Peran Pemkab Tingkatkan Kualitas SDM Guru Ngaji

Bupati Bondowoso KH Salwa Arifin menyampaikan sambutan di acara Focus Group Discussion (FGD) di Pendopo Bupati kemarin. [ihsan kholil]

Bondowoso, Bhirawa
Peran Pemerintah Daerah Kabupaten Bondowoso meningkatkan kualitas SDM guru mengaji melalui pelatihan dan pembinaan. Sedikitnya ada 32 perwakilan guru ngaji dari berbagai daerah Kota Tape ini yang hadir dalam acara Focus Group Discussion (FGD) di Pendopo Bupati, Kamis (27/2) kemarin.
Kegiatan ini didiinisiasi Dewan Research Daerah (DRD) itu, yang dibuka langsung Bupati Drs KH Salwa Arifin, didampingi Sekretaris Daerah H Syaifullah SE MSi.
Ketua DRD Kabupaten Bondowoso, M Tahir menjelaskan, muncul keluhan beberapa bulan sebelumnya terkait metode mengajar mengaji. Dari 5.435 guru ngaji di Bondowoso, metode mengajar yang digunakan berbeda – beda. Di era majemuk ini penting sekali untuk menjadi bagian dalam mengawal dan menjaga Alquran melalui proses belajar mengajar di Musholla dan Masjid.
“Kini banyak metode baru yang sudah dikembangkan. Sehingga percepatan pemahaman dan pembacaan Alquran bisa disaksikan di Bondowoso,” papar Tahir dalam sambutannya.
Terkait hal itu, Tahir mengaku mencoba mendiskusikan dengan guru ngaji melalui FGD ini, untuk menyempurnakan metode yang ada.
Sementara itu, Bupati Bondowoso, Drs KH Salwa Arifin mengatakan, untuk meningkatkan SDM ribuan guru ngaji menjadi sangat penting. Karena memang ada bermacam metode cara mengajar yang digunakan guru ngaji. Yakni menggunakan metode mengajar membaca Alquran dengan cara modern maupun tradisional.
Untuk penyempurnaan metode yang ada ini dilakukan diskusi bersama, tak lain agar ada kesamaan. Sehingga bila ada generasi muda mengaji di masjid yang satu dengan yang lain, memiliki waktu yang sama dalam meningkatkan kemampuan membaca Alquran.
“Saya ingin ada kesamaan. Tapi bukan berarti kita menafikan metode yang lama,” terang orang nomor satu di Bondowoso itu.
Bupati Salwa mengungkapkan, apresiasinya terhadap guru ngaji yang dinilainya bukan hanya mengajarkan cara membaca Alquran. Namun juga memberikan pembinaan akhlak dan pendidikan karakter. Sehingga pemberian insentif guru ngaji yang nilainya Rp1,5 juta per tahun, dinilainya masih perlu ditingkatkan lagi. ”Mungkin tolong Pak Sekda ada peningkatan lagi,” pungkasnya.
Usai seremonial FGD dilanjutkan dengan pemaparan oleh Sekda Syaifullah dan sejumlah narasumber diantaranya, KH Dr Mas’ud Ali. Syaifullah berharap, agar guru ngaji untuk terus mengajar ilmunya kepada anak-anak didiknya. Karena ini tentu menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah menuju kebangkitan selanjutnya.
KH Dr Mas’ud Ali juga menyampaikan, niat yang dilakukan oleh guru ngaji adalah sebuah bentuk ketulusan dan keikhlasan. ”Saya tentu berharap sekalipun ada upaya dari pemerintah untuk menaikkan insentif atau penghargaan bagi para guru ngaji itu, tidak menghilangkan nilai-nilai keikhlasan bagi guru ngaji kepada anak-anak kita,” pinta salah satu Pengurus Nahdlatul Ulama Bondowoso itu.
Dr Mas’ud menegaskan, guru ngaji tidak hanya mengajarkan Alquran kepada santrinya. Tetapi juga mengajarkan, bagaimana juga para murid memiliki karakter yang baik. Hal ini yang perlu ada apresiasi dari pemerintah daerah.
“Kepada mereka yang telah mengajarkan Alquran, mengajarkan nilai – nilai dasar agama, mengajarkan karakter dan ketulusan, serta keikhlasan. Ini yang barangkali menjadi pintu masuk kita berdiskusi dalam kesempatan ini,” katanya. [san]

Tags: