Pers di Tengah Serbuan Media Digital

Oleh:
Sugeng Winarno
Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
Hari Pers Nasional (HPN) diperingati setiap tanggal 9 Februari. Tahun 2020 ini, rangkaian acara peringatan HPN digelar di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Perayaan HPN tahun ini mengambil tema “Pers Menggelorakan Kalimantan Selatan Gerbang Ibu Kota Negara”. Peringatan HPN ini merupakan momentum bagi insan pers kembali melihat eksistensi dirinya di tengah era perubahan saat ini. Tantangan pers kini cukup berat di tengah serbuan media digital dan migrasi masyarakat dalam menggunakan media dan memenuhi kebutuhan akan informasi.
Lahirnya media baru (new media) berupa internet, media online, dan beragam platform media sosial (medsos) menjadi tantangan yang harus dihadapi pers. Pers dalam pengertian media cetak, juga mengalami tantangan dengan pers dalam wujud media elektronik dan online. Apalagi insan dan produk pers juga harus berhadapan dengan medsos yang saat ini banyak digunakan oleh masyarakat sebagai sumber informasi yang utama.
Pergeseran atau migrasi penggunaan media tak lepas dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin memanjakan konsumen media. Sementara dari sisi produsen media, menyajikan produk jurnalistik online dirasa lebih efisien dan mempunyai penetrasi yang cukup kuat bagi masyarakat. Tren baru ini menjadikan sejumlah institusi pers dituntut memutar otak guna mengemas dan menyajikan produk jurnalistiknya agar laris manis.
Serbuan Media Digital
Pers, baik cetak maupun elektronik dulu memang menjadi rujukan utama masyarakat dalam mencari informasi. Media arus utama (mainstream media) mempunyai kredibilitas dan tingkat kepercayaan yang tinggi di masyarakat. Media cetak berupa koran, majalah, buletin, dan media elektronik seperti televisi dan radio telah memainkan peran yang signifikan dalam memenuhi kebutuhan informasi masyarakat.
Namun semenjak lahirnya medsos, keberadaan media arus utama mengalami hantaman yang serius. Saat ini semua orang bisa memproduksi informasi, mengunggah, dan memviralkannya lewat medsos. Berita yang sebelumnya menjadi ranah kerja jurnalis, kini tergeser oleh para penguna internet (netizen), dan para pemilik akun Twitter, Facebook, Instagram, Youtube, WhatsApp, dan beragam bentuk media baru lain.
Menurut UU Pers, produk pers adalah produk berita dan informasi yang dicari, ditulis, dan disampaikan oleh wartawan atau jurnalis. Kalau bukan oleh wartawan, maka produk informasi dan berita itu bukan termasuk produk pers. Namun dalam praktiknya, saat ini banyak pengguna medsos yang memproduksi dan menyebarkan informasi dan berita. Informasi di medsos tak terverifikasi dan tak sesuai dengan kaidah jurnalisme.
Unggahan berita dan informasi dari para pengguna medsos dan netizen ini bukan produk pers namun justru informasi dan berita yang banyak beredar di medsos itu dikonsumsi dan dipercaya banyak orang. Tak sedikit masyarakat yang rujukan informasinya tak dari koran, televisi, radio, atau media arus utama yang kredibel, tetapi justru lewat medsos. Situasi ini mengindikasikan telah terjadi perpindahan atau migrasi penggunaan media oleh masyarakat.
Informasi di medsos selama ini tak akurat. Munculnya beragam berita bohong (hoaks) banyak melalui medsos. Hal ini membuktikan bahwa informasi yang banyak beredar di medsos tak kredibel dan tak layak dipercaya. Ini tentu berbeda dengan produk pers dari media massa arus utama yang sudah melalui proses yang teruji. Kredibilitas informasi di media arus utama yang menjadikan kekuatan produk pers dibandingkan informasi produk medsos.
Peran yang harus dimainkan oleh insan pers adalah sebagai penjernih informasi dari maraknya hoaks di medsos. Disaat informasi tersedia dengan jumlah yang masif hingga menjadi banjir informasi, maka masyarakat perlu disajikan informasi yang benar. Pers harus hadir sebagai media cross check masyarakat terhadap beragam informasi palsu. Kalau pers mampu memainkan peran ini maka institusi dan produk pers akan tetap eksis dan tak ditinggalkan masyarakat.
Menjaga Peran Ideal
Kehadiran pers bisa menjadi pilar keempat demokrasi. Pers tak hanya mengemban fungsi memberi informasi (to inform), mendidik (to educate), dan menghibur (to entertain) saja, namum pers juga harus menjadi media kontrol sosial. Praktik pers tak boleh meninggalkan laku idealisme perannya dan menggadaikannya demi pertimbangan bisnis semata. Ya, pers, media massa memang institusi bisnis yang harus hidup dari iklan dan jualan space dan slot tayangan, namun peran idealnya tetap harus mendapat porsi yang cukup.
Idealisme pers juga tak boleh digadai dengan alasan karena institusi dan insan pers harus menghamba pada sang pemilik yang sekaligus seorang politisi misalnya. Konflik kepentingan sering muncul karena kebijakan redaksi tak jarang terintervensi oleh kepentingan politik sang pemilik. Pers tanah air masih belum steril dan merdeka dari konflik kepentingan antara pihak pemilik dan ruang redaksi (newsroom).
Pers tanah air juga belum mampu menjalankan peran dan fungsinya dengan ideal karena angka kekerasan pada jurnalis juga masih tinggi. Tahun 2019, kekerasan fisik yang menimpa jurnalis masih cukup tinggi. Kekerasan berupa perusakan alat dan hasil liputan, teror, pemidanaan atau kriminalisasi, dan pelarangan liputan. Dari sejumlah kasus yang merugikan insan pers tak semua berakhir di pengadilan dan pelakunya diganjar dengan hukuman yang layak.
Dari sejumlah kasus yang menimpa kerja jurnalis dapat berpengaruh pada angka indeks kebebasan pers di Indonesia. Tahun lalu, Indonesia menempati urutan ke 124 kebebasan pers oleh lembaga pemeringkatan internasional Reporter Without Border yang berpusat di Paris. Angka kebebasan pers di Indoensia tak kunjung membaik. Angkanya masih berkutat tak jauh dari peringkat ratusan pada setiap tahunnya.
Menjaga peran ideal pers memang harus dilakukan tak hanya oleh insan pers semata. Semua pihak, pemerintah, aparat penegak hukum, aparat keamanan, dan semua masyarakat turut berperan dalam mewujudkan pers Indonesia yang ideal. Bagi insan pers sendiri juga dituntut meningkatkan profesionalismenya dalam penjalankan profesi yang mulia ini. Insan pers diharapkan mampu merujuk apa yang diharapkan oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel.
Selamat HPN 2020 bagi pers tanah air. Semoga kehidupan pers tetap eksis di tengah era perubahan teknologi informasi dan komunikasi, serbuan media digital global, dan migrasi konsumsi media oleh masyarakat. Hanya melalui kerja pers yang inovatif, pengikuti perkembangan zaman, dan profesional yang akan menjadikan pers tetap eksis dan tak ditinggalkan masyarakat.
———– *** ———–

Rate this article!
Tags: