Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Buat Skema Kedatangan Santri Bergelombang

Ketua Yayasan Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, KH Wafiyul Ahdi (Gus Wafi), Senin sore (22/06). (arif yulianto/bhirawa)

Jombang, Bhirawa
Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang membuat skema untuk kedatangan para santrinya secara bergelombang. Kedatangan santri pada gelombang pertama yakni pada tanggal 1 hingga tanggal 3 Juli 2020. Gelombang kedua dijadwalkan pada tanggal 1 hingga 3 Agustus 2020, dan kedatangan santri gelombang ke ketiga pada tanggal 1 hingga 3 September 2020.

Hal ini seperti dijelaskan oleh Ketua Yayasan Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, KH Wafiyul Ahdi (Gus Wafi), Senin sore (22/06).

Gus Wafi mengungkapkan, skema kedatangan santri secara bergelombang ini berdasarkan keputusan Majelis Pengasuh dan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang.

“Yang masuk gelombang pertama ini, santri-santri yang kelas XII dan kelas IX. Jumlahnya maksimal 3000-an santri yang akan datang pada gelombang pertama,” kata Gus Wafi.

Namun yang perlu difahami oleh seluruh wali santri (orang tua santri) kata Gus Wafi, syarat kedatangan santri ke Pesantren Bahrul Ulum ini yang paling pokok yakni jika wali santri mengizinkan.

“Orang tuanya memberikan izin anaknya kembali ke pesantren. Kalau orang tuanya khawatir apabila anaknya kembali ke pesantren, maka anaknya diperbolehkan untuk menunda kedatangannya di pesantren. Jadi intinya adalah, orang tuanya harus mengizinkan,” papar Gus Wafi.

Kemudian lanjut Gus Wafi, persyaratan santri boleh kembali ke pesantren, selain izin dari orang tua (wali santri), mereka juga harus membawa surat keterangam sehat hasil rapid test.

“Ini kami menganggap sebagai upaya yang minimal untuk mensecreaning santri yang datang ke pondok dari berbagai daerah di Jawa Timur, bahkan di Jawa atau di Indonesia, dari berbagai daerah datang ke Bahrul Ulum, maka ‘sreaning’ yang paling dasar ini adalah harus menunjukkan hasil non reaktif dari rapid test,” papar Gus Wafi lagi.

Setelah datang ke pesantren dan menunjukkan hasil non reaktif rapid test, sambung Gus Wafi, para santri juga akan di karantina di masing-masing asrama. Karena kebetulan asrama para santri ini masih kosong, maka kata Gus Wafi, sehingga para santri ini nantinya bisa menempati kamar yang tersedia.

“Karena yang datang itu hanya Sepertiga, maka kamar yang biasanya isinya 10 (santri), bisa diisi maksimal 3 orang,” ungkap Gus Wafi.

Sehingga dengan jumlah santri per kamar seperti yang digambarkan itu, Gus Wafi mengatakan, jumlah tersebut sangat ideal untuk ‘Pysical Distancing’.

Selain itu, pihaknya juga mengharapkan kepada Pengasuh-Pengasuh Pesantren Bahrul Ulum juga menyediakan satu kamar khusus untuk isolasi mandiri yang diperuntukkan apabila ada santru yang terdeteksi sakit apapun.

“Maka kita minta para pengasuh untuk menempatkan santri itu di ruang isolasi yang tidak berinteraksi dengan teman-temannya,” tandas dia.

Di ruang isolasi itu lanjut Gus Wafi, santri yang sakit bisa dirawat oleh Tim Satgas Anti Covid yang dibentuk oleh Yayasan Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang.

Masih menurut Gus Wafi, untuk kegiatan di pesantren nantinya akan berjalan dengan normal sebagaimana biasanya, seperti kegiatan jama’ah, pengajian, dan kegiatan lainnya.

“Cuma bedanya, sementara, kegiatan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) Madrasah, belum bisa dilaksanakan secara tatap muka. Mereka ketika KBM Madrasah, tetap berada di pondok, untuk mengikuti pembelajaran secara Daring dari pondok,” pungkas Gus Wafi.(rif)

Tags: