Peredaran Gula Rafinasi Ancam 500 Ribu Ton Gula Jatim

Surabaya, Bhirawa
Peredaran gula rafinasi di Jatim selain mengancam distribusi gula yang sudah mencapai 500 ribu ton juga bakal membuat 31 pabrik gula gulung tikar. Untuk itu Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jatim menggelar sidak di toko-toko seluruh Jatim.
“Saat ini Jatim memiliki 500 ribu ton stok gula yang masih belum laku dari 31 pabrik gula. Dan sesuai dengan instruksi Gubenur Jatim kita harus menjaga kedaulatan pangan dengan mengamankan petani Jatim, apabila 500 ribu ton gula tersebut tidak tersebar akan mempengaruhi musim giling 2014,” ungkap Kapala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jatim-Dr Ir Budi Setiyawan MMT ketika dihubungi via telepon, Minggu (13/4).
Ia menambahkan, gula rafinasi ini sangat berbahaya kalau dikonsumsi bagi kalangan rumah tangga karena gula tersebut hanya dikonsumsi bagi industri makanan dan minuman sehingga perlu ada pengolahan lagi kalau mau dikonsumsi.
“Dan sidak yang kita lakukan di toko baik toko besar seperti swalayan dan supermarket maupun toko tradisional untuk memantau peredaran gula rafinasi sampai sejauh mana. Karena diperkirakan gula rafinasi beredar akibat terjadinya rembesan dari pelabuhan-pelabuhan kecil seperti Lamongan, Pasuruan, Pamekasan dan lainnya,” pungkasnya.
Untuk itu Disperindag Jatim bersama BP POM dan Polda Jatim menggelar sidak dan melakukan uji tes untuk gula yang di jual dipasaran. Dan akan dilakukan penyitaan apabila terbukti pedagang menjual gula rafinasi yang diberjual belikan secara bebas di toko-toko. Selain itu juga akan menelusuri alur produsen pengiriman gula rafinasi hingga bisa ke tangan pedangang.
“Bentuknya yang kecil, putih bersih dan tidak begitu manis serta harga yang murah memang menggoda konsumen rumah tangga untuk membeli padahal gula itu tidak baik, padahal gula yang layak dikonsumsi berwarna agak kecoklatan karena berbasis dari tebu,” ujarnya.
Agar harga gula di Jatim bisa bersaing denga gula rafinasi memang perlu dilakukan revitalisasi mesin.  “Revitalisasi mesin sangat diperlukan agar gula kita bisa bersaing dengan gula rafinasi di pasaran. Karena selama ini mesin yang kita gunakan tergolong sudah ketinggalan zaman. Selain itu Disperidag berharap agar dilakukan audit terhadap pabrik-pabrik pengguna gula rafinasi oleh tim independent sebab ditakutkan adanya penyalahgunaan izin,” katanya. [riq]

Tags: