Pengusaha SPBU Keberatan Penurunan Harga BBM

Foto: ilustrasi

Foto: ilustrasi

Surabaya, Bhirawa
Turunnya harga Premium beberapa waktu lalu, berpengaruh terhadap pengusaha Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di seluruh Indonesia. Penurunan harga premium tersebut berlangsung cukup cepat dan tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.  Sehingga kerugian pun tak terhindarkan, karena ada beberapa pemilik SPBU yang membeli BBM pada tanggal 30-31 Desember masih mendapatkan harga Rp.8500/ liter.
“Kemarin 30 Desember 2014, kita mengorder pembelian Premium pada harga Rp8.500/ liter. Pas memasuki tahun baru 1 Januari 2015, Presiden Jokowi mengumumkan bahwa harga Premium dan Solar mengalami penurunan harga. Reaksi pertama, saya langsung terkejut saya sempat memegang jidat karena keputusan tersebut saya anggap merugikan. Dan itu bukan hanya saya saja, tetapi seluruh pemilik SPBU yang ada di Indonesia,” ujar Pratikno pemilik SPBU di Jemursari, Surabaya Selasa (13/1) kemarin.
Ia melanjutkan, dengan penurunan tersebut dirinya mengalami kerugian puluhan juta rupiah. Selain kerugian, kebijakan yang dibuat pemerintah tersebut akan merepotkan pengusaha SPBU. “ Apalagi,  saat ini pemerintah telah melepas kebijakan penjualan premium mengikuti pasar minyak dunia. Hal ini tentu membuat pengusaha SPBU membuat semakin repot saja, karena harga setiap dua minggu mengalami fluktuasi naik dan turun,” jelasnya.
Selain itu, perubahan harga tiap dua minggu sekali, posisi stok yang dimiliki pengusaha SPBU berubah-ubah, bisa lebih mahal atau lebih murah. Menurut dia, pengusaha SPBU memang akan untung jika membeli stok saat harga murah, lalu pada perubahan dua mingguan, harga Premium dinyatakan naik. “Kalau harga nebus lebih mahal dibanding harga jual dan ini terjadi terus menerus bisa tutup SPBU karena rugi,” katanya.
Bukan hanya kerugian dari sektor Premium dan Solar, Pratikno juga mengalami kerugian dari penjualan Pertamax yang juga terimbas mengalami penurunan. “Seperti halnya Pertamax yang mengikuti harga Premium, jika harus turun maka ikut turun pula. Premium juga mengikuti mekanisme seperti harga Pertamax, walaupun keuntungan pengusaha SPBU saat ini meningkat 17%,” terangnya.
Ia berharap, Pertamina memberitahu beberapa hari sebelumnya jika terjadi perubahan harga BBM baik Premium maupun Pertamax. Sehingga pemilik SPBU bisa menghitung berapa stok BBM yang diperlukan. “Kami mengharapkan Pertamina bisa memberitahukan kepada kami perubahan harga beberapa hari sebelumnya, biar teman-teman (pengusaha SPBU) bisa hitung stok yang pas. Jadi kalau harganya mau turun kita tidak numpuk stok banyak-banyak, biar ruginya nggak banyak juga,” tutupnya. [wil]

Tags: