Pesantren Segera Dibuka

foto ilustrasi

Pengajaran di pesantren akan segera dibuka, bersamaan dengan PPDB (Pendaftaran Peserta Didik Baru) sekolah. Persiapan pelaksanaan protokol telah dilakukan kyai (pengasuh pesantren), berkait dengan daya tamping asrama santri. Serta persiapan pendidikan umum (sekolah) di dalam pesantren. Dipastikan, pola pengajaran, dan pergaulan di pesantren akan disesuaikan dengan protokol kesehatan. Terutama jaga jarak antar-orang.

Pondok pesantren telah memulangkan santri, sejak awal Maret, bersamaan dengan libur akhir tahun ajaran, dan libur Ramadhan. Libur santri semakin panjang seiring protokol PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Sebanyak 10 juta-an santri dipulangkan. Termasuk santri luar negeri, terbanyak (80%) dari pesantren di Jawa Timur. Selain di Jawa Timur, santri luar negeri juga terdapat di Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Santri yang dipulangkan seluruhnya dalam keadaan sehat.

Jumlah santri yang menyatakan kembali ke pesantren asal sekitar 80%. Sisanya memilih pendidikan di luar pesantren, dan pindah ke pesantren lain. Tetapi pondok pesantren juga menerima santri baru. Sekaligus calon peserta didik baru sekolah di lingkungan pesantren. Sebagian pesantren telah menutup pendaftaran santri baru sejak akhir bulan Januari 2020. Karena kuota calon santri (berdasar kapasitas asrama, dan rombongan belajar) sudah penuh.

Berdasar data Kementerian Agama RI, di seluruh Indonesia terdapat 28.194 lembaga pondok pesantren. Jumlah santri yang bermukim di dalam pesantren sebanyak 5 siswa. Namun sebenarnya pondok pesantren memiliki “warga” sebanyak 20 juta-an jiwa. Terdiri dari santri mukim (5 juta orang), santri pelajar sekolah di pesantren (13,5 juta anak), serta tenaga pengajar, dan administrasi sebanyak 1,5 juta orang. Pertumbuhan jumlah “warga” pesantren setiap tahun bertambah sekitar 10%.

Hampir seluruh pesantren memiliki lembaga pendidikan formal umum (SD, SMP, Madrasah Tsanawiyah, SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah) sampai perguruan tinggi. Bahkan sejak dekade 1980-an pemerintah memulai kerjasama dengan pesantren, mendirikan sekolah negeri. Hingga kini semakin banyak sekolah negeri berada di dalam pesantren. Terutama SMP, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, dan SMK. Tidak semua siswa sekolah negeri (dan swasta) di dalam pesantren yang bermukim sebagai santri.

Pendidikan di pesantren akan segera dibuka (pekan ini) melalui Keputusan Menteri Agama. Diiringi dengan sosialisasi protokol kesehatan “new normal.” Hampir seluruh lembaga pendidikan (termasuk sekolah negeri) tidak mudah menyesuaikan dengan protokol kesehatan. Misalnya, jumlah peserta didik dalam satu rombongan belajar. Berdasar protokol kesehatan tidak lebih dari 20 siswa per-ruang kelas. Padahal biasanya mencapai 40 siswa.
Protokol kesehatan yang berkait dengan kapasitas ruang kelas, bukan hal mudah. Berkonsekuensi dengan penambahan ruang kelas baru, dan rekrutmen guru baru. Harus diakui, Pemerintah daerah (propinsi, serta kabupaten dan kota) memiliki beban penambahan rombongan belajar. Tidak bisa tidak, harus disediakan anggaran pembangunan penambahan ruang kelas baru, bersumber dari APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah).

Pemerintah propinsi bertanggungjawab menambah ruang kelas X. Sedangkan pemerintah kabupaten dan kota, wajib membangun ruang kelas baru untuk kelas VII. Termasuk sekolah negeri yang breda di pesantren juga memerlukan penambahan ruang kelas. Namun, tidak berat manakala pemerintah daerah mematuhi konstitusi. Yakni, UUD pasal 31 ayat (4) tentang anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBD.

Seluruh santri di Indonesia telah melaksanakan proses “belajar di rumah” selama 12 pekan. Yang terasa lebih berat, bukan kejenuhan di rumah. Melainkan rindu bertemu kyai yang membimbing di pesantren dengan keberkahan. Juga ke-riang-an hidup mandiri bersama anak-anak sebaya.

——— 000 ———

Rate this article!
Pesantren Segera Dibuka,5 / 5 ( 1votes )
Tags: