Pengembangan Pendidikan Masa Depan

Rahmawati Khadijah Maro

Oleh :
Rahmawati Khadijah Maro, Dosen FKIP Universitas Muhammadiyah Malang

Pandemi global Covid-19 telah membuat dunia pendidikan beradaptasi dengan mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran. Salah satunya, adalah diterapkannya proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) sebagai pengganti pembelajaran tatap muka (PTM) sebagai upaya untuk memutus mata rantai penyebaran, penularan dan penambahan kasus pasien Covid-19. Namun, setelah menimbang berbagai kekurangan dan hambatan dari pelaksanaan PJJ setelah lebih satu tahun proses PJJ pemerintah melalui Kemendikbud Ristek memutuskan mulai menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas untuk tahun ajaran baru 2021/2022 mendatang.

Dilema PTM Terbatas
PTM terbatas yang akan digelar di tahun tahun ajaran baru 2021/2022 mendatang merupakan bagian dari keputusan pemerintah. Mengenai pelaksanaannya pemerintah telah mengeluarkan panduan penyelenggaraan pembelajaran di masa pandemi Covid-19 yang tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri yang diluncurkan pada Maret 2021. Pada 2 Juni 2021, Kemendikbud-Ristek, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Agama juga telah meluncurkan panduan penyelenggaraan pembelajaran untuk Pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan menengah (PAUDDIKDASMEN).
Melihat realitas tersebut, maka tidak salah jika bangsa dan negeri inipun terus berinovasi untuk mensiasati proses pembelajaran yang ideal ditengah pandemi global Covid-19 sebagai upaya untuk memotong rantai penyebaran, penularan dan peningkatan angka kasus covid-19 di negeri ini. Sehingga, tidak heran jika Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terus melakukan upaya pengawasan persiapan PTM di 49 sekolah pada 21 kabupaten/kota di 9 Provinsi. Adapun 9 provinsi tersebut adalah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Daerah Istimewa Yogjakarta, Bengkulu, dan NTB. Hasil pengawasan tahun 2020 menunjukkan ketidaksiapan sekolah sebanyak 83,3%, dan hanya 16,7% sekolah yang siap PTM di masa pandemi, (Kompas, 7/6/2021).
Sedangkan pada tahun ini KPAI yang penulis langsir dari detik.com (7/6/2021) sudah melakukan pengawasan ke 42 sekolah pada 12 kabupaten/Kota di 7 provinsi. Pengawasan PTM dibantu mitra KPAI di daerah. Adapun hasilnya menunjukkan peningkatan kesiapan PTM yang mencapai 79,54%, dan yang belum siap hanya 20,46%. Namun, kendati demikian kesehatan dan keselamatan anak tetap menjadi prioritas utama dalam PTM terbatas.
Oleh sebab itu berbagai solusi, strategi dan inovasi pembelajaran pun terus dicari dan diupayakan oleh pemerintah guna mendapatkan teknis pembelajaran yang ideal di tengah pandemi dan masa depan. Pasalnya, di situasi pandemi covid-19 yang belum juga jauh dari kata selesai masih banyak orang tua yang sangat mengkhawatirkan bahwa PTM di masa pandemi tidak aman bagi anak. Hal tersebut secara tidak langsung merupakan dilemma dari PTM terbatas.
Mengingat hal tersebut, maka ada baiknya kalau Belajar dari Rumah (BDR) atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bisa diperbaiki agar dapat melayani semua anak dan mengatasi turunnya kualitas pendidikan. Selama pandemi, sekolah harus menerapkan PJJ dan PTM secara bergiliran, oleh karena itu pemerintah harus terus menerus mengevaluasi dan memperbaiki PJJ dengan melakukan pemetaan kesenjangan akses digital antar sekolah dan antar daerah, serta pemetaan variasi PJJ atau BDR antar sekolah dan antar daerah

Pembelajaran berbasis teknologi
Pengembangan pendidikan melalui model pembelajaran berbasis teknologi informasi merupakan suatu keharusan agar standar mutu pendidikan dapat ditingkatkan, karena melalui model pembelajaran berbasis teknologi informasi merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas.
Oleh sebab itu, tidak heran jika pembelajaran berbasis teknologi perlu mendapat perhatian tersendiri agar BDR atau PJJ bisa diperbaiki sehingga dapat melayani semua anak dan mengatasi turunnya kualitas pendidikan di negeri ini. Melalui tulisan opini inilah penulis berusaha menawarkan beberapa alternatif solusi agar proses pembelajaran berbasis teknologi itu menarik bagi peserta didik.
Pertama, membangun support system atau dukungan system untuk membangun interaksi dari proses pembelajaran yang sudah dilakukan. Misal, siswa membuat kelompok belajar. Dengan sistem pendukung ini, siswa dapat melakukan diskusi untuk memperdalam atau menguji materi pelajaran. Kalau memang dirasa perlu dapat bertanya kembali kepada guru di sekolah.
Kedua, repetisi atau banyak mengulang agar proses pengendapan hasil belajar dapat optimal. Misal mengulang kembali melihat video pembelajaran atau juga mengerjakan soal-soal yang tersedia.
Ketiga, dukungan orangtua. Dukungan orangtua tetap menjadi hal penting dalam pembelajaran online. Dukungan orangtua selalu menjadi penyemangat anak dalam belajar. Orangtua dapat menjelaskan pemanfaatan teknologi kepada anak untuk mendukung proses belajar mereka.
Keempat, kreativitas pendidik. Belajar online bisa sangat engaging, menyenangkan, dan bermakna. Kuncinya ada pada kreativitas yang dibangun tenaga pengajar. Oleh sebab, tenaga pengajar dituntut untuk selalu mengembangkan kreativitas, agar peserta didik dapat berinteraksi secara terbuka, baik dengan guru maupun teman-temannya. Selain itu, proses belajar-mengajar, perlu menggunakan banyak pendekatan dan inovasi. Misalnya tentang manajemen kelas maupun pedagogi.
Berangkat dari keempat ide alternatif yang penulis tawarkan agar proses pembelajaran berbasis teknologi itu menarik bagi peserta didik tersebut diatas, maka kemungkinan besar jika diaplikasikan dengan baik dan maksimal maka pembelajaran yang terintegrasi dengan perangkat teknologi digital akan menjadi ciri khas pembelajaran masa depan. Oleh karenanya, belajar online akan berpotensi tetap menjadi alternatif pendidikan di masa depan. [*]

Rate this article!
Tags: