Peneliti Balitbang Analisis Cadangan Air Tanah

Beberapa-sample-air-sungai-dari-4-titik-di-sungai-Surabaya-diambil-untuk-mengetahui-lokasi-penyebab-pencemaranPemprov Jatim, Bhirawa
Diawali dengan pentingnya penggunaan air untuk kehidupan mahluk hidup, peneliti asal Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Jatim, Husein dengan memaparkan hasil penelitiannya berjudul ‘Analisis Cadangan Air Tanah Terhadap Perubahan Penggunaan Lahan di Jawa Timur’.
Dari dua lokasi objek penelitian yaitu Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Jember. Kalau di Kabupaten Banyuwangi di Kecamatan Licin, Songgon, Wongsorejo, Kalibaru, dan Pesanggaran, sedangkan Kabupaten Jember di Kecamatan Puger, Balung, Kali Wates, Kalisat, dan Sumberjambe.
‘Dari hasil penelitian selama 9 bulan ini, ternyata rata-rata kecamatan yang menjadi objek penelitian tersebut ternyata kebutuhan air bersihnya masih terpenuhi. Kalau di Kecamatan Kalibaru di Kabupaten Banyuwangi masih membutuhkan bantuan dari Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral setempat untuk penyediaan air bersih,” katanya, (18/12).
Sementara, lanjutnya, upaya mengatasi agarĀ  cadangan air tanah tetap stabil debit airnya maka strateginya adalah harus ada aksi atau gerakan penanaman pohon pada kawasan lahan hutan yang telah gundul melalui Dinas Perkebunan dan Kehutanan bekerjasama dengan Perhum Perhutani KPH baik Jember dan Banyuwangi.
Menurutnya, analisis cadangan air tanah terhadap perubahan penggunaan lahan di Jember dan Banyuwangi harus ada komitmen yang kuat dari pemerintah dalam hal ini Pemkab/kota, Badan Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) dan Perum Perhutani. Diantaranya Pemkab/kota harus mengembangkan kawasan hijau minimal 30 persen dari luasan wilayahnya.
“Proses pengawasan terhadap penebangan pohon harus tercatat dengan jelas dan dilaporkan ke kepala daerah baik Bupati/Walikota hingga Gubernur. Tak hanya pengawasan, namun pendistribusiannya juga harus jelas,” tandasnya.
Dikatakannya dengan adanya metode membandingkan antara hasil perhitungan kebutuhan air besih terhadap hasil perhitungan imbuhan air tanah sebagai cadangan air yang tersedia, maka bisa diketahui daerah mana saja yang belum atau sudah terpenuhi kebutuhan air bersihnya.
“Hasil perhitungan berdasarkan tiga parameter yaitu curah hujan, luas wilayah kecamatan, dan jumlah penduduk,” katanya bersama Kabid Teknologi dan Sumberdaya Alam, Asri Harjati.
Dalam kesempatan ini, ia mengungkapkan rekomendasi baik jangka panjang dan jangka menengah. Rekomendasi jangka panjang yaitu melangsungkan kegiatan reboisasi yang rutin dan terpantau jelas. Sedangkan jangka pendeknya yaitu memberikan suplai air besih pada daerah yang terkena kekeringan atau krisis cadangan air, dan menegaskan pada Pemkab/Kota agar melarang keras adanya praktek penebangan liar.
Sebelumnya seminar tersebut juga membahas mengenai limbah tahu sari air laut yang bisa mencapai zero waste dalam pengolahannya, dan membahas mengenai optimalisasi sumberdaya kawasan guna meningkatkan produk unggulan. [rac]

Tags: