Peran Guru dalam Pembelajaran Humanistik

Oleh:
Widiwasito
Kepala SMAN Arjasa Jember

Kata “humanistik” pada hakikatnya adalah kata sifat yang merupakan sebuah pendekatan dalam pendidikan (Mulkhan, 2002). Teori pendidikan humanistik yang muncul pada tahun 1970-an bertolak dari tiga teori filsafat, yaitu: pragmatisme, progresivisme dan eksistensisalisme. Teori humanistik berasumsi bahwa teori belajar apapun baik dan dapat dimanfaatkan, asal tujuannya untuk memanusiakan manusia yaitu pencapaian aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri orang belajar secara optimal (Assegaf, 2011).

Penuturan Knight tentang humanistik ialah “Central to the humanistic movement in education has been a desire to create learning environment where children would be free from intense competition, harsh discipline, and the fear of filure”. Hal mendasar dalam pendidikan humanistik adalah keinginan untuk mewujudkan lingkungan belajar yang menjadikan peserta didik terbebas dari kompetisi yang hebat, kedisiplinan yang keras, dan ketakutan gagal. Freire mengatakan; “Tidak ada dimensi humanistik dalam penindasan, juga tidak ada proses humanisasi dalam liberalisme yang kaku” (Freire, 2002).

Aplikasi teori ini lebih mementingkan proses daripada hasil. Oleh karenanya, aplikasi teori ini dinyatakan berhasil jika siswa bersemangat dalam mengikuti proses pembelajaran. Indikasinya, siswa bergairah, berinisiatif dalam belajar, dan terjadi peribahan pola pikir, perilaku, serta sikap atas kemauan sendiri. Teori ini mengharapkan siswa mampu menjadi manusia yang bebas, tidak terikat oleh pendapat orang lain, dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain, dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma, displin atau etika yang berlaku.

Pembelajaran humanistik mendorong guru agar lebih mengenali potensi setiap siswa. Pembalajaran seperti ini diharapkan memberikan dampak yang signifikan terhadap proses perkembangan anak dilihat dari sisi kepribadiannya. Sebab yang menjadi fokus perkembangan ialah potensi diri individu. Fokus dalam model humanistik ialah pengembangan dari berbagai aspek manusia, mulai dari aspek emosional, sosial, mental, sampai keterampilan. Lantaran sifatnya yang ideal untuk memanusiakan manusia, maka teori humanistik mampu memberikan arahan terhadap semua komponen pembelajaran untuk mendukung tercapainya tujuan. Semua komponen pendidikan diarahkan pada terbentuknya manusia yang ideal atau dicita-citakan, yaitu manusia yang mampu mencapai aktualisasi diri. Oleh karena itu, sangatlah penting guru memperhatikan perkembangan peserta didik dalam mengaktualisasikan, memahami, dan merealisasikan dirinya.

Peran guru dalam pembelajaran humanistik ialah menjadi fasilitator bagi siswa. Guru memberikan motivasi dan kesadaran mengenai makna belajar, memfasilitasi pengalaman belajar, dan mendampinginya untuk mencapai tujuan belajar. Sementara, siswa berperan sebagai pelaku utama yang memaknai pengalaman belajarnya sendiri, sehingga diharapkan memahami dan mengembangkan potensi dirinya secara positif, serta meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.Sebagai fasilitator, guru perlu menciptakan kelompok belajar untuk siswa mengeksplorasi, mengamati, dan mengevaluasi diri.

Pembelajaran humanistik mementingkan proses daripada hasil. Indikator ini sudah cukup mengukur kesuksesan pembelajaran. Karena siswa akan menjadi manusia yang bebas, berani, dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin, atau etika yang berlaku.

Menurut Abraham Maslow, pada dasarnya manusia itu baik, kreatif, berpotensi untuk maju, dan mampu mengembangkan diri. Manusia dimotivasi oleh beberapa kebutuhan yang senantiasa menggerakkannya untuk berusaha mencapai tujuan. Menurut teori motivasi, apabila seorang guru bermaksud memberikan motivasi belajar kepada siswa, ia harus berusaha mengetahui terlebih dahulu kebutuhan-kebutuhan mereka. Dengan begitu, ia akan sukses dalam memotivasi siswanya. Siswa perlu diberi motivasi dan kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupannya. Dengan begitu, mereka bisa mengarahkan diri sekaligus memotivasi dirinya untuk belajar daripada sekadar menjadi penerima pasif dalam proses pembelajaran.

Dalam sebuah pembelajaran humanistik, siswa bertanggung jawab atas pilihan pembelajaran. Jadi, tugas guru adalah membantu mereka memahami cara belajar yang terbaik agar mereka berhasil memahami materi pelajaran. Guru juga berperan membantu siswa mengembangkan dirinya, mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik agar nantinya bisa mengembangkan potensi yang ada dalam diri mereka.

Pembelajaran humanistik berfokus pada keterlibatan siswa, sehingga guru perlu menyediakan kegiatan pembelajaran yang menarik untuk meningkatkan semangat dan keterlibatan mereka dalam belajar.Tersedianya berbagai pilihan adalah pusat pembelajaran humanistik.

Guru juga berperan untuk membantu siswa membuat pilihan tentang apa yang harus dipelajari, contohnya dengan menawarkan opsi atau mengevaluasi hal yang mereka sukai. Jadi, saat melakukan refleksi diri sebagai seorang guru, pikirkan kembali sudahkah kita memanusiakan para siswa?

———– *** ————

Tags: