Piala Dunia Versus Pilpres

Oryz Setiawan

Oryz Setiawan

Oleh :
Oryz Setiawan
Alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat (Public Health) Unair Surabaya
Sebagai salah satu penggemar bola atau gibol penulis mencoba menuangkan sejumlah catatan atau filosofi sepakbola dengan kondisi perpolitikan saat ini. Seiring dengan momen Piala Dunia 2014 yang diselenggarakan di Brazil pada 12 Juni – 13 Juli 2014, tentu sangat dinantikan dan menjadi pusat perhatian para jutaan penggemar bola di jagad ini bahkan diperkirakan 2 milyar pasang mata dunia pemirsa meyaksikan perhelatan turnamen empat tahunan tersebut melalui layar kaca. Pada saat yang sama, tanah air tengah juga dihelat ajang yang tak kalah hingar bingar yakni pesta demokrasi pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres) yang puncaknya akan dilaksanakan tanggal 9 Juli nanti. Kalau di even Piala Dunia, di lapangan hijau akan menampilkan 32 tim terbaik di berbagai negara untuk mencapai kampiun, di ajang pilpres ini juga menampilkan 2 (dua) pasangan yang akan beradu untuk memenangkan pertarungan sengit menjadi RI-1 dan RI-2 yakni Prabowo-Hatta dan Jokowi-Jusuf Kalla. Setidaknya ada beberapa sisi persamaan yang menarik untuk diulas yakni pertama, bagaimana menyusun strategi untuk menyuguhkan “permainan” yang menarik dengan tetap menjunjung tinggi semangat olahraga (fairplay) dan etika berdemokrasi secara santun, beradab, aman, damai dengan tetap dalam koridor ke-Indonesia-an.
Kedua, memaduan atau mengkombinasikan pemain senior-yunior, bersinergis untuk menghasilkan gol-gol indah dalam rangka memperoleh kemenangan. Sedangkan dalam pilpres kombinasi pasangan yang berbeda karakter dan latar belakang dapat saling mengisi, saling melengkapi kelebihan dan kekurangan untuk memimpin negeri berpenduduk lebih dari 240 juta jiwa ini. Ketiga, dibutuhkan kesiapan segala kematangan baik fisik, mental, psikologis dukungan, perlu tim motivator, recovery, bahkan tak jarang terjadi “perang” dan peran mistik, klenik tak tinggal diam. Dalam kamus sepakbola modern, keberadaan sebuah timnas menjadi sebuah delegasi negara yang memiliki misi untuk mengangkat citra sebuah negara. Sepakbola kini bukan sekedar olahraga semata, namun telah menjelma sebagai sosok ikon olahraga lintas bangsa, meniadakan ego nasionalisme dan membius ruang batas privat-public masyarakat. Tak ada sekat perbedaan yang hanya memandang status negara maju,¬† negara menengah atau negara dunia ketiga, yang penting adalah sinergitas dan kesolidan sebuah tim yang memiliki misi menghibur bagai aktor-aktor bola.
Sepakbola juga sebagai  instrumen komunikasi dan ajang informasi dari level pemimpin negara hingga rakyat jelata, oleh karena itu secara sosiologis olahraga terpopuler tersebut adalah model alternatif yang mampu menjadi acuan untuk menjawab setiap problematika kekinian yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Pola kerjasama, posisi masing-masing pemain, strategi pelatih, kesiapan dan kematangan fisik-psikis, dukungan suporter serta faktor keberuntungan (factor luck) merupakan komponen yang tak dapat terpisahkan untuk menuju kemenangan bersama. Sangat ideal kemenangan yang digenggam diraih dengan cara-cara terhormat dan bermartabat (fair play) sebab buat apa menang bila diperoleh dengan menghalalkan berbagai cara sehingga sepakbola kini telah bergeser bukan sebatas aktivitas olahraga namun sangat multifungsi dan multiperan bahkan tak jarang mengilhami setiap keputusan. Sedangkan dalam ajang pilpres diharapkan dapat berjalan aman, damai dan mampu melahirkan pemimpin bangsa untuk bersaing bahkan sejajar dengan bangsa-bangsa maju dengan tetap menjaga karakter dan nilai-nilai bangsa yang beradab dan berbudaya Pancasila. Siapapun pemenang pertarungan pilpres mendatang adalah putra terbaik bangsa dengan tetap mengedepankan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan kelompok, partai atau golongan untuk menjadi Indonesia yang lebih baik di masa mendatang, semoga.

————– *** ————–

Rate this article!
Tags: