Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia Terus Melonjak

Foto: ilustrasi

Kota Malang, Bhirawa
Pada tahun 2020 ini, industri digital di Indonesia melonjak tajam. Dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, terjadi ledakan pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia yang luar biasa.
Google, Temasek, dan Bain Company memperkirakan GMV ekonomi berbasis internet Tanah Air telah menembus US$40 miliar pada 2019 dan bakal menyentuh US$133 miliar pada 2025 mendatang.
Partner, East Ventures, Melisa Irene, di Malang, Jumat, 27/3 kemarin menuturkan,
Indonesia adalah pasar digital terbesar di Asia Tenggara, bahkan telah berkontribusi terhadap 40 persen dari ekonomi internet di regional. Dalam menarik uang investor, Indonesia menempati peringkat kedua setelah Singapura. Industri digital Indonesia juga melahirkan lebih banyak unikorn dibanding negara lain di Asia Tenggara.
Melisa mengungkapkan East Ventures semakin berambisi menjadi platform wirausaha teknologi Indonesia.
Ada tiga bekal utama yang menjadi acuan East Ventures yakni, potensi pengguna internet di Indonesia, tingkat adopsi digital, dan perkembangan smartphone yang luar biasa.
East Ventures kata dia kini telah berinvestasi di lebih dari 170 perusahaan startup di Indonesia. Termasuk sebagai investor pertama yaitu Tokopedia dan Traveloka.
“Kami juga menjadi pemodal pertama di Kudo, Warung Pintar, IDN Media,Sociolla, Waresix, dan Ruangguru. Hampir semua dari 170 Startup tersebut memiliki founder lokal yang belum pernah mengelola perusahaan,‚ÄĚtutur Melisa.
Ia menambahkan perusahaan dari
negara lain sulit meraih status unikorn tanpa hadir di Indonesia. Industri digital adalah perekonomian yang berbasis penguasaan teknologi dan pengetahuan. Bukan bertumpu pada penguasaan aset.
” Ini membuka kesempatan yang sama bagi perusahaan rintisan untuk mengambil peran sentral dalam membangun ekonomi digital Indonesia bersama korporasi raksasa dan perusahaan multinasional,”tambahnya.
Ada sekitar 140 juta penambahan pengguna Internet di Indonesia di tahun 2009-2019. Hampir semuanya mengenal dunia maya melalui smartphone.
Dengan melibatkan mereka ke dalam perekonomian digital, Indonesia bisa mengubah bonus demografi menjadi dividen demografi. Mengubah potensi menjadi realisasi.
Selain itu, East Ventures memiliki Digital Competitiveness Index (EV-DCI) atau Daya Saing Digital. Ini merupakan alat yang digunakan untuk mengukur kondisi ekonomi digital di wilayah Indonesia berdasarkan tiga aspek. Ketiganya adalah aspek input yang mencakup sejumlah pilar utama yang mendukung terciptanya ekonomi digital, aspek output yang menggambarkan sejumlah pilar terkait ekonomi digital yang dihasilkan, serta aspek penunjang yang mendukung secara tidak langsung pengembangan ekonomi digital.
Berdasarkan ketiga aspek tersebut (input,output dan penunjang), secara umum EV-DCI Indonesia bernilai 27,9. Dengan skala 0-100, angka ini memperlihatkan bahwa daya saing digital Indonesia masih terbilang rendah.
Artinya, dengan jumlah penduduk hampir 270 juta jiwa dan pengguna internet 171 juta pelanggan pada 2018, Indonesia masih memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital. (mut)

Tags: