Persik Ungkapkan Keresahan yang Bakal Dialami Klub Liga 1

Foto Ilustrasi

Kota Kediri, Bhirawa
Persik Kediri mengingatkan kembali soal keresahan yang akan dialami klub Liga 1 ketika kompetisi berjalan di tengah pandemi. Sehingga klub berjuluk Macan Putih itu meminta PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) lebih memperhatikan klub peserta.
Khususnya berkaitan dengan kepastian regulasi liga bertajuk kompetisi luar biasa (extraordinary competition) itu. Sebab, sampai saat ini, klub belum mendapatkan kepastian.
Presiden Klub Persik Kediri, Abdul Hakim Bafagih, mengakui ada kekhawatiran yang masih menyelimuti klub sebelum kompetisi bergulir 1 Oktober. Setidaknya ada empat hal yang membuat resah. ”Kami perlu mengungkapkan keresahan itu karena Persik ingin kompetisi nanti berjalan lancar dengan regulasi yang jelas,” kata Hakim.
Yang pertama, terkait dengan renegosiasi kontrak antara klub dengan pemain dan pelatih. Hakim mengatakan, PSSI dan PT LIB perlu mengantisipasi jika tiba – tiba kompetisi lanjutan berhenti di tengah jalan. Sementara klub sudah melakukan renegosiasi dan pembayaran kontrak sesuai kesepakatan. ”Karena sekali lagi, kita tidak bisa memprediksi pandemi Covid 19 kapan berakhir. Khawatir liga berhenti lagi,” ujarnya.
Berikutnya, lanjut Hakim, soal siapa yang bakal menanggung ketika ada pemain atau offisial yang dinyatakan reaktif atau positif Covid 19. Sebenarnya, klub tidak menginginkan hal itu terjadi. Tetapi, PT LIB perlu memikirkannya dengan matang. Ketiga, menurut Hakim, masih berhubungan dengan hak komersial klub. Sejak awal, Persik mengusulkan setiap klub menerima Rp1,2 sampai Rp1,5 miliar per bulan. Bukan Rp800 juta. ”Kami mempunyai hitung – hitungan angka hak komersial,” ungkapnya.
Hitungan itu didasarkan pada jumlah kapasitas rata – rata stadion di Indonesia dan harga tiket pertandingan. Kapasitas rata-rata stadion sebanyak 25.600 penonton dengan harga tiket Rp50 ribu per orang. ”Setelah itu dikalikan beberapa pertandingan home sisa, ketemunya jadi Rp19,2 miliar,” ujarnya.
Kemudian, jika diasumsikan stadion terisi separuh, pendapatan yang diperoleh menjadi Rp9,6 miliar. Lalu setelah dibagi delapan bulan, jadi Rp1,2 miliar. ”Itu dasar perhitungannya,” terang Hakim.
Terakhir, klub kembali menagih regulasi protokol kesehatan. Pasalnya, sejauh ini, klub belum menerima Prosedur Tetap (Protap). Mengingat klub akan menggelar latihan perdana di tengah pandemi awal bulan ini, Hakim berharap protokol kesehatan bisa disampaikan kepada klub secepatnya.
“Kami ingin panduan protokol kesehatan menjadi bagian penting dalam upaya mencegah penyebaran Covid 19,” pungkasnya. [van]

Tags: