Penguatan Nilai Pancasila Sejak di Rumah

Oleh: :
Rio F Rachman
Dosen Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Ada banyak sorotan tentang minimnya gairah patriotisme di kalangan kaum muda kekinian. Salah satunya tersaji dalam salah satu episode bincang-bincang di kanal YouTube Gita Wirjawan, menteri perdagangan 2011 sampai 2014, yang rilis kali pertama pada 17 Februari 2021 silam. Sementara itu, patriotisme dan kepedulian pada semua aspek kenegaraan termasuk politik, tidak bisa dilepaskan dari pengenalan terhadap nilai-nilai pancasila.

Riset mengenai pentingnya penguatan wawasan pancasila sudah banyak dilaksanakan. Kecintaan terhadap ideologi bangsa harus dilakukan agar keberagaman terikat erat (Pentingnya Pancasila Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, Syamsudin, 2019). Mengingat, warga negara Indonesia punya latar belakang yang majemuk. Terlebih, di era globalisasi yang membuat batas-batas geografis tertembus melalui internet atau dunia maya. Budaya bangsa mesti diperkuat di segala lini dan dengan cara bagaimana pun jua (Pentingnya Komunikasi Sosial Budaya Di Era Globalisasi Dalam Perspektif Nilai Pancasila, Kaswadi, Dkk, 2019).

Tidak terbantahkan, pancasila mesti menjadi modal dasar kehidupan tiap warga negara. Di dalamnya tarkandung banyak muatan fundamental, antara lain, ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan permusyawaratan, dan keadilan. Pengenalan terhadap nilai-nilai itu seharusnya sudah ditanamkan sejak dan selama di rumah. Sehingga saat seseorang atau anak itu tidak di rumah, semangat luhur itu tetap melekat.

Artikel ini memiliki ruang lingkup anak usia dini dan atau anak usia sekolah dasar. Artinya, diskusi dan pembahasan berkenaan dengan bagaimana menanamkan nilai pancasila dari rumah terfokus bagi mereka yang sedang dalam usia emas tersebut. Sebab, tatkala pendidikan karakter dibangun sejak kecil, kekokohan pondasinya pun lebih terjaga.

Bila membahas tentang upaya edukasi sejak di rumah, yang punya domain paling dominan adalah orang tua. Baik ayah dan Ibu, maupun orang-orang yang dituakan, semisal kakek, nenek, paman, dan lain sebagainya. Artinya, mereka yang lebih tua, yang tentu lebih paham mengenai pancasila dibandingkan anak-anak di rumah tersebut, mesti bertanggungjawab.

Pada zaman sekarang, banyak anak-anak yang sudah akrab dengan gawai terkoneksi internet. Jika orang tua tidak menanamkan ideologi luhur pancasila sejak dini, bukan tidak mungkin, prinsip dasar mereka telan malah kultur asing yang menyimpang. Oleh sebab itu, orang tua tidak boleh lepas tangan dan hanya melimpahkan kewenangan pada pihak sekolah.

Pembelajaran tentang nilai pancasila dapat dilaksanakan senyampang anak-anak melakukan aktifitas sehari-hari. Pandangan tentang urgensi aspek ketuhanan dapat disampaikan melalui arahan agar mereka rajin berdoa. Misalnya, mereka diajari untuk rutin melafalkan doa sebelum tidur, saat akan masuk kamar mandi, sebelum makan, dan di momen-momen lainnya.

Seorang individu yang paham dan menghayati soal konsep ketuhanan, akan lebih mudah menghadapi kehidupan. Dia akan memiliki semangat juang sekaligus kepasrahan pada Sang Pencipta. Dengan demikian, jalan hidup yang ditapaki tidak akan ngawur. Hubungannya dengan manusia lain pun relatif bisa dikendalikan karena bisa sewaktu-waktu dihubungkan dengan spirit ilahiah.

Nilai kemanusiaan bisa ditanamkan dengan memberi arahan pada anak-anak agar saling menyayangi. Misalnya, dengan cara memberitahu mereka agar sayang pada saudara, teman, bahkan orang tua. Kemanusiaan akan tumbuh melalui semangat kasih sayang. Tatkala ada pihak yang perlu bantuan, ajaklah anak untuk menyaksikan kegiatan-kegiatan penuh kepedulian tersebut. Anak-anak bisa belajar melalui apa yang mereka saksikan.

Perspektif persatuan bisa diasah dengan mengenalkan anak-anak pada permainan yang melibat lebih dari satu orang. Ada banyak permainan semacam itu, mulai dakon, lompat tali, kejar-kejaran, dan lain sebagainya. Sambil mengajari mereka bermain, orang tua dapat sekaligus memberi petuah soal bagaimana asyiknya kerja sama.

Secara tidak langsung, arti penting persatuan akan tertanam. Hal semacam ini mesti dilakukan berkelanjutan. Pemahaman ini dapat dimasukkan ke otak mereka secara bertahap. Muaranya, anak bisa paham tentang semboyan bineka tunggal ika atau berbeda-beda tapi tetap satu.

Sementara itu, secara makro, kerakyatan permusyawaratan berhubungan erat dengan musyawarah mufakat di level legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Sedangkan secara mikro, bisa terimplementasikan melalui laku diskusi dalam lingkup keluarga. Diskusi demi mencapai keputusan, yang menyangkut kepentingan keluarga atau lebih dari satu orang dalam keluarga tersebut.

Sebagai contoh, mendiskusikan mau jalan-jalan ke mana atau memilih menu sarapan apa. Anak-anak bisa dilibatkan. Anak-anak perlu dilatih untuk menyampaikan pendapat dan mendengarkan pendapat pihak lain. Spirit musyawarah harus sudah disemai sedini mungkin. Harapannya, anak tidak egois dan mau menerima masukan dari orang lain.

Ada pun poin keadilan bisa dibentuk melalui bagaimana orang tua memperlakukan anak-anak di rumah. Orang tua tidak boleh membeda-bedakan perlakuan substansif pada anak. Memang, aplikasi mungkin berbeda antar si sulung, si tengah, atau pun si bungsu. Maksudnya, tidak mungkin memberi uang saku atau mainan yang sama pada anak-anak yang usia atau tingkatan sekolahnya berbeda. Meski demikian, substansi atau esensi kasih sayang dan perhatian mesti tetap diberikan secara seragam.

Anak juga perlu dinasihati soal konsep keadilan. Salah satu yang bisa ditempuh, meyakinkan mereka bahwa semua teman adalah sama-sama mesti disayangi. Jangan karena ada teman yang berbeda kemampuan, suku, agama, maupun warna kulit, perlakuan pada mereka pun dibedakan secara diskriminatif. Terpenting, anak tidak boleh terbiasa meremehkan orang lain.

———- *** ———–

Tags: