Polda Jatim Bongkar Prostitusi Mahasiswa di Surabaya

12-Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Awi Setiyono menunjukkan barang bukti jutaan uang dan handphone dari hasil prostitusi dikalangan mahasiswa, Kamis (11,12). abednegoPolda Jatim, Bhirawa
Subdit IV Renakta Ditreskrimsus  Polda Jatim, berhasil mengungkap praktek prostitusi berkedok salon kecantikan dan spa di Ruko Jl Ambengan, Surabaya. Parahnya, salon kecantikan ini turut menjual para mahasiswa untuk dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial (psk).
Dari pengrebekan, petugas mendapati 10 orang guna dimintai keterangan. Dua dari 10 orang yang ditangkap, ditetapkan sebagai tersangka trafficking dikalangan mahasiwa. Kedua tersangka yang berasal dari Surabaya ini adalah Mami Ayu (43) selaku pemilik salon kecantikan yang juga sebagai germo, dan papi ER (32) selaku Germo.
“Dua tersangka yang kami tangkap merupakan pemilik salon dan germo. Keduanya mengaku mempekerjakan psk dikalangan mahasiswa. Sementara delapan orang yang tertangkap, kami hanya mintas kesaksiannya saja,” terang Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Awi Setiyono, Kamis (11/12).
Dijelaskan Awi, awalnya pengrebekan dilakukan karena adanya praktek prostitusi yang berkedok salon kecantikan dan spa. Setelah dilakukan pengembangan, terungkaplah prostitusi dikalangan mahasiswa yang dikoordinir oleh germo, yakni ER. “ER merupakan germo yang mempekerjakan kalangan mahasiswa,” kata Awi.
Adapun modus dari tersangka Mami Ayu, lanjut Awi, pelanggan yang datang ke salon dipersilahkan memilih perempuan pemijat. Usai melakukan pemijatan, terapis mulai menawarkan layanan plus terhadap tamu. Adapun bagi hasil dari kegiatan ini adalah 15% bagi terapis, dan 40% bagi tersangka Mami Ayu.
“Tersangka mengakui adanya bagi hasil antara dirinya dan terapis. Sementara tarif yang dikenakan pelanggan berkisar Rp 1 juta untuk kegiatan didalam salon, sedangkan untuk kegiatan diluar salon, pengunjung dikenakan tarif Rp 2 juta,” ungkap Awi.
Sementara modus tersangka ER dilakukan via telepon. Nantinya, tamu yang akan datang memesan perempuan, harus boking via telepon terlebih dahulu. Kemudan ER mengirim foto perempuan anak buahnya melalui BBM pelanggan. Sebagai tanda jadi, ER meminta pelanggan untuk mentransfer sejumlah uang direkeningnya.
Usai menerima transfer uang, masih kata Awi, ER menyuruh anak buahnya untuk datang ke hotel melayani pelanggannya. “Dalam pengakuan ER, kebanyakan perempuan yang dipekerjakannya merupakan mahasiswa dari universitas yang ada di Surabaya,” tegasnya.
Sementara tersangka ER mengaku perbuatan yang dilakukannya ini baru tiga bulan. Senada dengan ER, Mami Ayu juga mengaku baru melakukan bisnis prostitusi berkedok salon kecantikan sejak tiga bulan lalu.
“Bisnis yang kami lakukan ini baru berjalan tiga bulan. Sementara untuk terapisnya, kami gunakan jasa mahasiswa yang sedang membutuhkan tambahan uang bagi kebutuhannya,” ucap kedua tersangka kepada wartawan.
Terkait dari universitas manakah terapis yang diambilnya, kedua tersangka enggan membeberkan secara rinci. “Ya ada lah, pokoknya dari universitas dan perguruan tinggi yang ada di kawasan Surabaya,” imbuhnya.
Adapun barang bukti yang berhasil diamankan adalah uang tunai senilai Rp 4 juta, 1 kondom merk sutra, 2 kondom belum terpakai merk fiesta, 1 buah kartu ATM, 1 buah bukti transfer, 1 lembar absen karyawan, dan 1 buku daftar tamu.
Untuk mempertanggungjawabkan perbauatannya, keduanya disangka kan Pasal 296 KUHP tentang prostitusi perempuan, dengan ancaman pidan satu tahun empat bulan penjara. Dan Pasal 506 tentang prostitusi sebagai mata pencaharian, dengan ancaman pidana penjara satu tahun. [bed]

Tags: