PLN UID Jatim Jamin Kendaraan Listrik Takkan Korsleting Saat Banjir

Bob Saril bersama wakil rektor ITS
Bambang Pramujati, S.T., M.SC.ENG., PH.D., Wakil Rektor IV Bidang Riset, Inovasi, Kerjasama, dan Kealumnian
dan pemilik kendaraan Muhammad Rasul saat pengisian bahan listrik di SPKLU Dr. Soetomo Surabaya

Surabaya, Bhirawa
Konsisten dengan pengadaan kendaraan yang bertenaga listrik PT PLN UID Jatim memberikan jaminan bahwa kendaraan hasil karya anak bangsa Indonesia tersebut juga sudah dilengkapi dengan teknologi canggih anti korsleting saat banjir, jadi pada konsumen atau pemakai kendaraan hasil karya anak bangsa yang membanggakan ini tidak usah khawatit kesetrum apabila ada musibah banjir.
Penegasan tersebut disampaikan oleh GM PT. PLN UID Jatim Bob Saril saat ditemui di sela sela acara peresmian Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU,) di kantor PLN Embong Wungu Jl.Dr Soetomo 42 Surabaya. Menurut Bob Saril sebagai kendaraan yang bertenaga listrik sudah barang tentu dipikirkan resikonya kalau misalnya ada musibah banjir agar tidak membahayakan pengemudi dan penumpang yang ada di dalamnya,” Jadi tidak perlu khawatir dalam hal ini,” tegasnya.
Sebagai perusahaan negara yang sangat konsisten  akan penggunaan dan pemanfaatan tenaga listrik dengan kata lain mengurangi ketergantungan terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) PT PLN (Persero) UID Jatim
telah membangun SPKLU di Surabaya, tepatnya di Kantor PLN Embong Wungu, Jalan Dr Soetomo 42, Surabaya.
Lebih lanjut Bob Saril mengatakan bahwa SPKLU di jalan Dr. Soetomo adalah yang pertama di bangun di Surabaya. Nantinya, pengembangan akan melihat kebutuhan pasar dan model bisnis yang dikembangkan.
“Karena tugas PLN yang pertama adalah melayani kelistrikan. Jadi kalau ada pihak ketiga yang menyediakan SPKLU, maka PLN yang akan menyuplai listriknya,” ujar Bob Saril.
Hingga saat ini, jumlah SPKLU di seluruh Indonesia ada sekitar 7 unit yang tersebar di empat kota, yaitu Jakarta sebanyak empat unit SPKLU, Bandung sau unit,  Denpasar Bali terdapat satu unit dan Surabaya satu unit.
“Tahun ini kita coba bangun satu unit di sini kemudian dilihat dulu berapa jumlah kendaraan yang menggunakan tenaga listrik. Karena kalau terlalu banyak juga akan sia-sia,” tambahnya.
Lebih lanjut Bob menegaskan bahwa dalam pengembanan bisnis kendaraan listrik ini perlu dukungan maksimal dari pemerintah melalui regulasi yang memudahkan dan mendukung pengembangan kendaraan listrik di tanah air. Hal ini mendesak karena hingga saat ini ada beberapa bahan baku yang harus  diperoleh dari impor karena tidak ada di Indonesia.
“Hal mendesak yang harus menjadi sebenarnya adalah adanya aturan yang bisa mengadakan mobil listrik dengan lebih murah, low cost kendaraan sehingga setiap orang bisa gunakan kendaraan ini. Ini yang kita harapkan bahwa pemerintah memberikan nilai kebijakan  khusus. Dan langkah kedua adalah mendorong industri hulu, bahan baku,” terang bob saril.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Wakil Rektor IV Bidang Riset, Inovasi, Kerjasama dan Kealumnian ITS Bambang Pramujati bahwa kendala terbesar dalam menciptakan kendaraan listrik adalah baterai. Mencapai sekitar 30 persen dari total biaya produksi. Untuk itulah kemudian PTS melakukan penelitian dan mengembangkan teknologi baterai. “Kami sudah mulai produksi tetapi belum produksi massal,” ujarnya.(ma)

Tags: