Pengacara Terdakwa Beberkan Bukti Didepan Majelis Hakim PN Surabaya

(Dugaan Perkara Penipuan Penggelapan Rp5 Miliar)
PN Surabaya, Bhirawa
Sidang perkara dugaan penipuan penggelapan senilai Rp5 miliar dengan terdakwa Imam Subarkah kembali disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (9/1).
Persidangan nampaknya sedikit memanas lantaran aduh argumen antara pengacara terdakwa dengan Majelis Hakim PN Surabaya.
Sama seperti sidang lainya, persidangan dengan agenda menghadirkan saksi pelapor, yakni Teguh Wiyono berjalan biasa. Saksi menerangkan pada majelis Hakim mengapa dirinya melaporkan Imam dengan tuduhan melakukan penggelapan uang senilai Rp5 miliar.
Persidangan seketika berubah saat tiba giliran pengacara terdakwa diberikan kesempatan Ketua Majelis Hakim Pujo Saksono. Dua pengacara terdakwa pun mengambil kesempatan itu, untuk mengkonfrontasi keterangan dengan data yang dimilikinya.
Pengacara terdakwa, Ronald Armada, sempat mempertanyakan status uang Rp5 miliar yang diberikan pelapor pada terdakwa. Dari data yang dimilikinya, uang Rp 5 miliar tersebut tercatat sebagai utang dalam perusahaan pelapor. Namun, hal itu dibantah oleh saksi pelapor dan mengatakan jika uang tersebut bukan utang dan merupakan uang yang diminta terdakwa untuk mengurus perizinan yang diperlukan untuk bisnisnya.
“Jadi saya tanya pada saudara, uang itu utang atau apa,” tanya Ronald, Kamis (9/1).
Belum sampai dijelaskan terdakwa, Hakim anggota, Mashuri Efendi, memotong lebih dulu. “Kan sudah dijawab tadi sama saksi kalau itu uang untuk mengurus SKEP yang diminta terdakwa,” timpalnya.
Ronald pun menjawab pertanyaan Hakim “Mohon izin majelis, berdasarkan data yang saya peroleh dari Polda, uang itu tercatat sebagai utang,”.
Hakim pun menjawab sanggahan Ronald “Iya, tapi itu persoalan lain. Tapi kan sudah dijawab bahwa itu uang untuk mengurus SKEP. Anda tetap pada keterangannya kan?,” tanya Hakim menunjuk pada saksi Teguh, dan dijawab anggukan membenarkan.
“Baik, kalau begitu saya bertanya, bisakah anda memperlihatkan, pembukuan perusahaan, ini untuk…” ujarnya, kemudian dipotong lagi oleh Hakim.
Hakim pun menyanggah kembali pertanyaan pengacara terdakwa. “Sebenarnya itu perkara lain ya, tapi terserah pada saksi mau atau tidak,” ujar Hakim yang dijawab gelengan kepala sebagai tanda tidak mau.
Perdebatan ini pun berakhir setelah Majelis Hakim mengetok palu tanda berakhirnya sidang.
Ditemui diluar sidang, Ronald pun mengungkapkan kekecewaannya atas perjalanan sidang tersebut. Ia menyatakan, awalnya terdakwa Imam melaporkan lebih dulu saksi Teguh, karena melakukan penggelapan terkait pengelolaan keuangan perusahaan yang tidak pernah dilaporkan.
Pada saat itu, Teguh sudah ditetapkan sebagai tersangka. Namun entah mengapa, tiba-tiba Polda mengeluarkan SP3 (surat pemberitahuan penghentian penyidikan), dengan alasan kurang alat bukti. “Padahal kalau sudah ditetapkan sebagai tersangka kan alat buktinya sudah cukup. Ketika diperiksa di Polda, Polisi memerintahkan audit. Audit dari Teguh sendiri yang menyatakan sebagai utang. Bukti ini bukan dari saya loh, bukti ini dari Polda sendiri,” ungkapnya.
Untuk diketahui, Imam Subarkah didakwa telah melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan uang perusahaan milik pelapor Teguh Wiyono sebesar Rp5 miliar. Uang itu disebut sebagai uang untuk mengurus perijinan bisnis pelapor.
Namun, karena merasa uang yang telah diberikan pelapor pada terdakwa tidak dapat dipertanggungjawabkan, terdakwa pun dilaporkan ke polisi. Atas kasus ini, terdakwa dijerat jaksa dengan pasal 372 dan 378 KUHP tentang tindak pidana penipuan dan penggelapan. (bed)

Tags: