Pilkada Surabaya, Figur Calon Sangat Menentukan

Andri Ariyanto

Surabaya,Bhirawa
Pilkada Surabaya 2020 diprediksi akan sangat menonjolkan kualitas figur calon yang dipasang dalam kontestasi tersebut. Sejumlah tantangan perkembangan kota Surabaya di depan membutuhkan figure yang bisa mengatur Surabaya dan diterima masyarakat banyak.
Pengamat sosial-politik UINSA, Andri Ariyanto , menyebut figure yang tepat akan memiliki lebih banyak peluang untuk diterima masyarakat pemilih dan memenangkan Pilkada 2020 dari pada hanya sekedar perhitungan parpol dan koalisinya.
“Ada banyak tantangan bagi Surabaya ke depan termasuk terkait Perpres 80/2019. Butuh wali kota bisa yang bekerja lebih baik lagi dari Risma,” terangnya kepada Bhirawa, Minggu (26/1).
Maka, lanjutnya, lebih baik rakyat Surabaya saat ini perlu diingatkan membutuhkan tokoh atau figure wali kota yang bekerja melebihi Tri Rismaharini. Menurut Andri, tidak terlalu penting apa partainya, yang dibutuhkan pasca-Tri Rismaharini habis masa jabatan adalah Surabaya akan lebih maju.
Atas dasar inilah, Andri menilai belum terangnya sikap PDIP dalam menentukan calon Wali kota merupakan upaya untuk berhati-hati dalam menentukan calon yang akan diusung dalam Pilkada tahun ini.
“PDIP adalah satu-satunya partai yang bisa mencalonkan sendiri dalam Pilkada tahun ini tanpa berkoalisi. Jadi sebenarnya partai ini akan lebih mudah menentukan calonnya. Belum adanya sikap sampai saat ini adalah bentuk kehati-hatian dalam menetapkan calon agar tetap bisa diterima masyarakat,” jelasnya.
Menurutnya, kunci kemenangan kembali PDIP saat ini memang hanya pada ketepatan menentukan figure yang diusung, mengingat kerja Tri Rismaharini yang terbilang bagus dalam dua periode pemerintahnnya.
Namun Andri juga tidak akan menampik kemungkinan PDIP bakal melakukan koalisi dengan partai lain, karena akan semakin menguatkan potensi kemenangan. Irisan ketokohan figure yang tepat, lanjutnya, merupakan jalan bagi partai lain bergabung dengan PDIP dalam Pilkada 2020.
“Kalau figure yang akan diusung sama atau sejalan, sangat memungkinkan PDIP tidak berjalan sendiri. Dan hal ini akan sangat menguatkan potensi menang kembali dalam perebutan kursi wali kota,” ujar alumnus FISIP Unair ini.
Terkait keunculan Mahfud Arifin yang mengklim telah membawa mandat sejumlah partai untuk maju di Pilkada Surabaya non PDIP dinilai belum menggambarkan kepastian situasi politik di kota Surabaya.
Andri Arianto menyebut Mahfud Arifin boleh jadi mengklim membawa mandat sejumlah parpol, namun untuk menggambarkan posisinya di atas calon lain jauh.
Menurut Andri, masih ada banyak kemungkinan koalisi Parpol yang mungkin terjadi. “Masih ada banyak kemungkinan koalisi dan komposisi calon dalam pertarungan Pilwali nanti,” ujarnya ditemui Bhirawa, Jumat (24/1).
Namun yang pasti, lanjut alumnus FISIP Unair ini, dalam Pilwali figure atau ketokohan calon menjadi penting, bukan hanya partai. “Sehingga, parpol-parpol masih sangat bisa membuat komposisi koalisi baru di luar yang diklim oleh Mahfud Arifin. Sangat tergantung siapa tokoh yang dimunculkan dan disepakati,” ujarnya.
Menutup, Andir menyebut bakal lebih menarik jika Mahfud justru mendapat mandate dari PDIP sebagai calon Wali kota yang diusung. “Kalau demikian (Mahfud ke PDIP ,red), hamper dipastikan menang,” tutupnya. [gat]

Tags: