Pertama Kali Menulis Esai, Langsung Juara Nasional

Tsabitah Zain Mumtaz

Tsabitah Zain Mumtaz
Usai mengikuti pelajaran antropologi tentang masalah sosial, dan mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia tentang kalimat opini dan fakta. Siswi SMAN 4 Sidoarjo, Tsabitah Zain Mumtaz yang sudah terbiasa menulis Cerpen dan cerita fiksi, ingin mencoba hal yang baru, keluar dari zona nyaman.
Selanjutnya siswi kelas XII Bahasa SMAN 4 Sidoarjo ini mencoba menulis esai untuk pertama kali, dan ternyata berhasil menjadi juara pertama tingkat nasional diajang OSEBI (Olimpiade Seni dan Budaya Indonesia) 2021. Dan esai berjudul Gotong Royong Melawan Hoak Melalui Platform Youtube berhasil menyisihkan para pesaingnya dari seluruh Indonesia.
“Saya bahagia, kaget, terharu dan menangis, karena tidak menyangka bisa menjadi juara. Padahal niatnya ingin beralih dari zona nyaman dan ingin mencari sertifikat untuk ikut SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) tahun ini, alhamdulillah berhasil, dan langsung ikut pendaftaran SNMPTN,” ungkap Tsabitah ditemui di sekolahnya, Selasa (2/3) kemarin.
Tsabitah mengaku, dalam lomba ini memang temanya tentang gotong royong. Itu yang membuatnya bingung. Menurutnya, pada masa pandemi seperti saat ini bagaimana caranya bisa bergotong royong, padahal ketemu saja susah, apalagi berkerumun juga tidak boleh. Sehingga memanfaat teknologi, yakni menggunakan sosial media yang tidak perlu kontak langsung dengan seseorang.
“Mengapa Gotong Royong Melawan Hoak saya pilih, karena kondisi sekarang ini banyak sekali informasi hoak tentang virus Covid 19. Sayangnya masih banyak di medial sosial masyarakat yang kurang mematuhi Protokol Kesehatan. Berkerumun dimana – mana masih ada, padahal Virus Corona itu jelas – jelas ada. Maka dengan memanfaatkan media sosial saya membuat bebarapa komunitas, dengan berbagai macam komentar. Saya memberi materi tentang hoak dan mereka menyampaikan beberapa macam tanggapan. Itu saya lakukan dalam waktu hanya seminggu,” jelas Alumnus SMPN 1 Wonoayu Sidoarjo.
Siswa yang bercita-cita menjadi guru ini mengaku sebelumnya pernah membuat cerita fiksi tentang Lumpur Lapindo Sidoarjo, juga tentang Kerajaan Jenggala yang ada di Sidoarjo. Sehingga kebiasaan menulis Cerpen terus pindah haluan itu ternyata sangat berat dan sulit sekali.
“Menulis Cerpen dengan gaya bebas dan imajinatif, begitu menulis lomba Esai bahasanya harus terstruktur, harus terukur, harus faktual atau asli. Tulisannya harus ilmiah dengan bahasa yang baku,” tandasnya. [ach]

Tags: