Penumpang Bus Turun 5 Persen, Korban Kecelakaan Naik 37,7 Persen

Foto: ilustrasi

Foto: ilustrasi

Evaluasi Angkutan Lebaran 2016
Pemprov, Bhirawa
Musim angkutan Lebaran 2016 tampaknya kurang menguntungkan bagi moda transportasi darat berupa bus. Sebab hingga H-12 sampai dengan H+5 Lebaran, jumlah penumpang angkutan umum mengalami penurunan sebesar 5 persen.
Kepala Dinas Perhubungan danĀ  Lalu Lintas Angkutan Jalan (Dishub dan LLAJ) Provinsi Jatim Dr Ir Wahid Wahyudi MT menuturkan, berdasarkan evaluasi empat terminal yang wajib lapor nasional, jumlah penumpang bus turun 5 persen dibanding 2015. Jika 2015 lalu jumlah penumpang mencapai 2.629.381 penumpang, pada 2016 turun menjadi 2.506.691.
“Untuk puncak arus mudik di terminal terjadi pada H-4 atau Sabtu 2 Juli. Sementara puncak arus balik terjadi pada H+3 atau Minggu 10 Juli,” kata Wahid dikonfirmasi, Kamis (14/7).
Menurunnya jumlah penumpang ini pun berbanding lurus dengan jumlah bus angkutan umum yang juga mengalami penurunan hingga 13 persen dibanding 2015. Jika pada 2015 jumlah bus mencapai 92.902 bus, pada angkutan Lebaran tahun ini hanya 80.373 bus, dengan load factor (seat yang terisi penumpang) 70 persen hingga 90 persen.
Di Jatim, kata Wahid, ada empat terminal yang wajib lapor nasional. Yakni Terminal Purabaya Surabaya, Terminal Tambak Oso Wilangun Surabaya, Terminal Arjosari Malang dan Terminal Purbaya Madiun. Untuk Terminal Purabaya Surabaya yang merupakan terminal terbesar di Jatim, jumlah penumpang datang dan berangkat pada puncak mudik 2016 sebesar 116.613 penumpang.
“Jumlah penumpang di Terminal Purabaya atau lebih terkenal dengan sebutan Terminal Bungurasih ini juga turun sebesar 4,7 persen dibanding puncak mudik 2015 lalu. Namun jika dibanding hari normal dengan rata-rata 61.519 penumpang mengalami kenaikan 89,6 persen,” katanya.
Saat arus mudik dan balik Lebaran 2016 ini, Wahid mengatakan, tidak sampai terjadi penumpukan di terminal. Sebab telah disiapkan bus cadangan dan bus pariwisata yang standby di terminal. Selain itu, juga dilakukan penerbitan izin trayek insidentil untuk pengalihan bus pada trayek yang jumlah penumpangnya padat.
Sementara terkait terjadinya kecelakaan pada masa angkutan Lebaran 2016 mengalami kenaikan sebesar 7,3 persen dibanding 2015. Jika pada 2015 lalu jumlah kecelakaan sebanyak 648 kejadian, pada musim Lebaran 2016 naik menjadi 695 kejadian.
Naiknya jumlah kecelakaan ini juga meningkatkan jumlah korban yang meninggal dunia akibat kecelakaan. “Pada 2015 lalu korban yang meninggal sebanyak 61 orang, pada 2016 sebanyak 84 korban atau naik 37,7 persen,” katanya.
Menurut Wahid, hipotesa sementara yang mengakibatkan jumlah kecelakaan ini meningkat karena lancarnya arus lalu lintas di jalan. Sehingga pemudik mengendarai kendaraan pribadinya dengan kecepatan tinggi dan kurang berhati-hati sehingga terjadi kecelakaan.
“Lebaran tahun ini banyak yang mengakui termasuk pemerintah pusat, kelancaran lalu lintas di Jatim lebih baik dibanding Jawa Tengah dan Jawa Barat. Inilah yang diduga banyak terjadi kecelakaan karena pengendara ngebut saat jalan lancar. Mereka mungkin terburu-buru ingin bertemu keluarga, tapi kurang berhati-hati sehingga terjadi kecelakaan,” pungkasnya. [iib]

Tags: