Petani Keluhkan Harga Panen Tak Stabil

5-Tanam bersamaSidoarjo, Bhirawa
Terkait tidak menentunya harga hasil panen para petani, diantaranya padi, kedelai termasuk petani tebu yang mengasilkan gula, membuat para petani tebu mengeluh langsung ke Bupati Sidoarjo. Walaupun hasil panen harganya tinggi tetapi mereka tidak bisa menikmati.
Ketua Himpunan Keluarga Tani Indonesia (HKTI) Sidoarjo, Sarnawi yang mewakili para petani mengeluh agar pemerintah pusat maupun daerah berkoordinasi bisa menetapkan harga gula distabilkan sebesar Rp10 ribu per kilogramnya. Karena kini harga gula tak pernah stabil, hanya berkisar Rp7.500. Dengan ini para petani tak bisa menikmati, pasalnya gulanya juga tak bisa terbeli.
”Karena banyaknya gula impor yang masuk,” keluh Sarnawi usai Pencanangan Gerakan Tanam Serentak dan Peletakan Batu Pertama Perbaikan Jaringan Irigasi Dalam Rangka Mewujudkan Swasembada Pangan Nasional di Desa Wonoplintahan, Kec Prambon, Sidoarjo, kemarin (20/1).
Selain itu, Sarnawi juga meminta kepada Bupati Saiful Ilah agar memperhatikan sarana dan prasarana pertanian, begitu juga masalah pengairan, pendistribusian pupuk juga harus lancar, bahkan sampai pada tenaga kerja alias para petaninya. ”Kondisi saat ini masyarakat merasa kesulitan untuk mencari tenaga kerja, khususnya petani,” ujar Sarnawi.
Mendapat keluhan warganya, Bupati Sidoarjo Saiful Ilah langsung memberikan respon yang sangat, semua yang dikeluhkan warganya akan diperhatikan. Demi kepentingan warga, saya telah memerintahkan kepada jajaran SKPD terkait agar jangan memberikan perizinan apapun di lahan pertanian. Mengingat lahan pertanian sekarang ini sudah menyusut, tinggal 12.205 hektare dari sebelumnya sekitar 23 ribu hektare.
Sementara mengenai distribusi pupuk yang tak lancar, bahkan sulit dicari, Bupati Saiful melimpahkan permasalahannya kepada Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Perikanan (DP3) untuk segera dicarikan solusi.
Akhirnya Kepala DP3, Anik Pudjiastuti juga menegaskan kalau pihaknya telah melakukan penindakan tegas terhadap distributor yang nakal. Anik menegaskan, kini sudah ada satu distributor yang ditutup, ada satu lagi yang diperingatkan. Jadi untuk memenuhi kebutuhan warga agar bisa bertani dengan baik, serta bisa menghasilkan hasil panen secara maksimal.
Sementara untuk kebutuhan pupuk jenis Urea sekitar 14 ribu ton per tahun, ZA 7 ton per tahun dan Phonska 9 ton per tahun dengan 10 distributor reguler dan KPPR. ”Per satu distributor membawahi empat kecamatan,” jelas Anik. [ach]

Keterangan Foto : Bupati, Dandim 0816, Sekda dan Kepala DP3 saat melakukan tanam bersama. [achmad suprayogi/bhirawa]

Tags: