Pendidikan Multikultural di Sekolah

Oleh:
Sri Hartati, S.Pd
Guru SMPN 16 Surabaya

Menarik sekali kala kita cermati apa yang diungkapkan Ketua PB NU KH Said Aqil Siroj. Disampaikannya bahwa agenda besar kekinian yang diangkat sebagai tema Harlah ke-96 NU adalah Menguatkan Peran Keagamaan dan Kebangsaan.

Implikasi yang paling nyata adalah Pendidikan berperan besar dalam upaya menciptakan dan menguatkan pemahaman akan keragaman dan semangat kebangsaan.

Bangsa Indonesia dikenal majemuk, ditandai dengan banyaknya etnis, suku, agama, budaya, kebiasaan, di dalamnya. Di sisi lain, masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat multikultural, yang anggotanya memiliki latar belakang budaya beragam.

Seiring dengan menggejalanya komunalisme, konflik antar suku maupun agama kerap muncul bagaikan bom waktu yang siap meledak kapan saja. Kesatuan dan persatuan abadi yang diidam-idamkan selama ini kadang terancam akan terkoyak Yang mengemuka kemudian adalah kepentingan antar suku, daerah, ras ataupun agama dengan menyampingkan realitas atau kepentingan yang lain.

Jika kita menengok sejarah Indonesia, realitas konflik sosial yang terjadi sering kali mengambil bentuk kekerasan sehingga mengancam persatuan dan eksistensi bangsa. Pengalaman peperangan antara kerajaan-kerajaan sebelum kemerdekaan telah membentuk fanatisme kesukuan yang kuat. Sedangkan terjadinya konflik sosial setelah kemerdekaan, sering kali bertendensi politik.

Ujungnya adalah keinginan suatu komunitas untuk melepaskan diri dari kesatuan wilayah negara kesatuan. Buntutnya masih terasa hingga sekarang, baik yang terjadi di Aceh dan Papua. Tanpa pendidikan karakter yang bertumpu pada Karakter Semangat Kebangsaan dan Cinta Tanah Air, maka konflik sosial yang destruktif akan terus menjadi suatu ancaman yang serius bagi keutuhan dan persatuan bangsa.

Pendidikan berperan besar dalam upaya menciptakan dan menguatkan pemahaman akan keragaman. payung hukum tentang meminialisir pelaksanaan pendidikan di Indonesia pun sudah tertuang. UU Sisdiknas no 20 tahun 2003 pada pasal 4 ayat 1 menjelaskan “Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.

Dalam konteks membangun masyarakat multikultural, selain berperan meningkatkan mutu bangsa agar dapat duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain, pendidikan juga berperan memberi perekat antara berbagai perbedaan di antara komunitas kultural atau kelompok masyarakat yang memiliki latar belakang budaya berbeda-beda.

Sejarah telah membuka mata kita bahwa munculnya banyak kasus yang destruktif dalam konteks kebangsaan, misalnya terjadinya sentimen antar etnis, perselisihan antar suku, sampai perang antar (pemeluk) agama, menunjukkan karakter kebangsaan Indonesia saat ini lemah.

Sekolah dan Tanggungjawab Character Building

Penting kiranya mengintegrasikan pendidikan karakter dengan seluruh mata pelajaran ditempuh dengan paradigma bahwa semua guru adalah pengajar karakter (character educator). Semua mata pelajaran diasumsikan memiliki misi moral dalam membentuk karakter positif siswa.

Dengan model ini maka pendidikan karakter menjadi tanggung jawab kolektif seluruh komponen sekolah. Model ini dipandang lebih efektif dibandingkan dengan model pertama, namun memerlukan kesiapan, wawasan moral dan keteladanan dari seluruh guru. Satu hal yang lebih sulit dari pada pembelajaran karakter itu sendiri. Pada sisi lain model ini juga menuntut kratifitas dan keberanian para guru dalam menyusun dan mengembangkan silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Selain itu, pelaksanaan pendidikan karakter melalui sebuah kegiatan di luar jam sekolah dapat ditempuh melalui dua cara. Pertama melalui suatu kegiatan ekstrakurikuler yang dikelola oleh pihak sekolah dengan seorang penanggung jawab. Kedua, melalui kemitraan dengan lembaga lain yang memiliki kapabilitas dalam pembinaan karakter.

Model ini memiliki kelebihan berupa pengalaman kongkret yang dialami para siswa dalam pembentukan karakter. Ranah afektif dan perilaku siswa akan banyak tersentuh melalui berbagai kegiatan yang dirancang. Keterlibatan siswa dalam menggali nilai-nilai kehidupan melalui kegiatan tersebut akan membuat pendidikan karakter memuaskan dan menyenangkan.

Pada tahap ini sekolah menjalin kemitraan dengan keluarga dan masyarakat sekitar sekolah. Masyarakat dimaksud adalah keluarga, siswa, organisasi, tetangga, dan kelompok atau individu yang berpengaruh terhadap kesuksesan siswa di sekolah.

Aspek Profan dalam Character Building

Dalam kegiatan kurikuler, diperlukan pendewasaan wawasan dalam pengajaran agama. Dalam masyarakat Indonesia yang plural dan multireligious, diperlukan usaha serius untuk membangun pemahaman agama yang tidak mengedepankan dimensi perbedaan. Diperlukan pemahan yang dapat memahami keragaman yang ada. Di sini agama sekayaknya tidak hanya diajarkan dengan menekankan pada suatu yang normatif dan sakral, tapi juga amat penting untuk mempelajari aspek yang profan. Yaitu mempelajari juga aspek historis dan penerapan sosialnya.

Beberapa agenda yang mendesak dilakukan antara lain: Mengedepankan pendekatan ilmu sosial keagamaan yang saat ini berkembang menjadi satu agenda penting yang harus diulas dalam pendidikan agama di sekolah. Pengajaran agama tidak bersifat doktrinal dangkal. Tapi juga harus diungkap sisi historis dari doktrin keagamaan yang akhirnya menambah khasanah pemahaman.

Kenyataan menunjukkan bahwa kadang pendidikan agama masih diajarkan dengan cara menafikkan hak hidup agama yang lainnya. Seakan-akan hanya agamanya sendirilah yang benar dan mempunyai hak hidup, sementara agama yang lain salah, tersesat dan terancam hak hidupnya, baik di kalangan mayoritas maupun yang minoritas. Semangat pendidikan keagamaan yang sempit ini, sudah barang tentu berlawanan secara fundamental dengan semangat pendidikan multikultural, dan akan memperlemah persatuan bangsa.

Oleh karenanya diperlukan sinergi positif antara guru agama dengan guru pengajar pelajaran lainnya. Di sini dibutuhkan diskusi -formal maupun non formal untuk saling mendukung pengajaran masing-masing bidang studi yang menitikberatkan pada pemahaman konsep multikultural, ras, etnik maupun religi.

Pendidikan agama kontemporer saat ini banyak menuai kritik. Hal ini tak lepas terlalu condongnya pendidikan agama pada aspek kognitif yang terepresentasi pada angka penilaian. Sedangkan aspek psikomotor dan afektif kurang mendapatkan perhatian. Pelajaran budi pekerti dan ahlak yang bernuansa pada penghayatan tasawuf kurang begitu ditanamkan guru dan orang tua di rumah.

Internalisasi tasawuf inilah yang akan membawa pada pendewasaan dan pematanagan berpikir dan berperilaku seperti penanaman sifat rendah hati, kesabaran, toleransi, tenggang rasa, kepuasan batiniah serta cara pikir. Pendidikan agama sebenarnya belum cukup hanya pada konsep muara moralitas individu, tapi juga harus mengarah pada moralitas publik.

Pelajaran lain yang sangat berperan adalah Sejarah dan Pendidikan kewarganegaraan (PKn). Telah tercatat dengan tinta emas dalam sejarah bangsa Indonesia, betapa persatuan dan kesatuan menjadi modal besar bagi tergapainya kemerdekaan dan kejayaan bangsa. Perjuangan kakek-nenek moyang kita yang tak memandang perbedaan keyakinan, ras, suku, budaya, telah menghantarkan kita semua sebagai satu kesatuan bangsa untuk dapat menikmati kemerdekaan 17 Agustus 1945 silam.

Belakangan, nilai esensial yang sangat penting ini kurang diperhatikan dan diingat anak bangsa. Nilai cinta tanah air dan nasionalisme yang mengedepankan kerukunan antar umat beragama, suku, ras atau golongan harus kembali direvitalisasi dalam pelajaran sejarah. Pemupukan jiwa nasionalisme menjadi agenda penting yang sangat mendesak. Nyatanya generasi muda saat ini kurang memperhatikannya. Degradasi nasionalisme menjadi satu pemandangan yang jamak kita temui pada generasi muda saat ini.

Dari berbagai treatment yang digagas penulis inilah akhirnya didapatkan visi yang sama pada seluruh staf pengajar di sekolah. Ke depan, dengan kesadaran inklusifnya para guru akan berupaya untuk mencari upaya, metode, bahan ajar yang tepat untuk dijewantahkan dalam apapun bidang studi yang diampunya. Tanpa harus diopyak-opyak, guru akan punya hidden curriculum (baca:kurikulum yang tak tertulis) untuk menanamkan satu modal besar pada terselamatkannya negara dari berbagai konflik dan perpecahan karena perbedaan ras, suku, agama atau budaya.

———- *** ———-

Rate this article!
Tags: