Peran Ibu Dalam Dunia Kerja dan Menghadapi

Andriyanto

Refleksi Hari Ibu ke-92

Pandemi Covid-19
Oleh ;
Andriyanto
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan Provinsi Jawa Timur

Peringatan Hari Ibu tahun ini terasa sangat berat untuk dirayakan, karena tahun ini keberadaan Ibu dalam pusaran pandemi Covid-19. Pandemi yang melanda Indonesia sejak bulan Maret 2020 hingga saat ini dan negara-negara lain di dunia, memperlihatkan sisi lain perjuangan perempuan di Indonesia dalam menyetop penyebaran Covid-19. Mulai dari membimbing keluarga saat berada di rumah, menjadi tulang punggung bagi keluarga hingga menjadi garda terdepan penyembuhan Covid-19 yang bertindak sebagai dokter, perawat, relawan dan lainnya.
Bahkan, tak jarang perempuan memiliki peran ganda sekaligus. Perempuan sebagai ibu harus memastikan anak-anak dan seluruh anggota keluarganya tetap berada di rumah dan membuat suasana nyaman. Perempuan yang bergerak dalam bidang usaha mikro, kecil dan menengah juga berperan menyediakan kebutuhan selama pandemi. Perempuan juga berperan besar dalam penerapan protokol kesehatan keluarga pada masa pandemi.

Sejarah Hari Ibu
Peringatan Hari Ibu yang dilaksanakan setiap tanggal 22 Desember, merupakan upaya bangsa Indonesia untuk mengenang dan menghargai perjuangan perempuan Indonesia dalam merebut dan mengisi kemerdekaan. Hari Ibu juga sebagai momentum kebangkitan bangsa, penggalangan rasa persatuan dan kesatuan serta gerak perjuangan perempuan yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Perjalanan sejarah yang melatarbelakangi Peringatan Hari Ibu dari awal ditetapkan hingga saat ini, memperlihatkan jejak perjuangan perempuan Indonesia yang telah menempuh jalan panjang untuk mewujudkan peranan dan kedudukan perempuan Indonesia dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara.

Peringatan Hari ibu menekankan pada makna perjuangan perempuan yang telah diawali dari Kongres Perempuan pertama pada tahun 1928. Bahwa peringatan Hari Ibu ini menjadi simbol perjuangan bagi perempuan di semua rentang usia, perempuan yang berkiprah baik di ranah domestik maupun di ranah publik, perempuan dengan berbagai profesi, perempuan difabel, perempuan kepala keluarga, perempuan baik yang sudah berkeluarga dan maupun yang belum berkeluarga, dan sebagainya.

Bibit kebangkitan perjuangan perempuan Indonesia telah dimulai sebelum masa kemerdekaan, yang ditandai perjuangan pendekar perempuan diberbagai tempat di Indonesia, seperti Tjuk Njak Dien di Aceh, Nji Ageng Serang di Jawa Barat, R.A Kartini di Jawa Tengah, serta masih banyak lagi yang lain. Dalam kurun waktu setelah kelahiran Budi Utomo pada tahun 1908, banyak lahir perkumpulan perempuan di berbagai tempat, seperti Aisiyah, Wanita Katolik, Putri Merdeka, dll. Kemudian pada Kongres Pemuda Indonesia pertama pada 30 April sampai dengan 2 Mei 1928 menempatkan perempuan sebagai satu titik sentral pembahasan, mengenai kedudukan perempuan dalam masyarakat Indonesia. Kongres Perempuan Indonesia pertama dilaksanakan tidak lama setelah Sumpah Pemuda, berlangsung pada 22 – 25 Desember 1928 dengan tujuan menyatukan perkumpulan perempuan-perempuan Indonesia dalam satu perhimpunan perempuan Indonesia.

Peran Ganda Ibu
Keinginan untuk membantu suami dalam meningkatkan ekonomi keluarga bagi perempuan dewasa ini dapat dibilang hal yang biasa, bahkan tidak terelakkan. Perempuan memperoleh kebebasan untuk bekerja membantu suami mereka dalam hal meningkatkan pendapatan keluarga. Mulai dari berkebun, bertani, berdagang, hingga menjadi buruh pabrik dilakukan oleh perempuan agar dapat mencukupi kebutuhan keluarganya.
Pekerjaan rumah oleh Perempuan, dilakukan bersama-sama oleh seluruh anggota keluarga agar dapat terlaksana semua kegiatan baik bekerja di luar rumah, sekolah, maupun pekerjaan domestik seperti yang diharapkan dari keluarga tersebut. Usaha perempuan agar dapat meningkatkan taraf hidup akan mempengaruhi kesejahteraan keluarganya.

Hal ini dapat dilihat dari konsumsi keluarga yang dilihat dari pengeluaran setiap bulannya. Apabila pendapatan naik, maka konsumsi juga akan semakin besar. Dapat dikatakan bahwa pengeluaran keluarga tersebut juga akan bertambah. Selayaknya hal tersebut menjadi dasar bahwa kesejahteraan keluarga akan meningkat seiring dengan bertambahnya pendapatan keluarga. Oleh sebab itu, usaha yang dilakukan perempuan dengan melaksanakan peran ganda akan meningkatkan taraf hidupnya dan kesejahteraan keluarganya.

Tantangan terbesar Ibu
Tantangan terbesarnya, pada kenyataannya masih banyak perempuan, terutama ibu rumah tangga yang tidak memiliki akses untuk memiliki peran lebih di kalangan masyarakat. Akses yang ada di era modernitas ini diperuntukkan bagi manusia yang dapat mengelola peluang usaha dengan baik yang memadukan unsur modernitas sesuai dengan perkembangan zaman. Penggunaan teknologi modern pun tidak dapat dihindari untuk menunjang usaha yang dikelola.
Oleh sebab itu, perempuan menjadi terhambat untuk melakukan peran yang lebih seperti bekerja dan memulai usaha. Era yang serba modern ini, perempuan atau ibu rumah tangga masih terbenani dengan pekerjaan domestik yang seolah-olah dibebankan kepadanya saja. Sebelum memulai pekerjaan pada sektor publik perempuan harus mengerjakan pekerjaan domestik terlebih dahulu, seperti mencuci, menyapu, memasak, dan mengurus anggota keluarga. Selain itu, beberapa perempuan hanya bekerja pada sektor tertentu yang kebanyakan adalah pedagang kecil, buruh pabrik dengan upah rendah, serta petani sayur mayur. Hal ini disebabkan oleh masih rendahnya pendidikan formal yang mereka dapatkan saat masih muda. Fenomena semacam ini merupakan faktor nyata yang ada di pedesaan yang membuat perempuan atau ibu rumah tangga terhambat aksesnya untuk maju membantu meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

Pemerintah harus hadir
Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota harus hadir dan memfasilitasi dalam meningkatkan peran wanita dalam dunia kerja. Menyadari pentingnya peran perempuan dalam pembangunan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur haruslah fokus untuk memperluas kesempatan kerja, mendorong fleksibilitas pasar tenaga kerja, menyesuaikan gaji dengan mekanisme pasar, memperbaiki keterampilan dan kapasitas tenaga kerja dengan pelatihan untuk perempuan, dan menguatkan implementasi kebijakan tenaga kerja yang mengakomodasi kesetaraan gender.

Melalui momentum peringatan Hari Ibu kali ini, adalah sangat penting menelusuri kembali inspirasi dari semangat perjuangan perempuan di masa pandemi ke perjuangan perempuan Indonesia masa mendatang. Bisa dikata, perjuangan perempuan Indonesia masuk dalam area kritis dimana di sisi lain masih terjadi praktik-praktik yang diskriminatif terhadap perempuan. Sesungguhnya, perjuangan perempuan Indonesia belum lah selesai, pencapaian IPG (Indeks Pembangunan Gender) dan IDG (Indeks Pendayagunaan Gender) masih dirasa masih berjalan lambat, kekerasan masih terus dialami, dan tingkat kesejahteraan lainnya juga masih rendah. Ketimpangan antara perempuan dan laki-laki sangat terlihat dalam hal ekonomi.

Kita berharap perempuan-perempuan Indonesia sadar betapa berharga dirinya. Utamanya karena tidak pernah berhenti merawat perjuangan para perempuan Indonesia di masa yang lalu, dalam gerak sekecil apapun. Kita berharap, perempuan hebat dalam pusaran pandemi akan memberikan inspirasi bagi generasi muda untuk menerapkan nilai-nilai perjuangan perempuan untuk kemajuan Indonesia masa kini. Kita warnai, Hari Ibu dengan peran, kerja, dan karya nyata dari kita semua, untuk Indonesia tercinta. Perempuan Berdaya, Indonesia Maju. Selamat Hari Ibu.

——— *** ———–

Tags: