Petani Cabai Bojonegoro Panen Lebih Awal

8-foto-ABojonegoro,Bhirawa
Tingginya curah hujan selama Bulan Desember di Bojonegoro, membuat para petani cabai di Dusun Bogo, Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander Bojonegoro terpaksa harus memilih memanen lebih awal, karena khawatir cabai busuk akibat guyuran hujan.
Salah satu petani cabai merah di Dusun Bogo, Desa Ngumpakdalem, Nur arif  kepada Bhirawa Minggu (28/12) mengaku sudah khawatir dengan luapan kali dander yang semalaman diguyur hujan deres. Sebenarnya, ia ingin tetap mendulang untung dari penjualan cabai, tetapi karena takut terendam maka terpaksa dipanen dini.
“Kalau terendam lama bisa busuk daun dan buah cabainya, makanya kita panen sekarang yang seharusnya kurang satu minggu lagi baru mulai kita panen,” kata Arif.
Dia mencontohkan terendam air semalam turun hujan deras. Keesokan harinya daun cabai sudah banyak mengeriting. Kalau tidak cepat ditangani dengan penyemprotan, tanaman akan sulit berbuah.
Ia mengatakan, para petani cabai sebenarnya tergiur dengan tingginya harga cabe di pasaran. Namun pihaknya tidak berani mengambil resiko dengan tidak memanen lebih awal, karena hujan bisa turun sewaktu-waktu dan membuat panen cabai mereka gagal.
” Ya sebenarnya ingin bisa merasakan harga cabe mahal, supaya kami para petani ini bisa untung lebih banyak. Tapi kami takut, kalau cabai dibiarkan tua karena mengejar harga, tiba-tiba turun hujan. Malah gagal panen nanti,” ujarnya.
Saat ini harga cabai merah plompong rawit di pasar mencapai Rp 60 ribu sampai Rp 65 ribu per kilogram. Sedangkan di tingkat petani, harga berkisar Rp 50 ribu per kg, karena sebagian besar cabai yang dipanen kulitas kurang baik terendam banjir.
“Harga tengkulak sekarang Rp 50 ribu per kilogram, sebelumnya harga jual bisa mencapai Rp 55 ribu per kilogram. Kalau sekarang harga cenderung menurun dibanding panen yang pertama, karena panen kedua ini cabai terendam banjir dan kuliatas jelek,” teranganya.
Petani lain, Mukanan asal warga desa Ngumpakdalem menambahkan, harus memperhitungkan faktor cuaca. Harapannya dalam beberapa hari ke depan tetap cerah, sehingga masih ada waktu untuk menuntaskan panen cabai.
Sementara salah satau pedagang di pasar kota Bojonegoro, Sulastri mengaku kesulitan mendapatkan cabe rawit merah dari petani, karena petani lebih suka memanen cabenya saat masih hijau.
“Mereka kan takut busuk, makanya meski masih hijau sudah dipanen. Jadi ya kami sulit mendapat pasokan cabe rawit merah dari Bojonegoro. Kami terpaksa mengambil dari luar kota,” terangnya. [bas]

Keterangan Foto : kawatir terendam air, salah satu petani di Dusun Bogo, Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander Bojonegoro melakukan memilih memanen lebih awal, Minggu (28/12). [achmad Basir/bhirawa]

Tags: