PKL Mastrip Kabupaten Probolinggo Bangun Bedak Semipermanen

PKL Mastrip dengan bedak semi permanennya.[wiwit agus pribadi/bhirawa]

Probolinggo, Bhirawa
Kondisi sentra PKL buah di Jalan Mastrip telah menyerupai area pasar. Puluhan bedak semipermanen didirikan pedagang tepat di depan kendaraan tempat berjualan buah. Mulanya, pedagang berjualan di atas kendaraan roda 3, pikap maupun mobil yang dibuka bagian belakangnya. Kini sebagian pikap maupun kendaraan roda tiga, dibiarkan kosong berada di belakang bedak.

Menurut Edi Sunarko, PKL buah asal Pesisir, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo ini mengakui jika membuat bedak semipermanen sejak 2 minggu lalu. Supaya lebih leluasa berjualan.

“Sudah 2 minggu ini buat bedak. Ke sini tetap pakai motor roda tiga. Dengan pakai bedak jualannya lebih leluasa,” katanya.

Bedak tersebut berada tepat di belakang kendaraan roda tiga miliknya. Kendaraan roda 3 itu pun dalam keadaan kosong karena berbagai jenis buah ditempatkan di bedak yang terbuat dari bahan kayu dan terpal. Kondisi yang sama juga terjadi pada PKL buah yang lain. Namun masih ada juga PKL yang tetap berjualan di atas kendaraannya.
Fitriawati, Kepala Dinas Koperasi, usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP) belum bisa memastikan situasi di sentra PKL buah di Jalan Mastrip. Namun yang jelas DKUPP akan menerjunkan staf untuk memastikan kondisi di sana.

“Nanti staf kami akan pembinaan kepada pedagang di sana. Tujuan awalnya untuk relokasi pedagang yang jualan di jalan,” ujarnya.

Sampai saat ini di sana tidak ada penarikan retribusi. Adapun relokasi PKL buah yang sebelumnya mangkal di sepanjang Jalan Mastrip dan Cokroaminoto, berhasil dilakukan oleh DKUPP bersama sejumlah OPD sejak Februari 2020. Penempatan PKL ini dilakukan karena banyaknya PKL buah yang berjualan di tepi jalan membuat Jalan Mastrip semakin padat dengan kendaraan, tuturnya.

Lahan aset Pemkot Probolinggo yang berada di selatan kantor Kelurahan Jrebeng Wetan, dipilih sebagai lahan untuk relokasi. Lahan tersebut digunakan sebagai tempat parkir kendaraan PKL buah yang berjualan dan tidak dibangun bedak.

Sibro Malisi, Ketua Komisi II mengungkapkan bahwa keberadaan PKL buah di sentra PKL merupakan bagian dari program pemerintah untuk melakukan relokasi. Bukan kehendak dari PKL Buah. “Sehingga setelah dilakukan relokasi, Pemkot Probolinggo tidak bisa lepas begitu saja dari program yang telah dilakukan. Salah satunya adalah pengawasan di sana,” tandasnya.

Sibro melihat bahwa awalnya di sentra tersebut adalah lahan aset pemkot yang digunakan sebagai tempat PKL yang berjualan dengan kendaraan. Jadi, tidak ada perencanaan untuk membangun bedak.

“Jadi, pemerintah tetap harus mengawasi di sana. Jangan sampai malah timbul bedak-bedak semipermanen. Jika memang akan berubah menjadi pasar buah, maka pemerintah harus melakukan kajian di sana seperti kajian amdal lalin maupun terkait penarikan retribusi kekayaan daerah,” terangnya.
Saat ini, lanjut Sibro, sudah lebih dari 6 bulan sejak relokasi PKL.

“Seharusnya sudah dipertimbangkan untuk melakukan penarikan retribusi kekayaan daerah karena kan lahan aset pemkot yang digunakan,” tambahnya. Penarikan retribusi itu bisa dilakukan dengan menyusun perwali retribusi yang dasarnya dari perda Retribusi jasa usaha.

Politisi partai Nasdem ini juga menyarankan agar DKUPP melakukan verifikasi terhadap PKL yang berjualan di sentra PKL Buah Mastrip. Pasalnya ada warga Kabupaten Probolinggo yang juga berjualan di sana, tambahnya.(Wap)

Tags: