dalam kurikulum. Pembelajaran tidak boleh di dalam kelas secara konvensional, terkait penanaman nilai ekologis, ekowisata sesungguhnya bisa dikembangkan menjadi ajang untuk mempromosikan nilai-nilai tersebut, sayangnya belum digarap dengan baik. Paradigma Merdeka Belajar hari ini membuka peluang seluas-luasnya.

Ke depan kita perlu pikirkan strategi pembelajaran lingkungan adaptif sesuai karakter masyarakat digital hari ini. Masyarakat telah familiar dengan teknologi dari pada lingkungan alamiah seperti keanekaragaman hayati, untuk itu pendidikan masa depan yang menggabungkan antara ekologi dan teknologi menunggu banyak inovasi.

———- *** ———–

Tags: