Perempuan di Halte Bus

Perempuan di Halte Bus
Oleh:
Hendrianto

Daun-daun pohon ketapang di halaman depan rumah berguguran. Terpaan angin membuatnya berserakan di badan jalan. Tatapanku nanar memandang sepasang burung yang bertengger di kabel listrik. Sepertinya mereka ayik memadu kasih. Aku nelangsa melihatnya.
“Pa, mama ke mana, Pa…” ucap Naura membuyarkan lamunanku. “Papa dan mama lagi marahan, ya …?” sambungnya. Pertanyaannya menambah kesedihanku.
Aku tatap matanya yang sendu. Anak sekecil itu belum tahu apa-apa tentang orang dewasa. Aku coba mengalihkan perhatiannya. Kuceritakan tentang dongeng-dongeng kesukaannya. Namun, tetap saja pikiranku jauh melayang ke mana-mana.

***
Sesampainya aku di lobi kantor, kutolehkan pandangan keluar. Ternyata cucuran hujan sangat deras membasahi bumi. Sementara, kantor sangat sepi. Aku sendiri ditemani rintik hujan yang berisik.
“Selamat malam, Pak. Bapak belum pulang?” seseorang menyapaku dari belakang. Ada Pak Burhan tengah mengecek gudang belakang. Beliau adalah petugas keamanan di kantorku. Rumah beliau memang tidak terlalu jauh dari kantor. Bisa berjalan kaki.
“Iya, Pak, ini mau pulang. Hari hujan. Apakah Bapak punya payung?” tanyaku pada Pak Burhan.
“Maaf, Pak, saya tak punya payung,” jawabnya. “Apa sebaiknya menunggu hujan reda dulu, Pak. Mari mampir dulu ke rumah saya. Kita ngopi dulu,” sambungnya ramah.
“Terima kasih, Pak. Tapi, lain kali saja. Sudah larut malam. Saya khawatir nanti dapat banjir di perjalanan. Saya duluan ya, Pak,” tolakku dengan sopan. Lalu aku berlari kecil menuju parkiran mobil.
Jarak pandang sangat dekat dikarenakan hujan begitu lebat. Sepanjang perjalanan, aku ditemani dengan dingin yang menusuk tulang. Lampu jalan yang biasanya terang benderang, sekarang terlihat lebih muram karena guyuran hujan. Kulihat kiri-kanan, sudah ada beberapa genangan air sebetis orang dewasa. Aku pun ekstra berhati-hati memacu mobilkku.
Ketika gigil menyapa kulitku, tetiba handphone yang ada di saku jas berdering. Kulihat ada panggilan masuk dari Dian, istriku. Kuangkat telepon darinya. “Iya, ini aku lagi di jalan menuju pulang. Di sini hujan sangat deras, jalanan pun macet,” jawabku ketika ia menanyakan aku di mana.
Selesai aku menelpon, di perempatan lampu merah terlihat ada seorang perempuan berdiri. Sepertinya dia menunggu bus lewat. Karena hujan yang sangat deras, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ada niatku utuk menawarkan tumpangan. Ah, biarlah. Sebentar lagi bus pun juga datang,” hatiku membatin.
Lama aku berhenti di lampu merah menunggu lampu hijau. Setelah lampu berganti hijau, aku pun langsung tancap gas. Namun, pikiranku melayang pada perempuan yang hujan-hujanan menunggu bus malam. “Ah, jahat sekali diriku. Apa salahnya menawarkan tumpangan pada perempuan tersebut. Kasihan malam-malam begini hujan-hujanan,” lagi-lagi hatiku berbisik.
Tak berpikir panjang, aku langsung membelokkan mobil. Kuniatkan hatiku untuk balik ke belakang dan menawarkan tumpangan pada perempuan tersebut. Sesampainya di halte tempat perempuan itu berdiri, aku buka kaca pintu mobil. “Mbak mau kemana?” tanyaku sedikit berteriak melawan derasnya hujan. Ia hanya diam. Lantas kuulangi lagi pertanyaan yang sama dengan suara yang lebih keras.
Tampak dia sedikit bingung. “Ini Mas, lagi menunggu bus. Saya hendak ke Kampung Melayu,” jawab perempuan tersebut.
“Kampung Melayu? Berarti kita satu arah. Ayo naik, Mbak. Sudah malam, tak ada lagi bus yang bakal lewat. Mana hujan sangat deras lagi,” tawarku padanya.
“Terimakasih, Pak. Bapak lanjut saja,” tolaknya.
“Tidak apa-apa, Mbak. Naik saja. Saya orang baik-baik, kok. PT Harapan itu adalah kantor saya. Silakan naik, Mbak. Mumpung kita satu arah,” kataku meyakinkan.
“Tidak usah, Pak. Takutnya merepotkan nanti. Lagian baju saya basah,” jawabnya terus menolak. Aku semakin penasaran dengannya. Dari nada suaranya, sepertinya tak asing bagiku. Lantas, aku pun berpindah duduk ke bangku sebelah agar bisa berbicara lebih dekat dengan perempuan itu.
“Tidak usah ta … kut …” kataku terputus ketika kulihat wajahnya lebih dekat. Aku pun tercekat.
“Mas Angga ….” Aku terkejut. Kelopak mataku tidak berhenti berkedip melihatnya. Dalam temaram malam dan guyuran hujan, kupastikan perempuan yang tengah berdiri di hadapanku itu. Ya, dia adalah orang yang selama ini sulit aku lupakan. Aku pun menyuruhnya masuk mobil. Kali ini dia tidak menolak. Meski basah, aku persilakan dia duduk di depan, tepat di sampingku.
“Nori … kenapa kamu malam-malam ada di sini? Bukannya kamu menetap di Kalimatan bersama suami?” Aku masih tidak percaya perempuan yang duduk di sebelahku adalah Nori.
“Tadinya saya keliling-keliling, Mas. Saya mau cari pekerjaan. Ternyata, di Jakarta ini mencari pekerjaan sangatlah sulit.”
“Mencari pekerjaan?” tanyaku sedikit heran. Nori diam tak menjawab pertanyaanku. Aku tidak mengerti, apa yang terjadi sebenarnya sama Nori. Aku terus memacu mobilku dalam genangan air yang tak kunjung surut.
Ada kecanggungan di antara kami. Nori diam; aku pun juga diam. Dinginnya malam sebanding dengan dinginnya sikap kami berdua. Aku mencoba untuk bertanya. Tapi lidahku terasa kelu seribu bahasa.
“Mas apa kabarnya?” tiba-tiba Nori bertanya. “Bagaimana kabar istri-anak Mas Angga?” sambungnya.
“Alhamdulillah kabar baik. Istri dan anak-anak juga baik,” jawabku. “Kamu sudah beberapa lama di Jakarta?” tanyaku untuk memecahkan kecanggungan kami.
“Sudah hampir tiga bulan, Mas.”
“Hm … belum dapat kerja?”
“Belum, Mas.”
“Kalau kamu tidak keberatan, besok datanglah pagi-pagi ke kantor saya. Di kator lagi membutukan front office. Itu pun kalau kamu mau.” Aku menoleh ke arah Nori. Dia hanya diam dan menunduk.

***
Semenjak Nori bekerja di sini, aku sering mengajaknya untuk pulang bersama. Terkadang Nori menolak ajakanku. Namun, seperti biasa aku selalu membujuk Nori. Entah kenapa, jika Nori di sampingku, hatiku terasa tenang.
“Kita makan malam dulu, ya. Aku lapar, kamu pasti lapar juga ‘kan?”
“Tidak usah, Mas. Aku makan di rumah saja. Aku belum lapar kok.”
“Ya, sudah, kamu temani aku makan saja, ya.”
“Kenapa Mas tidak makan di rumah saja? Istri Mas pasti sudah menunggu.”
Aku diam saja mendengar pertanyaan Nori. Sebenarnya aku ingin menjawab, tapi aku urungkan. Untuk saat ini, diam atas pertanyaan itu lebih baik.
“Kenapa diam, Mas?” tiba-tiba Nori bertanya lagi.
“Aih, tidak ada apa-apa. Kamu mau kan menemani Mas makan malam?”
“Baik, Mas,” jawabnya singkat.
Selesai makan malam di sebuah kafe, tiba-tiba Nori mendapatkan sebuah telepon, dan dia pun mengajakku pulang.
“Siapa yang menelpon? Apakah itu suamimu?” tanyaku ke Nori.
“Tidak, Mas. Ini dari bibi di rumah.”
“Suamimu masih di Kalimantan, ya?
“Iya mas.”
“Kenapa dia tidak menyusulmu ke Jakarta?”
“Sebenarnya … kami sudah lama bercerai, Mas.” Tiba-tiba murung menggantung di wajah Nori. Dia pun mulai bercerita hal ikhwal keretakan rumah tangganya yang ternyata adalah karena terpaksa dijodohkan orang tua. Aku pun ikut merasakan kesedihan mendengar ceritanya.
“Maafkan pertanyaan mas tadi. Tidak ada maksud mas untuk ikut campur dengan rumah tanggamu,” balasku. Tiba-tiba hatiku merasa berbeda. Detak jantung yang sedari tadi biasa saja, kini berubah semakin kencang tidak karuan.
“Tidak apa-apa, Mas.”
“Baiklah, sekarang mari Mas antar pulang.” Aku pun mengantarkan Nori pulang kerumahnya.

***
“Ternyata kamu perempuan yang menggoda suamiku, ha? Pantasan suamiku sering pulang malam,” sayup-sayup terdengar suara Dian. Sepertinya, ada keributan di lobi kantor. Aku pun keluar dari ruangan kerjaku dengan langkah yang tergesa.
“Perempuan macam kau ini mau merebut suami orang? Perempuan tidak tau diri!” Kali ini saura Dian semakin jelas. Aku segera menarik Dian dari lobi kantor. Aku bawa ia keluar.
“Apa yang kamu lakukan di sini? Dia hanyalah front office di sini. Dia tidak ada hubungan apa-apa denganku,” ucapku meyakinkan Dian.
“Sekarang aku sudah tahu semuanya, kalian tidak hanya sebatas atasan dengan bawahan. Dia ini masa lalu Mas, bukan? Ya kan, Mas?” Aku tak menjawab, terus kutarik tangannya dan kubawa ia masuk ke dalam mobil.

***

Lama aku menunggu di ruangan, akhirnya Nori datang. Aku kira Nori tak masuk kantor karena peristiwa kemarin.
“Maaf, Mas … aku tak bisa lagi bekerja di sini. Hari ini aku mengundurkan diri dari kantor ini, Mas. Ini surat pengunduran diriku, Mas”
“Kenapa?Apakah karena Dian memarahimu?”
“Tidak, Mas …. Bagiku wajar dia sebagai istri marah kepada perempuan yang digosipkan dekat dengan suaminya. Aku tidak mau merusak rumah tangga Mas. Aku tidak mau dengan kehadiranku membuat rumah tangga Mas berantakan,”
“Hm … baiklah Nori, sekarang Mas akan jujur padamu,” kataku. Lantas, kutarik napas panjang, kuhembuslan secara perlahan. Aku tatap mata Nori. “Sebenarnya, cinta Mas hanyalah untukmu, Nori. Sebelum kamu bekerja di sini pun, rumah tangga Mas sebenarnya tidaklah harmonis. Dian memang istri mas, namun sepanjang hari pikiran mas selalu padamu, Nori. Mas menikahi Dian pun, sama halnya denganmu, Nori: terpaksa. Pernikahan mas hanya sebatas iba dan kasihan pada Dian.”
“Ya, Mas …. Terima kasih atas kejujuran Mas. Tapi, mohon maaf, Mas … aku tidak bisa lagi bekerja di sini. Mas berbahagialah hidup berumah tangga dengan Mbak Dian. Izinkan aku pergi mencari hidup baru.” Nori pun berlalu meninggalkanku.

***

“Pa, Papa sibuk, ya …? Papa, Naura kangen, Papa? Papa kok ngaak pulang-pulang, sih?” ucap Naura di ujung telepon.
Aku pun merasakan kerinduan pada Naura. “Iya, Sayang … papa juga kangen Naura. Tapi, Papa masih banyak kerjaan, Sayang …. Papa janji, hari Minggu akan ajak Naura jalan-jalan,” balasku pada anak semata wayangku itu. “Mama mana? Berikan telepon pada mama, Sayang …” sambungku.
Sejurus kemudian, terdengar suara Dian di ujung telepon, “Iya, Mas …” ucapnya.
“Demi Naura, berjanjilah padaku jangan ceritakan perceraian kita padanya. Dia masih membutuhkan kasih sayang kita berdua,” pesanku pada Dian.

Hendrianto lahir di Tanjung Gadang, 12 Januari 1988. Saat ini pria yang akrab dipanggil Hendri ini mengajar di SMKN 3 Batam. Pena Arang Rumah Panggung (2020) adalah novel pertamanya.

Rate this article!
Perempuan di Halte Bus,5 / 5 ( 3votes )
Tags: