Pergaulan Remaja Makin Mengkhawatirkan

Oleh :
Nanang Qosim, M.Pd
Dosen Agama Islam Poltekkes Kemenkes Semarang, Peneliti di LTN NU Kota Semarang

Miris jika kita melihat fakta dalam sebuah penelitian yang dipaparkan Ana Sandra Pidah dalam sebuah studinya tentang Determinan Perilaku Seks Pranikah Pada Remaja Pria (15-24 Tahun) di Indonesia (2021). Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa fenomena seks pranikah di Indonesia pada kalangan remaja dapat ditemukan di perkotaan maupun perdesaan, tanpa memandang suku, agama atau bahkan latar belakang tingkat pendidikan. Bahkan revolusi seksual ini, sering disebut sebagai tren yang merupakan salah satu ciri mencolok dari lingkungan sosio kultural Barat, dan sebagian remaja menganggap hal ini sebagai normatif dan bukan hal yang tabu lag.

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 (dilakukan per 5 tahun) mengungkapkan, sekitar 2% remaja wanita usia 15-24 tahun dan 8% remaja pria di usia yang sama mengaku telah melakukan hubungan seksual sebelum menikah, dan 11% diantaranya mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Di antara wanita dan pria yang telah melakukan hubungan seksual pra nikah 59% wanita dan 74% pria melaporkan mulai berhubungan seksual pertama kali pada umur 15-19 tahun.

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Anak, Perempuan dan Pemuda Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Femmy Eka Kartika Putri, persentasi remaja yang melakukan hubungan seksual pranikah tersebut sangat memperihatinkan. Karena itu perilaku seksual berisiko pada pemuda perlu mendapatkan perhatian khusus. (https://www.kemenkopmk.go.id/, 1 Juni 2021)

Jika ditelisik, ada beberapa faktor yang mendorong anak remaja usia sekolah SMP dan SMA melakukan hubungan seks di luar nikah. Di antaranya pengaruh liberalisme atau pergaulan hidup bebas, faktor lingkungan dan keluarga yang mendukung ke arah perilaku tersebut, serta pengaruh perkembangan media massa.

Kusumah (1982) mengatakan, salah satu penyebab munculnya kenakalan dan tindak penyimpangan pada remaja adalah akibat komunikasi orangtua (terutama ibu) yang tidak memuaskan, tanpa memandang status ekonomi keluarga itu. Orangtua dapat memahami bahwa perilakunya dapat menjadi faktor pencetus bagi perilaku anak-anaknya yang tidak dikehendaki.

Pada tahap perkembangan awal, sebagian besar waktu anak umumnya dihabiskan di lingkungan rumah atau dalam pengawasan keluarga. Ini berarti bahwa perkembangan mental, fisik, dan sosial individu ada di bawah arahan orangtua atau terpola dengan kebiasaan yang berlaku dalam rumah tangga. Dengan demikian, jika seorang remaja menjadi nakal atau liar, besar kemungkinan faktor keluarga turut memengaruhi keadaan tersebut.

Kondisi keluarga yang dapat menyumbang terhadap terjadinya kenakalan anak adalah kurangnya perhatian yang diberikan orangtua, serta kurangnya penghayatan dan pengamalan orangtua/keluarga terhadap agama. Sekolah merupakan lingkungan belajar kedua yang berkontribusi terhadap keberhasilan dan ketidakberhasilan, dengan salah satu indikator kenakalan anak.

Faktor sekolah yang berkontribusi terhadap kenakalan remaja antara lain disiplin sekolah yang longgar, ketidakacuhan guru dan pengelola sekolah terhadap masalah siswa di luar urusan sekolah, serta tidak lancarnya komunikasi antara guru dan orangtua yang menyebabkan kecilnya peran orangtua dalam kemajuan pendidikan anaknya. Faktor lingkungan merujuk pada peranan masyarakat, multimedia, dan berbagai fasilitas, seperti pusat-pusat hiburan yang menyediakan pelbagai produk yang bisa menumbuhkan dan meningkatkan rangsangan seksual.

Lingkungan yang menyumbang terhadap kenakalan remaja antara lain pergaulan bebas di antara pria dan wanita, sikap permisif yang ditunjukkan masyarakat, munculnya pusat-pusat hiburan serta pertunjukan musik yang mengumbar berahi serta tayangan kekerasan dan pornografi. Pada praktiknya kontribusi faktor-faktor tersebut berbeda-beda dalam berbagai kasus kenakalan remaja.

Sekalipun demikian, jika seorang remaja terjatuh dalam kenakalan, maka orangtualah yang memiliki tanggung jawab terbesar. Anak yang kekurangan kasih sayang cenderung mengembangkan perasaan negatif, merasa tidak diterima sehingga penghargaan terhadap dirinya sendiri rendah. Anak seperti ini akan cenderung menjadi anak tertutup, rendah diri, dan menyimpan potensi gagal dalam kehidupannya. Kasih sayang yang tulus dan berlimpah tentulah datang dari orangtua (terutama ibu).

Untuk itu, kehadiran para ibu yang selalu berusaha menyiapkan surga bagi anak-anaknya di telapak kakinya, ibu yang siap memberikan teladan buat putra-putrinya, dan ibu yang bertanggung jawab terhadap kebahagiaan dunia akhirat anak-anaknya sangat didambakan. Seorang ibu harus mampu memberikan arahan kepada anak-anak sesuai dengan tuntutan zamannya. Sudah bukan zamannya lagi kita marah, tapi lebih baik memberi arah. Tidak perlu memukul, lebih baik kita rangkul. Jangan otoriter, tapi otorisasi. Tidak perlu kita hardik, lebih baik kita didik.

Dengan demikian, sosok ibu idaman adalah sosok yang mempunyai multifungsi peran dalam keluarga dan mampu memerankannya secara baik. Ibu dapat berperan sebagai sahabat, sebagai polisi, guru, atau sebagai teladan dan konsultan bagi anak-anaknya. Tugas pemerintah adalah menjamin agar ibu bisa menjalankan peran keibuannya dengan sempurna. Sebab, ibu punya tanggung jawab besar di pundaknya untuk masa depan bangsa. Bisa dikatakan bahwa perempuan adalah tiang negara. Apabila tiang itu roboh, maka tunggulah waktu keruntuhan negara.

———– *** ————-

Rate this article!
Tags: