Ponorogo Ke UNESCO

foto ilustrasi

Suatu hari, di taman Takoma, Maryland, Amerika Serikat (AS), Juli 2009, Reog Ponorogo, memenangkan Festival budaya tahunan. Festival di AS bukan ecek-ecek, karena diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan Amerika Serikat. Even berjudul “The US4th July Independen Day Festival,” menjadi momentum kedua Reog Ponorogo memenangi festival. Bahkan menjadi satu-satunya seni tradisional di dunia yang memenangi festival dalam 3 kali even di AS.

Tidak percuma Pemerintah Kabupaten Ponorogo menggelontor anggaran belasan milyar rupiah (setiap tahun), khusus untuk Reog. Antara lain untuk biaya “safari reog” ke berbagai penjuru dunia. Mengirim “duta reog” beraksi di berbagai kota di dunia. Juga menyokong kelompok pelaku reog di seluruh dunia. Termasuk menyokong grup Reog Singolodoyo, yang berbasis Washington DC, Amerika Serikat. Grup Singolodoyo, sudah kenyang memenangi festival yang diselenggarakan di pantai timur AS.

Dalam catatan liputan VOA Spotlight, kemenangan ketiga Reog Ponorogo, terjadi pada 15 April 2010, di jantung kota Washington, DC, Amerika Serikat (AS). Hari itu, sedang diselenggarakan festival tahunan Cherry Blossom, even yang sangat terkenal. Terjadi applaus (tepuk tangan) meriah, ketika kesenian Reog (asal Ponorogo, Jawa Timur) tampil di tengah penonton. Ternyata, sambutan meriah itu sudah ditunggu-tunggu, karena Reog, sudah kondang di Amerika.

Pada tahun 2009, kesenian reog (yang dimainkan komunitas Singo Lodoyo) memenangkan festival dengan kategori kesenian daerah. Tak mudah memenangkan festival di AS, karena diikuti delegasi seni dari berbagai dunia. Termasuk dari India. Kelompok orang Indonesia di AS ini, berlatih secara spartan, tak kalah dengan profesi penari modern (dansa) maupun tari balet. Banyak penonton mendaftar menjadi peserta aktif (turut menari), dan memakai topeng. Pada tahun 2008, Reog Ponorogo juga memenangi festival yang sama di Philadelphia.

Keberhasilan Reog Ponorogo dalam kancah festival budaya internasional, tak lepas dari dukungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo. Maka wajar kabupaten Ponorogo diusulkan masuk dalam jaringan kota kreatif (Creative Cities Network, CCN) UNESCO. Secara khusus PBB melalui UNESCO (United Nations Educational, Scientific dan Cultural Organization) meng-inventarisir kota ke-wisata-an dunia, yang melestarikan budaya, seni, dan lanskap. Juga men-syaratkan sistem keberlanjutan (suistanable) yang diupayakan pemerintah daerah.

Kabupaten Ponorogo telah menyelenggarakan even ke-wisata-an berbasis Festival Nasional Reog Ponorogo, sejak tahun 2004. Serta masuk dalam kalender wisata Jawa Timur, dan nasional. Serangkaian acara Festival Nasional Reog Ponorogo, berkait dengan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo (tahun 1496 Masehi). Walau sebenarnya, reog telah dipentaskan sejak akhir abad ke-15 (tahun 1490-an).

Sendratari reog, diciptakan oleh seniman kerajaan Majapahit Pujangga Anom Suryongalam. Dengan berbagai properti-nya (terutama Barongan, dan alat musik) merupakan simbol protes terhadap raja Kertabhumi. Pencipta sendratari, Pujangga Anom Suryongalam, dalam reog berperan sebagai penari Bujang Ganong. Protes (dan sindiran) dengan cara sendratari ini “dicekal” oleh kerajaan Majapahit. Untuk memadamkan protes, dikirim utusan dari Demak (adik Raden Fatah, bernama Bathara Katong).

Namun Pujangga Anom Suryongalam (yang dikenal cerdas), memilih menghindari perang (menyingkir ke hutan). Bathara Katong, dinobatkan menjadi Adipati Ponorogo yang pertama. Namun untuk menghormati ke-tokoh-an Pujangga Anom Suryongalam, sendratari reog, tetap boleh dipentaskan. Sampai sekarang (tahun 2022), secara resmi “ke-adipati-an,” reog telah dipentaskan sebanyak 544 kali (dua tahun tidak dipentaskan).

Pemerintah Kabupaten Ponorogo, telah berjasa mempertahankan, dan memperluas even sendratari reog, menjadi festival nasional, dan dikenal dunia. Maka layak masuk dalam “jaringan kota kreatif” ke-wisata-an global

——— 000 ———

Rate this article!
Ponorogo Ke UNESCO,5 / 5 ( 1votes )
Tags: