Peringatan Hari Pahlawan di Tengah Pandemi Covid-19 Digelar Virtual

Dengan berpakaian ala pejuang, para siswa SD Muhammadiyah 6 Surabaya mengunjungi tempat bersejarah Jembatan Merah dalam Peringatan Hari Pahlawan yang digelar secara virtual.

SD Muhammadiyah 6 dan SD Muhammadiyah 24 Kunjungi Tempat Bersejarah
Surabaya, Bhirawa
Meski masih pandemi Covid 19, namun tidak menyurutkan para siswa menggelar Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2020. Seperti SD Muhammadiyah 6 Gadung, Surabaya dan SD Muhammadiyah 24 Ketintang, Surabaya, memperingati Hari Pahlawan, Selasa (10/11) kemarin secara virtual, dengan mendatangi tempat – tempat bersejarah di Kota Surabaya dan melaporkan kepada siswa yang mengikuti dari rumah secara live via Aplikasi Zoom.
SD Muhammadiyah 6 Surabaya menggelar Hari Pahlawan dengan tema Belajar Sejarah dari Sejarahwan Cilik melalui live virtual Zoom. SD Muhammadiyah 6 Surabaya membagi lima tim yang terdiri dari pengajar dan beberapa siswa untuk mengujungi Museum Tugu Pahlawan, Hotel Yamato (Hotel Mojopahit sekarang, red), Jembatan Merah dan Taman Makam Pahlawan Jl Kusuma Bangsa, serta Makam Pahlawan Nasional WR Supratman.
Menurut Kepala SD Muhammadiyah 6 Surabaya, Ustadz Munahar SPd MPd, peringatan Hari Pahlawan tahun ini dan untuk mengenang peristiwa heroik perjuangan Arek – arek Suroboyo yang dipimpin Bung Tomo bersama para kiai dan ulama, saat berjuang melawan tentara sekutu yang ingin menjajah kembali Indonesia. Dalam kontek pembelajaran mengingatkan kembali kepada para siswa bagaimana para pejuang dahulu berperang melawan penjajahan, namun kalau hanya peringatan saja dengan simbolisasi atau teatrikal terkait perjuangan para pahlawan sudah seringkali dilakukan.
Maka tahun ini, jelas Ustadz Munahar, SD Muhammadiyah 6 Surabaya menggelar peringatan Hari Pahlawan yang berbeda yakni dengan mengundang ‘Sejarahwan – sejarahwan Cilik’. Kalau sejarah disampaikan oleh pakar sejarah, seperti profesor atau doktor itu merupakan hal yang biasa.
Tetapi kalau sejarah itu disampaikan oleh sejarahwan cilik hal itu menjadi luar biasa, karena para siswa ini akan menyampaikan melalui live zoom yang sama di tempat bersejarah yang dikunjungi seperti Monumen Tugu Pahlawan, Hotel Yamato tempat perobekan warna biru bendera Belanda, Jembatan Merah tempat pertempuran besar pada 10 November 1945 dimana banyak Arek -arek Suroboyo yang gugur sebagai syuhada, dan Taman Makam Pahlawan Jl Kusuma Bangsa, serta Makam Pahlawan Nasional WR Supratman.
“Para siswa yang bertugas sebagai Sejarahwan Cilik ini kelebihannya dalam menyampaikan sejarah Hari Pahlawan tidak linier, tetapi pada posisi di tempat – tempat bersejarah. Mereka melaporkan dan menceritakan secara riil karena berada di lokasi tempat bersejarah, misalnya di Monumen atau Museum Tugu Pahlawan. Dan teman – teman lainnya yang ada di rumah bisa mengikuti laporan melalui Aplikasi Zoom mulai jam 08.00 sampai jam 10.00 WIB,” jelas Ustadz Munahar.
Ustadz Munahar menegaskan, pihaknya ingin menanamkan nilai – nilai perjuangan pada para siswa, dimana tanpa perjuangan dan tanpa pengorbanan para pahlawan dan para syuhada pada zaman dahulu maka Indonesia tidak akan seperti yang ada saat ini, dalam kontek adalah merdeka karena dahulu masih dijajah. Tetapi yang paling penting, pengorbanan itu dikembalikan pada ketulusan hati niatnya karena Allah, makanya pidato Bung Tomo diawali dengan bacaan Basmalah dan diakhiri dengan pekikan takbir. Mungkin Bung Tomo tidak belajar sebagai seorang santri, tetapi seolah mendapatkan pembelajaran dari para ulama saat itu kemudian disampaikan dalam pidato yang menggetarkan, sehingga bisa menggerakan hati Arek – arek Suroboyo untuk berani melawan penjajahan Tentara Sekutu.
“Itu saya nilai jantung. Inilah Jantungnya Kemerdekaan Indonesia, ya peperangan pada 10 November 1945 di Kota Surabaya, melalui lisan Bung Tomo yang membakar semangat Arek – arek Suroboyo. Nah, semangat dan nilai – nilai perjuangan dengan ikhlas, meski harus mengorbankan jiwa dan raga inilah yang kami ajarkan kepada para siswa,” tandas Ustadz Munahar.
Ketika ditanyakan, bagaimana perjuangan di masa pandemi saat ini dalam kaitan dengan peringatan Hari Pahlawan. Ustadz Munahar menjelaskan, dalam kaitan dengan pandemi Covid 19 yang saat ini dilawan semua Warga Negara Indonesia memang tidak kelihatan. Tetapi bila bepergian harus tetap menerapkan protokol kesehatan dengan menerapkan 3M yakni Menggunakan masker, Menjaga Jarak dan Mencuci tangan. Ini merupakan ikhtiar fisik namun juga harus disertai ikhtiar batin dengan selalu berdoa, agar tubuh tetap sehat dan bugar dan terhindar dari penularan Virus Corona, serta berdoa agar Virus Corona segera hilang dari Indonesia.

SD Muhammadiyah 24 Surabaya Menggelar Jelajah Kepahlawanan Virtual
Sementara itu, SD Muhammadiyah 24 Ketintang Surabaya memperingati Hari Pahlawan 10 November 2020 ini, dengan menggelar Jelajah Kepahlawanan Virtual di empat lokasi bersejarah di Kota Surabaya, yakni di Monumen Tugu Pahlawan, Hotel Yamato atau sekarang bernama Hotel Majapahit, Jembatan Merah dan Gedung Internatio dilakukan para ustadz – ustadzah dengan melakukan peliputan dan menayangkan cuplikan video, serta menayangkan pidato Bung Tomo secara live.
Menurut Kepala SD Muhammadiyah 24 Surabaya, Ustadzah Norma Setyaningrum SPd, dalam peringatan Hari Pahlawan tahun ini yang masih dalam kondisi pandemi Covid 19 diharapkan para siswa tetap mendapatkan pengalaman yang bermakna dan merasakan moment peringatan Hari Pahlawan. Sebab tahun ini memang berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya saat tidak ada pandemi, dimana para siswa dan ustadz – ustadzah bisa menggelar apel secara outdoor, tetapi tahun ini harus digelar secara virtual, sehingga ada ide Jelajah Kepahlawanan Virtual.
Meski sebenarnya, jelas Ustadzah Norma, bila tidak ada pandemi Covid 19 dan menggelar peringatan secara riil akan kesulitan bila harus berpindah – pindah lokasi tempat – tempat bersejarah peristiwa heroik terjadinya pertempuran 10 November.
“Tetapi dengan peringatan yang digelar secara virtual ini justru menjadi peluang, sehingga para siswa bisa mengetahui kronologi terjadinya pertempuran 10 November 1945 itu, yang dimulai dari Bulan September 1945 saat Tentara Sekutu masuk Indonesia melalui Pelabuhan Tanjung Perak hingga perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato, ada Biro yang berunding antara pihak Indonesia dan pihak Sekutu. Maka para Ustadz -ustadzah juga mengunjungi Gedung Internatio tempat perundingan digelar, hingga terjadi konflik dan tertembaknya Aubertin Walter Sothern (AWS) Mallaby atau dikenal dengan Brigadir Jenderal Mallaby di Jembatan Merah. Itulah yang ingin kami sampaikan kepada para siswa, betapa panjang perjuangan Indonesia itu mempertahankan kemerdekaan, sebab posisi Indonesia sudah merdeka tetapi penjajah ingin menguasai kembali Negara Indonesia. Maka Bung Tomo menggelorakan pidatonya yang terkenal itu, sehingga bisa membakar semangat Arek – arek Suroboyo untuk melawan penjajah hingga terjadilah peristiwa 10 November 1945 yang terkenal hingga di seluruh dunia, sebab di Indonesia lah Jenderal Sekutu tertembak mati,” papar Ustadzah Norma.
Peringatan Hari Pahlawan 10 November antara SD Muhammadiyah 6 Surabaya dan SD Muhammadiyah 24 Surabaya hampir sama. Para siswa diajak melihat video cuplikan tempat bersejarah pertempuran 10 November 1945 secara virtual, menyanyikan lagu – lagu perjuangan, diantaranya Surabaya Oh Surabaya. Di SD Muhammadiyah 24 Surabaya juga diisi orasi tentang pahlawan oleh siswa dan pembacaan puisi. [fen]

Tags: