Plagiarisme dan Prestise Semu Akademisi

Oleh :
Muhammad Ghufron
Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, bergiat di Garawiksa Institute Yogyakarta

Tempo edisi 1-7 Februari 2021 menampilkan topik utama bertajuk “Wajah Kusam Kampus”. Topik utama merujuk pada adanya temuan seorang oknum petinggi kampus yang melakukan tindakan plagiarisme. Baru-baru ini, Muryanto Amin diduga sebagai aktor di balik kasus plagiarisme tersebut.

Dirinya melakukan tindakan plagiasi atas karyanya sendiri (self-plagiarism) demi pengajuan kenaikan pangkat sebagai guru besar di Universitas Sumatera Utara. Ketua Umum Majelis Rektor PTN Indonesia (MRPTNI) Jamal Wiwoho menyebut self-plagiarism tidak boleh dilakukan seorang akademisi. Muryanto kemudian dinyatakan bersalah melalui surat keputusan (SK) rektor USU saat ini, Runtung Sitepu.

Sederet kalangan akademisi lainnya juga pernah mengalami kasus serupa. 10 Februari 2014, artikel Anggito Abimanyu “Gagasan Asuransi Bencana” terbit di salah satu koran nasional. Dosen FEB UGM itu diduga melakukan tindakan plagiarisme atas karya tulis dosen UI, Hotbonar Sinaga bertajuk “Mengagas Asuransi Bencana”.

Tak ingin mencemari kredibilitas UGM sebagai universitas yang mengedepankan komitmen nilai-nilai kejujuran, integritas, dan tanggung jawab akademik, Anggito pun menyatakan pengunduran dirinya melalui jumpa pers di Hotel Gadjah Mada University, 17 Februari 2014 silam.

Bersembunyi di Balik Karya

Bagaimanapun tindakan plagiarisme yang maujud dalam ruang-ruang akademik kita merupakan perbuatan amoral. Alasannya jelas, mencuri dan mencomot karya orang lain. Apalagi dijadikan sebagai instrumen pengukuhan prestise dirinya di ruang kultur pendidikan. Selain merugikan suatu instansi bersangkutan, plagiarisme juga mencemari prestise dirinya sebagai seorang akademisi.

Plagiarisme seolah tabir pemoles citra diri karena telah berhasil menghasilkan suatu karya. Di ruang kultur pendidikan, suatu karya setidaknya menjadi tolok ukur akademisi yang berkompeten di bidangnya. Tidak menghasilkan karya seolah aib yang kudu ditutupi. Eksistensi karya menunjukkan manifestasi dari hasil pemikiran dan penelitian yang begitu sublim.

Orisinalitas suatu karya pun dijadikan rujukan penting kawula muda. Karya-karya berseliweran mengartikan bahwa jalan panjang pemikiran akan terus dikaji, dikritisi, dan dibicarakan. Suatu laku yang mesti dilestarikan demi pemuliaan adab intelektual kita. Di sinilah terkadang jalan mulia itu mesti ditempuh dengan menghalalkan segala cara. Salah satunya plagiarisme karya.

“to take and use another person’s ideas or writing or inventions as one’s own”. Mengambil dan menggunakan ide, tulisan atau ciptaan orang lain sebagai miliknya sendiri. Begitu Oxford American Dictionary (2010) dalam Clabaugh mendefinisikan plagiarisme. Diksi “mengambil” dan “menggunakan” merujuk tidak adanya sikap keterampilan aplikatif dari si subjek.

Keterampilan aplikatif berupa penguasaan akan suatu objek bahasan tertentu hingga mengalami kristalisasi menjadi sebuah karya. Semua itu tidak terjadi dalam plagiarisme. Ide dalam karya hasil plagiat menandakan keserupaan bahasan terhadap karya sebelumnya. Tanpa menunjukkan perubahan signifikan sama sekali.

Realitas paradoksal prestise akademisi akan tampak jika reproduksi karya tidak memenuhi standar keaslian. Baik artikel, makalah, jurnal ilmiah, tesis, disertasi, maupun buku-buku. Sebab memproduksi keseluruhan ide isi tulisan yang sama dalam sebuah karya berarti menunjukkan nirgagasan dan kreativitas. Rendahnya minat baca dan meneliti merupakan dua fundamen penyebab mengapa plagiarisme itu mesti terjadi.

Tersebab ide-ide dieksplorasi melalui aktivitas intelektual seamsal membaca, sedangkan fakta dan data di lapangan dihasilkan dengan melakukan penelitian komprehensif-mendalam terhadap suatu objek tertentu. Maka dua hal ini menjadi ibadah wajib yang kudu dilakukan seorang akademisi jika ingin menghasilkan sebuah karya terhindar dari plagiarisme.

Bagaimana pun tindakan plagiarisme selalu menjadi bahaya laten yang acap dijadikan topeng hipokritis demi kepentingan tertentu. Di balik topeng hipokritis itu, hasrat meraih suatu gelar di ruang akademik dilakukan. Realitas macam ini akan semakin memajalkan pikiran dalam narasi intelektual ruang akademik kita. Suatu perbuatan candala yang bertendensi merendahkan martabat manusia sebagai makhluk yang berpikir. Karena itu, plagiarisme

“Saya tidak mau disamakan dengan plagiator. Masalahnya zaman sekarang banyak yang mencari uang dengan mengandalkan plagiat. Kalau Indonesia seperti itu, Wallahualam bagaimana bisa bertahan”. Ucap sastrawan Ajip Rosidi.

Sosialisasi dan Edukasi

Perlu adanya sosialisasi dan edukasi terkait pencegahan tindakan plagiarisme. Seperti sosialisasi UU No. 24 tahun 2014 yang mengatur hak cipta, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 17 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi hingga edukasi bagaimana cara menyusun suatu karya terhindar dari plagiarisme.

Pemaparan pengetahuan yang komprehensif ihwal plagiarisme harus dibudayakan di dunia pendidikan. Peningkatan integritas akademik serta mutu penyaringan suatu karya perlu dijadikan perhatian sebagai ikhtiar merawat narasi kekaryaan intelektual kita.

Ke semuanya itu akan memantik kesadaran kolektif lingkungan akademis untuk menghormati, menghargai, dan memberikan penghargaan setinggi-tingginya atas karya orang lain yang menjadi satu keharusan dalam memproduksi karya tulis. Dengan begitu, kita akan lebih tahu ihwal substansi etika penelitian dan penulisan sebuah karya ilmiah.

Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud), Hukum Kekayaan Intelektual (HKI), dan sivitas akademika perguruan tinggi perlu bergandengan tangan membentuk tim untuk melaksanakan itu semua. Tentu demi menjaga muruah adab dunia akademik kita. Semoga.

——— *** ———

Tags: