Pesona Lato-Lato di Tahun Politik

Oleh :
DR (C) Hendro Puspito, SE, M.PSDM.
(Pengusaha /Sekretaris Umum PBSI Jawa Timur/ Mahasiswa Program Doktor Pengembangan Sumber Daya Manusia Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga)

Gandrung lato-lato tak terbendung. Mendekati penghujung tahun 2022 menjadi tren permainan yang digemari semua kalangan. Baik anak kecil atau dewasa gemar memainkan. Dua bola plastik yang diberikan tali dan pegangan menjadi bandulan. Jika diadukan muncul suara khasnya. Tek-etek, etek-etek, etek-etek. Jika sudah bermain, lupa makan lupa tidur. Hutang pun lupa. Asal suami atau istri tidak dilupakan he he. Itulah candaan para pemain yang sedang asyik. Suasana merakyat di perkampungan, kota-kota menambah gairah bercengkrama. Harganya murah, semua orang bisa beli. Tapi tidak semua orang bisa memainkan. Perlu latihan, kesabaran dan konsentrasi.
Lato-lato sudah viral sejak tahun 1960-an. Generasi tua tak heran dengan permainan ini. Ketika ramai lagi di akhir tahun 2022, memberikan sebuah ingatan di jaman muda. Kenangan lama muncul kembali. Terbawa memori yang tak terpisahkan dari siklus kehidupan. Tidak ada perbedaan si kaya dan si miskin jika bermain lato-lato. Siapa paling lama memainkan, akan menang. Suasana penuh canda tawa. Terbawa susasana penuh guyub rukun. Seakan-akan tidak ada konflik. Perbedaan dikesampingkan. Kalah dengan aura lato-lato.

Meningkatkan Ekonomi
Hampir merata dari sabang sampai merauke. Demam lato-lato menambah jumlah enterpreneur dadakan. Setiap sudut kota, pasar, trotoar penuh dengan penjual. Permintaan signifikan. Omzet perhari bervariasi. Ada yang 1 juta, 3 juta bahkan 15 juta per hari. Jika diambil rata-rata perbulan, bisa kaya mendadak. Permintaan terus meningkat sepanjang hari. Artis pun tidak ketinggalan. Media sosial dipenuhi konten lato-lato. Tiap detik akan muncul. Peluang usaha ini jangan terlewatkan. Semua orang bisa meraup omzet mainan ini. Tidak perlu susah belajar jadi pengusaha. Ketika permintaan meningkat, produksi juga meningkat. Atur strategi pemasaran akan menarik pelanggan. Persaingan ketat. Gunakan media sosial sebagai ajang untuk promosi. Tidak harus berjualan di pasar atau dijalan. Mudah saja, cukup lewat market place seperti shopee, toko pedia, lazada dan masih banyak lagi.
Personal selling/jemput bola, bisa menjadi referensi untuk strategi pemasaran. Menurut Kotler & Keller (2012;626) personal selling adalah interaksi langsung dengan satu calon pembeli atau lebih guna melakukan presentasi, menjawab pertanyaan dan menerima pesanan. Strategi pemasaran ini bisa digunakan dalam bisnis musiman. Karena siapa cepat akan dapat. Cara berjualan dengan gaya nyentrik. Unik dan membuat orang penasaran. Soal harga akan kalah dengan kepuasan. Ketika pembeli puas dengan pelayanan, maka akan getok tular/dari mulut kemulut. Promosi gratis pun akan didapat.

Kontroversi Lato-lato
Pada tahun 1960-an orang-orang asyik bermain lato-lato bebas lepas. Tertawa gembira dan penuh suka cita. Bagaimana dengan sekarang? Pro kontra terjadi. Ada kalangan masyarakat atau pun seorang tokoh menentang permainan ini. Ada yang menyebutkan, suaranya berisik dan mengganggu. Bahkan melarang anak-anak bermain lato-lato. Tentunya setiap permainan ada sisi positif dan negatif. Tergantung bagaimana menyikapi dan antisipasi.
Dampak positifnya lebih banyak ketimbang negatifnya. Positifnya adalah mampu mengurangi permainan gadget atau handphone. Meningkatkan daya konsentrasi. Menumbuhkan jiwa pantang menyerah. Karena memainkan lato-lato tidak mudah. Perlu terus dicoba sampai benar. Meningkatkan jiwa kompetitif. Mendorong anak-anak untuk berjuang menjadi pemenang. Meningkatkan perekonomian. Karena penjualan terus naik.
Dampak negatifnya. Jika talinya putus, jika terkena kepala bisa benjol. Terlalu lama bermain, tangan akan bengkak. Orang tua sulit mengontol jam belajar dan bermain. Kecanduan lato-lato bisa menyebabkan sakit. Karena jadwal makan akan terganggu. Ibadah rentan ditinggalkan. Jika bermain secara bersamaan, dapat mengganggu warga sekitar.
Bagaimana antisipasinya? Orang tua harus menentukan jam bermain. Secara teoritis usia yang tepat bermain lato-lato sebaiknya pada usia 8 tahun ke atas. Mengacu pada teori Jean Piaget, yang mengatakan bermain berdasarkan usia dan perkembangan kognitif anak yaitu Sensori Motor Play (usia 0-2 tahun), Symbolic (usia 2-7 tahun), Social Play Games With Rules (8-11 tahun), Game With Rule and Sport (11 tahun ke atas). Orang tua wajib berpedoman teori ini. Bermain boleh, tetapi jangan sampai mengganggu ibadah, belajar dan makan.

Pesan Moral lato-lato
Sekali lagi lato-lato ini sangat digemari. Permainan tradisional yang hidup kembali setelah puluhan tahun meredup. Mengalami kebangkitan karena adanya pelestarian. Seperti judul lagu lawas yang terangkat kembali di tik tok. Siapa yang tidak suka? Baik yang muda ataupun kalangan tua. Memori ini selalu mengenang kisah kehidupan lama. Kebangkitan ini akan berdampak pada akselerasi perekonomian. Perlu ditingkatkan dan dilestarikan. Jangan sampai punah. Setelah lato-lato, permainan tradisional apa yang akan viral? Kita tunggu ide kreatif dari kaum milenial.
Tahun 2023 adalah tahun poltik. Lato-lato ini muncul begitu saja mendekati tahun politik. Apakah secara kebetulan atau kebutuhan. Secara filosofis, ada makna yang terkadung didalamnya. Bukan hanya sekedar bunyi tek-tek, etek-etek. Lato-lato dua bola yang dibenturkan supaya menghasilkan bunyi. Jika sudah dimainkan, muncul dampak positif dan negatifnya. Tinggal dilihat dari sudut pandangnya.
Simbol dua bola yang berbenturan sangat tepat menggambarkan suhu politik yang sedang memanas. Black campaign/politik hitam masih menjadi tren pemilu dari tahun ke tahun. Menyudutkan lawan politik dengan adu domba. Membetuk propaganda. Media sosial masif sebagai promosi para Capres, Caleg dan Cakada. Para pejuang politik akan memerankan politik lato-lato. Menjadi aktor politik adu domba. Seperti dua bola lato-lato yang dibenturkan. Tetap menjaga persatuan dan kesatuan. Jangan terpecah belah. Politik boleh beda, tetapi tetap anak Bangsa. Kreatif bisa jadi solutif. Tunjukkan kemampuan bukan kemauan. Jadilah pemimpin Transformatif dan berdampak bagi kemajuan Bangsa. Ciptakan sistem demokrasi penuh kreasi. Nikmati proses politik seperti asik bermain lato-lato.

———- *** ———–

Rate this article!
Tags: