Pengelana Itu Bertemu Habib Thailand

Oleh:
Rio F. Rachman

Safar Batutah menumpaskan bir dari dalam botol bercap Singa saat langkah kakinya memasuki pelataran bandara Bangkok. Di memasukkan botol tersebut ke salah satu bak sampah yang ditempeli keterangan bergambar botol kaca. Tatkala mencapai bangku terdekat, dia duduk dan menarik nafas panjang beberapa kali. Sekadar ingin lebih mengenakkan badan.

Penerbangannya masih lima jam lagi. Menuju Jakarta. Dari sana, Safar Batutah berencana naik bis ke beberapa kota hingga sampai di Surabaya, tempatnya bekerja. Dia masih belum ingin pulang ke kampungnya di Mojokerto. Safar Batutah sedang malas menghadapi pertanyaan yang lumrah dihadapi lajang 35 tahun seperti dirinya: Kapan nikah?

Diletakkannya tas ransel di lantai. Pikirannya melayang pada percakapan tadi malam. Kali ini, Safar Batutah menginap di sebuah asrama guru Sekolah Melayu di tepi kota Bangkok. Kawannya, seorang guru bahasa Inggris di sana. Oleh karena kawannya kedatangan dua tamu hari itu, Safar Batutah dan seorang kerabat dari kawan tersebut, kawan itu menawarkan Safar Batutah untuk tidur di kamar seorang guru agama. Sebab bila tidur bertiga di kamar kawan tadi, dikuatirkan mereka jadi tidak atau kurang bisa nyaman.

Safar Batutah tidak bisa mengelak. Apalagi, guru agama bernama Habib yang baru dikenalnya, tergolong ramah dan gampang membaur. Nah, pada malam itu, sebelum Safar Batutah terlelap, dia berbincang pendek dengan Habib.

——– *** ——-

Jarum jam menunjukkan pukul sembilan kurang sepuluh menit. Pinggir kota Bangkok cukup dingin malam itu. Safar Batutah baru membuka botol bercap Singa dan mereguk setengah dari isinya. Saat terdengar orang melangkah menuju kamar, Safar Batutah bergegas menyembunyikan sisa bir dalam botol yang dia beli di pasar pada siang harinya tersebut, di tas ransel.
“Belum tidur, Bang Safar?” sapa Habib, guru agama yang baru dikenalnya sore tadi.
Di Sekolah Melayu itu, mayoritas beragama Islam. Semua yang di sana berbahasa melayu. Sekolah itu dikhususkan bagi anak-anak orang Melayu yang orangtuanya bekerja di Bangkok.
“Saya tidak biasa tidur di bawah jam sepuluh malam. Selelah apapun badan, saya tak bisa tidur sebelum jam sepuluh. Jam berapapun saya tidur, jam lima pasti bangun. Sudah kebiasaan,” kata Safar Batutah diiringi senyum.
Safar Batutah adalah seorang pengelana. Kebetulan memang, dalam bahasa Arab, Safar memiliki makna yang berhubungan dengan perjalanan. Sedangkan Batutah, diambil orangtuanya dari nama seorang penjelajah yang konon beragama Islam, Ibnu Batutah. Mungkin orangtuanya memang menginginkan Safar Batutah menjadi seorang petualang religius di suatu waktu kelak. Walaupun kenyataannya, hingga usia 35 tahun, Safar Batutah hanya menjadi backpacker ulung. Soal semangat keislaman, gairah di dadanya masih tipis. Mungkin suatu waktu nanti menebal. Namun saat ini, memang sekadar beberapa helai yang menggaris di hatinya.
Safar Batutah hanya sembahyang ke masjid kalau ingat dan tak malas. Khususnya, kalau hari raya. Safar Batutah hanya puasa kalau pas lagi suka saja. Dan yang paling ekstrim, Safar Batutah masih hobi menenggak bir.
“Bang Safar sudah belasan tahun jadi backpacker?” Habib kembali melontarkan pertanyaan singkat.
“Kebetulan sejak SMA, kalau pas libur, saya sangat jarang di rumah. Awalnya jalan-jalan di seputar Jawa Timur. Pas kuliah, mulai ke luar pulau bahkan luar negeri. Sekarang tinggal benua Afrika saja yang belum saya tapaki,” papar Safar Batutah yang memiliki akun website backpacker internasional demi memerlancar semua perjalanannya selama ini. Kebetulan, salah satu guru bahasa Inggris Sekolah Melayu di pinggiran Bangkok itu, yang adalah rekan kerja Habib, adalah kawannya sesama anggota grup di website tersebut.
“Wah memukau benar Bang Safar ini. Pernah Bang Safar ke Mekkah, Arab Saudi sana?” pertanyaan Habib kali ini terasa menyerbu.
Safar Batutah terpukul dengan pertanyaan itu. Dia tidak bisa langsung menjawab. Matanya menatap langit-langit. Lalu, dibenamkan ke lantai.
Benar, dia belum pernah ke tempat suci umat Islam itu. Sementara di satu sisi, Safar Batutah masih merasa beriman pada agama tersebut. Meski di banyak kesempatan, saat ditanya apa agamanya, Safar Batutah lebih memilih untuk menjawab: agama saya kebaikan.
“Belum. Saya belum ke sana,” ringkas Safar Batutah.
“Saya pikir, Bang Safar perlu ke sana. Sayang rasanya, sudah ke mana-mana tapi belum ke sana. Saya suka mengajar. Biar makin dekat saya pada Tuhan, saya mengajar agama. Walaupun sejatinya, mengajar apapun jua, hakikatnya ilmu dari Tuhan belaka. Sama saja konteksnya dengan Bang Safar. Bang Safar suka jalan-jalan. Nikmat sekali. Apalagi kalau jalan-jalannya makin mendekatkan diri pada Tuhan. Ke Mekkah, mungkin salah satu caranya,” ungkap Habib sambil tersenyum.
“Tak ada maksud saya menceramahi Bang Safar. Percakapan ini hanya omong basa-basi semata. Maaf sekali bila tak berkenan,” sambung Habib.
“Ah tidak. Tidak ada yang tidak berkenan. Saya malah suka dengan pertanyaan sekaligus pemikiran seperti itu. Mengingatkan saya untuk ke sana. Tampaknya memang menarik kalau berpetualang ke sana,” jawab Safar Batutah mencoba untuk menyelimuti keresahannya akan ucapan teman baru tersebut. Tak lama, Habib pamit tidur karena mengaku tidak kuat begadang. Saat pagi, Safar Batutah pamit pada Habib untuk ke bandara.

—— *** ——–

Safar Batutah melihat sekeliling. Ramai benar bandara Bangkok ini. Pesawat ke Jakarta yang akan ditumpanginya mesti terbang beberapa jam mendatang. Namun idealnya, Safar Batutah sudah melangkah menuju loket check in. Kalau perlu, dia sudah di gedung ruang tunggu.
Kepala Safar Batutah masih dihantui pertanyaan berbau agamis dari Habib. Yang kalau diturunkan, mirip dengan pernyataan-pernyataan kelompok hijrah, “Ke Gunung sanggup, ke masjid dekat rumah kok tidak mampu,”
Sejurus kemudian, Safar Batutah berjalan menuju loket check in penerbangan internasional. Safar Batutah merenung, seharusnya di usia seperti ini, dengan pengalaman yang begitu luas di bidang pengelanaan, dia harus mulai merasa cukup dan sudah mulai menapak jalan tobat. “Mungkin aku harus mulai jelajah dan ziarah wali-wali,” dia berguman sambil tersenyum sendirian.
Saat pikiran sedang berkecamuk seperti itu, Safar Batutah kerap butuh asupan minuman beralkohol. Tapi di bandara Bangkok, harganya pasti tinggi. Otaknya langsung membayangkan botol bir bercap bintang yang bisa lebih murah dibelinya di Jakarta. Alamak!(*)

Rio F Rachman
Lahir di Kotawaringin Timur 21 Februari 1988. Alumnus Jurusan Sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya. Penulis buku kumpulan puisi Balada Pencatat Kitab (2016), kumpulan cerita pendek Merantau (2017), kumpulan puisi Dari Tepi Mentaya Sampai Bukit-Bukit Di Soekarno-Hatta (2020). Saat ini tercatat sebagai pengajar di Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang.

Rate this article!
Tags: