Penjualan Sapi di Pasar Hewan Tulungagung Tak Terpengaruh Kasus Antraks

Sapi-sapi di Pasar Hewan Tulungagung saat ini dijamin tidak ada yang berasal dari Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo.

Tulungagung, Bhirawa
Kasus penyakit antraks di Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo tidak mempengaruhi penjualan sapi di Kabupaten Tulungagung. Penjualan sapi di Pasar Hewan Tulungagung tetap normal dan stabil, Kamis (10/6).

“Tidak ada pengaruh sama sekali. Tetap normal,” ujar Kolik Riski Efendi, salah seorang pedagang sapi di Pasar Hewan Tulungagung.

Ia bahkan tetap melakukan pengiriman sapi ke berbagai kota di Jawa, termasuk Surabaya. “Kalau pun ada penurunan dari tahun 2019 itu bukan karena kasus antraks, tetapi lebih disebabkan pandemi Covid-19,” sambungnya.

Kolik yang mengaku berasal dari Kecamatan Ngunut itu selanjutnya menyatakan akhir-akhir ini sejak Idul Fitri mulai ada peningkatan penjualan ternak sapi. Kenaikan penjualan sapi terdongkrak banyaknya hajatan di bulan Syawal (penanggalan Islam) yang dianggap sebagai bulan baik.

“Banyak hajatan seperti mantenan. Mudah-mudahan ini berlanjut terus sampai Idul Adha,” tuturnya.

Saat ini untuk sapi pejantan berukuran sedang yang biasa untuk qurban di Idul Adha, harganya dikisaran antara Rp 20 juta sampai dengan Rp 25 juta. Sama seperti tahun lalu. “Tetapi kalau sapi yang beratnya sampai mencapai 1 ton itu harganya bisa Rp 100 jutaan,” bebernya.

Hal yang sama dikatakan Darmaji, pedagang sapi lainnya di pasar hewan yang buka setiap hari pasaran Pahing ini. Menurutnya, permintaan sapi dan harganya tetap normal seperti tahun lalu tanpa ada pengaruh kasus antraks.

“Penjualan untuk sekarang memang menurun. Tetapi bukan karena kasus antraks. Lebih disebabkan daya beli masyarakat yang menurun akibat pandemi Covid-19. Apalagi banyak petani yang sekarang juga memelihara sapi,” paparnya.

Sementara itu, Koordinator Pasar Hewan Tulungagung, Suharmanto, menyatakan penjualan sapi di setiap hari pasaran saat pandemi Covid-19 masih sekitar 600 ekor. Saat ini pun belum berubah meski ada kasus antraks di Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo. “Jadi tidak ada penurunan akibat kasus antraks,” katanya.

Namun demikian, lanjut dia, kasus antraks, tetap menjadi antensi dirinya. Ia selalu mengingatkan pada semua pedagang ternak, utamanya pedagang sapi di Pasar Hewan Tulungagung untuk melaporkan jika ternak yang dijajakannya sakit.

“Kalau ada sapi yang tiba-tiba roboh, terus ada luka bolong dan hitam, harus segera lapor ke petugas. Kami akan evakuasi,” tandasnya.

Suharmanto menjamin ternak sapi atau pun kambing yang diperdagangkan di Pasar Hewan Tulungagung saat ini tidak ada yang berasal dari Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo. “Sapi dari Desa Sidomulyo kan juga sudah tidak bisa keluar dari desanya. Di setiap hari pasaran Pahing juga ada petugas dari Dinas Peternakan datang ke sini. Mereka pun menjemput bola mendeteksi dini apakah ada sapi yang datang dari Pagerwojo,” pungkasnya. (wed)

Tags: