Percepatan Vaksin PMK

Suntik vaksin untuk wabah PMK (Penyakit Mulut dan Kuku), sudah wajib dilaksanakan awal pekan ini. Presiden meng-instruksikan sebanyak 800 ribu dosis yang sudah datang segera bisa disuntikkan. Terutama pada daerah wabah (Jawa Timur), yang sekaligus sebagai penyaangga utama ketersediaan daging nasional. Gubernur sudah men-deklarasi-kan Jawa Timur berstatus “Keadaan Darurat Bencana Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).” Pusat Veteriner Farma juga patut bekerja keras kembali produksi vaksi PMK.
Di seluruh Indonesia diperkirakan lebih dari 155 ribu ekor hewan ternak terpapar wabah PMK. Menyebar cepat ke 18 propinsi (di 177 kabupaten dan kota). Tetapi upaya penanganan oleh kalangan veteriner membuahkan hasil. Sebanyak 40 ribu ekor sudah sembuh, mulai bisa bangkit. Namun ada pula yang terpaksa dipotong bersyarat (lebih dari 900), serta lebih dari 700 ekor tak tertolong (mati). Virus yang menyebabkan PMK sangat cepat menyebar. Terutama mengancam sapi anakan yang sangat rentan dengan angka kematian tinggi.
Bahkan sudah melanda di kawasan sentra utama sapi, termasuk di Madura. Kementerian Pertanian telah menetapkan daerah wabah. Tetapi vaksinasi sebagai benteng pertahanan keparahan wabah terasa terlambat tersedia. Wajar presiden Jokowi meng-instruksikan “suntikkan cepat-cepat sehingga bisa melindungi sapi-sapi yang lain.” Maka vaksin (impor dari Perancis) yang sudah dating wajib segera disuntikkan, terutama pada daerah prioritas.
Kementerian Pertanian telah memiliki SOP (Standard Operating Procedur) menangangi wabah PMK. Telah direncanakan impor vaksin sebanyak 3 juta dosis. Jawa Timur menjadi daerah prioritas, dengan kebutuhan vaksin sekitar 700 ribu dosis. Sembari menunggu ketersediaan vaksin lebih banyak, daerah-daerah penyangga daging juga menjadi prioritas. Antaralain Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara barat (NTB), dana Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pada prinsipnya, vaksin merupakan pencegahan. Disuntikkan pada hewan yang sehat. Sedangkan hewan yang sakit harus diobati sampai sembuh, lalu divaksin. Banyak pemerintah daerah (propinsi, serta kabupaten dan kota) kelimpungan menghadapi wabah PMK. Lebih lagi, anggaran untuk penanganan wabah PMK belum tersedia. sehingga perlu dilakukan pergeseran dan refocusing anggaran.
Terbaru, BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) “mengizinkan” penggunaan anggaran berdasar BTT (Biaya Tidak Terduga). Juga kemungkinan anggaran on-call (yang siap cepat cair) yang biasa digunakan pada masa bencana. Wabah PMK sudah layak menjadi bencana, karena penularannya sangat cepat. Padahal sejak tahun 1990, Indonesia sudah dinyatakan bebas PMK.
Begitu pula Pusat Veteriner Farma (Pusvetma), sebagai produsen vaksin, seolah-olah “melupakan” prestasi gemilang memberantas wabah PMK. Sukses vaksinasi (tahun 1983 – 1986) telah diakui dunia, melalui Badan Kesehatan Hewan Dunia (Office Internatuonal des Epizooties – OIE) pada tahun 1990. Maka PMK yang mewabah saat ini menjadikan Pusvetma perlu “bangkit kembali,” sebagai produsen vaksin (dan antisera) serta bahan biologis lainnya.
Wabah PMK wajib diperhatikan seksama. Bahkan karena penularan secara airborne (dibawa udara), juga berpotensi menular pada hewan berkuku belah yang hidup di hutan. Sapi liar, kerbau liar, rusa, babi hutan, yang hidup di alam bebas (hutan lindung) bisa tertular. Maka pemerintah juga perlu melakukan penyemprotan disinfektan melalui pesawat udara (water bomber). Terutama di hutan berstatus Geo-park global.
Di perkampungan (area usaha peternakan “mandiri”), diperkirakan sebanyak 4 juta ekor ternak akan terdampak. Niscaya berpotensi mengguncang perekonomian, berkait ketersediaan daging, dan susu segar. Terutama peternak rakyat (mandiri) kehilangan produktifitas. Serta terpaksa “jual obral” (murah) sapi sakit. Pasokan daging, dan susu akan semakin bergantung pada impor. [*]

Rate this article!
Percepatan Vaksin PMK,5 / 5 ( 1votes )
Tags: