Pentingnya Pendidikan Keluarga di Masa Pandemi

Oleh :
Kabul Trikuncahyo
Guru SDN 1 Puru, Trenggalek.

Pandemi Covid 19 setahun melanda di Indonesia belum ada tanda-tanda yang menunjukkan penurunan. Karena jumlah yang terinfeksi masih fluktuatif sehingga tingkat resiko penularan yang semula rendah tiba-tiba bisa berubah menjadi tinggi. Kebijakan untuk membuka sekolah akhirnya diurungkan kembali, sekolah tetap ditutup sampai dengan waktu yang tidak menentu. Dengan penutupan sekolah tentu merubah sistem belajar yang semula tatap muka, siswa dan guru dapat berinteraksi kini menjadi terbatas. Hanya melalui jaringan sehingga menimbulkan keresahan orang tua siswa. Alasannya beragam dan masuk akal, alasan tersedotnya biaya untuk pulsa dan ketidakmampuan orang tua untuk “menggantikan” peran guru di rumah. Sehingga banyak kasus kekerasan terhadap anak secara fisik atau verbal. Karena tidak patuhnya anak terhadap perintah orang tua, selain itu orang tua tidak mampu menggunakan metode dan kurangnya penguasaan materi pembelajaran.

Model pembelajaran jarak jauh yang terpaksa harus dilaksanakan memberikan beban yang luar biasa bagi orang tua. Dengan menggunakan media digital, orang tua di tingkat sekolah dasar merasa kesulitan untuk menggunakan beragam aplikasi yang dimanfaatkan guru untuk menyampaikan materi pembelajaran. Maklum saja, orang tua siswa masih mayoritas kelompok urban teknologi, mereka masih tahap belajar dengan tool aplikasi yang baru dalam kehidupan. Belum lagi model pembelajaran daring sangat terkesan dipaksakan oleh situasi di dalam ketidakpastian. Tuntutan materi pembelajaran harus tetap tersampaikan tetapi ancaman keganasan virus menghantui.

Hal ini juga dirasakan dengan lambatnya respon Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memberikan bantuan pulsa internet kepada siswa. Meskipun di pertengahan tahun bantuan kuota diberikan juga. Belum lagi muatan kurikulum yang sulit untuk diterapkan dengan model jarak jauh. Kembali lagi Kementerian juga dinilai lambat untuk memfasilitasinya. Pada akhirnya selang empat bulan dikeluarkanlah paanduan pembelajaran di masa pandemi dengan kebebasan guru memilih memodifikasi kompetensi dasar (KD), memilih KD esensial atau memang harus menyelesaikan keseluruhan KD. Hal itu diberikannya keleluasaan kepada sekolah untuk menentukan dengan memperhatikan situasi dan kondisi daerah, sekolah dan kondisi siswa. Guru tidak lagi harus menyelesaikan seluruh kompetensi dasar yang harus diselesaikan dalam kondisi pembelajaran normal.

Hal tersebut diperkuat dengan surat edaran Mendikbud No. 4 tahun 2020, pembelajaran di masa pandemi guru dapat melaksanakan pembelajaran dengan meguatkan pembelajaran yang kontekstual dengan situasi di masa pandemi, mengenal ancaman Covid-19, hidup bersih dan sehat dan pencegahan yang dapat dilakukan. Tentu saja memerlukan kreatifitas pembelajaran yang harus dilakukan guru.

Selain itu diberikan fasilitas website bersama hadapi corona oleh kemndikbud. Harapannya guru mendapatkan fasilitas untuk membangkitkan semangat guru dengan keadaan baru yang tidak biasa. Akun SIM Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (SIM-PKB) yang dimiliki guru ditambahkan fasilitas untuk memodifikasi rencana pembelajaran, model dan metode pembelajaran jarak jauh yang tepat dan sesuai dengan kondisi siswanya. Pelatihan dalam jaringan dengan model Webinar juga disediakan melalui akun tersebut. Guru berbagi, yang isinya memberikan pengalaman kepada guru lain dengan praktik baik pembelajaran di masa pandemic kepada guru lain.

Harapannya guru segera menyesuaikan dengan keadaan yang sedang terjadi era pandemi dan tidak terjebak dengan situasi pembelajaran yang serba tidak memungkinkan untuk dilakukan interaksi. Karena muncul anggapan bahwa model pembelajaran jarak jauh moda daring tidaklah memberi solusi bagi guru untuk menyampaikan dan menjelaskan materi pembelajaran. Sehingga pembelajaran tetap dilaksanakan oleh sebagian guru dengan model tatap muka dengan dalih pembelajaran luar jaringan (luring) dengan mencuri-curi waktu dan tempat. Padahal dengan kerentanan tinggi penularan di suatu tempat, akan memiliki risiko menularkan dan tertularnya Covid-19.

Banyak sekolah yang tidak respon terhadap panduan belajar jarak jauh tersebut. Banyak guru yang tidak memahami dan peka terhadap situasi belajar dalam jaringan. Banyak yang tetap menjejalkan seluruh materi pembelajaran. Dampaknya tekanan psikologis siswa muncul, karena siswa harus duduk di depan komputer berjam-jam, berfikir dan menanggung beban tagihan yang di deadline-kan guru. Bahkan ada juga guru yang menerapkan pembelajaran dalam jaringan dengan menjadwalkan waktu mirip dengan pembelajaran tatap muka. Hal itu terus menerus dalam satu minggu. Muncullah masalah baru pada siswa, emosi siswa meningkat akibat tingkat kejenuhan tinggi karena mereka tidak dapat berinteraksi secara langsung dan cenderung pasif di depan komputer atau gawai mereka.

Beban tersebut dapat dipastikan berimbas kepada orang tua. Muncul perlawanan dari anak, kemalasan dan perilaku yang cenderung menyimpang lainnya. Seperti burung yang lepas dari sangkar, mereka mencari kebebasan yang cenderung mudah dilakukan daripada saat pembelajaran di sekolah yang sudah ditentukan jadwal dan terikat dengan norma-norma edukatif di sekolahnya.

Pembelajaran yang serba terbatas pendidikan dari keluarga menjadi penting karena seperempat hari yang biasanya pola asuh diambil guru, saat ini harus ditangani sendiri oleh orang tua di dalam keluarga. Orang tua harus mampu mengintegrasikan seluruh pembelajaran kepada anak, baik aspek pengetahuan, nilai agama, sosial dan keterampilan.

Kecerdasan kognitif yang dikembangkan dengan muatan akademis seringkali menjadi beban orang tua, maka perlu disinergikan dengan guru, model yang tepat agar pembelajaran dapat dilaksanakan dengan baik. Materi yang disampikan guru ditangkap, dan yang tidak kalah pentingnya adalah tidak memberatkan anak. Diperlukan komunikasi yang baik antar guru dengan orang tua untuk menemukan solusi pembelajaran yang tepat. Karena saat ini muncul kekhawatiran dari orang tua dengan kemampuan akademis anaknya. Tidak dapat dipungkiri orang tua memiliki harapan kehidupan sosial dan ekonomi generasinya lebih baik dengan kesuksesan akademisnya.

Nilai-nilai sosial juga seharusnya dapat dimaksimalkan, karena jadwal masuk sekolah tidak ada maka dapat digantikan dengan kegiatan sosial terbatas di lingkungan, misalnya membantu orang tua berbelanja di warung tetangga. Tentu saja orang tua harus mampu memberikan penjelasan niali-nilai dan pembelajaran apa yang diperoleh anak dengan kegiatan yang dilakukan. Jika tidak, maka anak tidak mendapatkan penekan nilai, dianggap sebagai kegiatan biasa yang tak bernilai edukasi.

Pembelajaran keterampilan juga dapat dilakukan di dalam keluarga secara mandiri. Misalnya, anak-anak diajak membereskan pekerjaan rumah. Bagi anak perempuan dapat diajak bekerja sama dalam menyiapkan makan. Pun, demikian untuk anak laki-laki diajak mengerjakan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh ayah, misalnya megurus tanaman atau binatang peliaraan. Sehingga anak-anak motoriknya juga tetap terlatih, lebih baik lagi jika keterampilan itu dikembangkan berdasarkan kegemaran anak, tentu akan memberi nilai lebih.

Bagian penting di masa pandemi, nilai-nilai agama patut dikuatkan di keluarga. Karena waktu di rumah lebih lama, interaksi dengan teman dan lingkungan lebih banyak. Sehingga penguatan nilai Agama perlu diperkuat dengan penjadwalan waktu beribadah bersama anggota keluarga, serta penyampaian nilai-nilai agama yang perlu dilaksanakan untuk melawan pengaruh perilaku negatif yang bertolak belakang dengan nilai Agama di masa pandemi ini.

——— *** ———-

Tags: