Persiapan PTM, 4.896 Siswa Kelas 9 SMP se-Surabaya Jalani Tes Swab


Siswa kelas IX SMPN 1 Surabaya saat mengikuti tes swab. Sebelum PTM dimulai, seluruh siswa diwajibkan mengikuti tes swab. [zaenal ibad]

Surabaya, Bhirawa
Sebelum memulai Pembelajaran Tatap Muka (PTM) tentang SMP, Pemkot Surabaya melakukan tes swab kepada pelajar kelas IX SMP negeri maupun swasta se-Surabaya. Total ada 4.896 siswa yang test swabnya digelar selama dua hari.
“Sebenarnya untuk jumlah pelajar kelas VII hingga kelas IX 3 SMP di Surabaya jumlahnya mencapai 12 ribu siswa. Tetapi kali ini swab khusus untuk kelas 3 dengan total 4.896 siswa,” kata Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya, Febriadhitya Prajatara, dikonfirmasi, Kamis (26/11).
Rencananya PTM untuk kelas IX SMP itu akan berlangsung pada awal Desember 2020 mendatang. Maka berbagai persiapan telah dilakukan Pemkot Surabaya mulai tes swab guru, karyawan sekolah dan sekarang swab bagi pelajar. Sedangkan, untuk kelas VII dan VIII, swab akan dilaksanakan pada awal tahun mendatang.
“Ini bertahap ya, jadi saat PTM dimulai maka dipastikan seluruhnya negatif Covid 19. Tetapi tetap dengan Protokol Kesehatan (Prokes) yang ketat,” urainya.
Tidak hanya itu, Febri memaparkan, untuk mekanisme pelaksanaan swab, para pelajar cukup datang ke sekolah, kemudian petugas dari Puskesmas yang mendatangi sekolah sesuai dengan masing-masing wilayah. Seperti SMPN 1 Surabaya, petugas Puskesmas yang datang berasal dari Ketabang, Rangkah, Pacar Keling dan Gading.
“Tesnya di sekolah masing – masing. Artinya Puskesmas yang mendatangi, siswa cukup datang ke sekolah saja,” terang dia.
Salah satu sekolah yang menyelenggarakan swab di SMPN 28 Surabaya. Dari 1.190 siswa hanya 444 siswa kelas IX melakukan tes usap. Sedangkan 10 diantaranya karena sakit dan tak dapat Izin dari orang tua.
“Hari ini (kemarin, red) hampir 99% siswa masuk semua untuk tes usap. Sedangkan test Swab untuk para guru sudah di Bulan Oktober kemarin tapi ini tadi siswa. Alhamdulillah kondisi guru di Bulan Oktober negatif,” ujar Kepala SMPN 28 Surabaya, Triworo Parnoningrum.
Terkait persiapan PTM mendatang, Woro menjelaskan jika nantinya kapasitas setiap jenjang sebesar 30 untuk setiap kelasnya, selama tiga hari. Jadi, setiap siswa akan mengikuti pembelajaran Luring atau tatap muka selama dua kali dalam seminggu. ”Pembelajaran dilakukan hanya tiga jam dalam sehari. Setiap guru akan mengajar Daring dan Luring,” jabarnya.
Sebagai sekolah inklusi, pihaknya juga menyiapkan model pembelajaran bagi 39 siswa disabilitas. Model pembelajaran disesuaikan dari hasil asesmen untuk melihat kesiapan siswa secara psikis.
“Kita akan tahu bagaimana kesiapan mereka. Jam pembelajaran siswa (difabel) juga tidak seperti anak reguler. Mereka mengikuti perkembangan psikis. Jadi jika mampu sejam kita beri satu jam. Kami juga memberikan kemudahan layanan bagi anak layanan khusus atau dengan kata lain siswa yang broken home, orang tuanya kena PHK dan masalah ekonomi, siswa yang keluarganya kena Covid 19 kita lakukan assement untuk kesiapan psikisnya,” jabarnya.
Woro juga menyebut, dalam pelaksanaan PTM syarat utama yang harus dipenuhi siswa adalah harus sehat, sudah melakukan tes usap, tidak ada kormobid di keluarga, persetujuan orang tua dan orang tua berkenan untuk melakukan antar jemput anaknya. ”Kalau tidak bisa antar jemput harus ada jaminan ketepatan waktu berangkat sekolah dan pulang sekolah secara tepat waktu,” pungkasnya. [iib.ina]

Tags: