Persiapkan AN 2021, Dindik Mulai Sosialisasi di Jenjang SD

Kepala Bidang Sekolah Dasar Dindik Kota Surabaya, Muhammad Aries Hilmi sosialisasikan AN jenjang SD.

Dindik Kota Surabaya, Bhirawa
Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Surabaya mulai mensosialisasikan Asesment Nasional (AN) di jenjang SD. AN sendiri merupakan evaluasi belajar yang digunakan Kemdikbud tahun 2021 sebagai pengganti Ujian Nasional (UN), berupa potret secara komprehensif untuk melakukan evaluasi diri dan perencanaan perbaikan mutu pendidikan.
Menurut Kepala Bidang Sekolah Dasar Dindik Kota Surabaya, Muhammad Aries Hilmi, AN terdiri atas Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) literasi – numerasi, survei karakter, dan survei lingkungan. Konsepnya, ada siswa, guru, dan wali murid yang ditunjuk secara acak untuk menjadi responden AN. Dia meminta kepada kepala sekolah agar AN tidak dimaknai sebagai pengganti UN.
Pasalnya, AN akan digunakan untuk mengukur kinerja sekolah secara umum. Meskipun demikian, pihaknya tetap menyiapkan AN secara optimal. ”Ini melibatkan semua masyarakat pendidikan. Sekolah tidak bisa memilih siswa atau wali murid mana yang akan menjadi responden. Karena pemilihan acak melalui Dapodik,” ungkapnya.
Hilmi menjelaskan, sesuai dengan timeline dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), peserta AN adalah siswa jenjang kelas V SD. Pelaksanaan dilakukan selama dua hari pada Bulan Agustus.
“Di hari pertama, akan ada tes literasi selama 75 menit dan survei karakter dengan durasi waktu selama 20 menit. Sementara di hari kedua meliputi tes numerasi selama 75 menit dan survei lingkungan belajar selama 20 menit,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Kurikulum Sekolah Dasar Dindik Surabaya, Munaiyah menambahkan AN merupakan kolaborasi mulai dari tingkat pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota. Sebelum AN digelar, telah ada simulasi sebanyak tiga kali.
“Pada simulasi pertama melibatkan tim teknis dan proktor. Kemudian pada simulasi kedua diikuti 15 orang guru dari sekolah-sekolah yang ditunjuk dan tim teknis di dinas sebagai proktor,” jelasnya.
Untuk simulasi ketiga telah dilaksanakan pada Bulan Desember 2020 lalu diikuti oleh siswa. Dari 15 sekolah yang dipilih kementerian, kemudian diminta mendaftarkan lima siswa untuk mengikuti simulasi.
“Pada saat simulasi dengan peserta siswa, guru yang semula mengikuti simulasi, mereka menjadi proktor. Saat simulasi ini, pelaksanaan dilakukan Daring atau online full. Aplikasi dari kementerian kemudian dibagikan untuk peserta asesmen, dan ada yang untuk tim proktor,” katanya. [ina]

Tags: