Perbaikan Sistemik Perikanan

NelayanNENEK moyangku seorang pelaut…” Begitu sebait syair lagu anak-anak (diciptakan oleh Ibu Sud, dekade 1960-an). Bukan sekadar lagu, melainkan kebanggaan jatidiri. Sebab, hampir seluruh suku bangsa memiliki kampung nelayan yang tangguh. Lebih lagi kosa kata “saudagar” berhubungan dengan perdagangan  melalui pelayaran. Namun aneh, tingkat konsumsi ikan rakyat Indonesia masih sangat minimal.
Dulu Raja Bugis, Karaeng Pattengaloan (abad ke-18), sudah memiliki teropong bintang yang jumlahnya masih 5 unit sedunia. Saat ini bagai memiliki satelit. Sehingga tiada kapal asing berani mencuri ikan sampai di perairan laut Arafuru. Yang tertangkap, seluruh muatan (dan kapalnya) disita, awak kapalnya dikenakan hukuman denda atau pidana. Ke-aneka ragaman hayati perairan timur Indonesia tetap terjaga. Begitu pula di perairan lain di seluruh Nusantara.
Kekayaan laut Indonesia, khusus ikan saja, saat ini ditaksir senilai Rp 10 ribu trilyun (lima kali dibanding APBN 2015). Berdasar peringkat hasil laut oleh FAO (badan pangan dunia), Indonesia berada di posisi ketiga dibawah China dan India. Namun pasti, kalkulasi FAO perlu direvisi, mengingat Indonesia memiliki hamparan perairan yang lebih luas dibanding India maupun China. Lebih lagi, posisi Indonesia terletak pada samudra Pasifik dan samudera Atlantik.
Ironisnya, hamparan perairan yang sangat luas masih menjadi “surga” illegal fishing. Setiap tahun, setidaknya terdapat 100 kapal asing ditangkap karena mencuri ikan. Pada tahun 2014 malah meningkat sebanyak 115 kapal. Tren meningkat illegal fishing sudah pada tahap menjengkelkan. Sehingga Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta kapal pencuri ikan langsung ditembak di tempat. Lalu menangkap (kalau mungkin) “kapal induk”-nya.
Modus illegal fishing biasanya menggunakan kapal tak seberapa besar, (maksimal) hanya 30 ton. Tetapi kapal-kapal kecil itu cuma “armada prajurit.” Sesungguhnya terdapat kapal besar yang bertindak sebagai kapal induk sekaligus komando dan penadah. Kapal induk, selalu berada di laut bebas perairan internasional. Diperlukan investigasi yang tak cukup mengandalkan kapal patroli, melainkan dengan mengerahkan kapal perang.
Illegal fishing, kini harus dianggap sebagai extra-ordinary crime. Nyata-nyata dilakukan oleh sindikasi internasional. Diantaranya melalui pemalsuan dokumen izin penangkapan ikan. Satu perizinan digunakan untuk beberapa kapal yang dikonstruksi (bentuk dan cat) sama persis. Setiap kapal juga dibekali surat izin palsu hasil copy scanner. Modusnya seperti satu STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan) untuk beberapa mobil yang nyaris serupa.
Modus itu sudah diketahui PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan). Bahkan PPATK memperkirakan terdapat 5.000 hingga 7.000 kapal “bodong,” yang beroperasi melakukan illegal fishing di Indonesia. Karena itu Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mesti bekerjasama untuk menghentikan modus izin palsu. Lebih dari 200 perizinan telah dicabut terkait kapal “bodong.”
Selain menindak tegas illegal fishing, diperlukan pula pembinaan kepada nelayan. Antaralain dengan memperluas coverages tangkapan. Semakin luas perairan yang dilayari akan semakin baik. Konsekuensinya, pemerintah seyogianya memberi subsidi kapal minimal berbobot 30 ton. Selama ini pelayaran kapal nelayan terkesan berkerumun di areal sempit.
Sebagaimana pemandangan di pantai Muncar, Banyuwangi, terasa telah over-load. Dengan potensi ikan sebanyak 36 ribu ton per-tahun, diperebutkan sekitar 5.000 armada. Jika dirata-rata, setiap kapal hanya memperoleh 7,2 ton per-tahun, atau sekitar 20 kilogram per-hari. Setelah dikurangi biaya solar, hasil tangkapan itu sangat tidak memadai. Dus penghasilan nelayan selalu dibawah UMK (Upah Minimum Kabupaten).
Hasil tangkapan yang sangat tidak memadai menyebabkan pedagang (besar) berkesempatan meng-impor ikan. Termasuk berdalih kepentingan industri (makanan dalam kaleng untuk ekspor). Problem kelautan dan perikanan masih memerlukan penanganan sistemik serta terstruktur.

                                                                                      ———— 000 ———–

Rate this article!
Tags: