PPKM dan Tantangan Pembelajaran Karakter Sehat

Susanto

Oleh :
Susanto
Guru SMA Negeri 3 Bojonegoro. Alumnus Pascasarjana UNS Surakarta.

Tahun Pelajaran 2021/2022 semua jenjang telah dimulai pada tanggal 12 Juli yang lalu dengan ditandai dengan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) secara daring. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat sejak awal Juli sehingga pemerintah juga memutuskan untuk melakukan pembelajaran secara daring. Hal ini sebagai konsekuensi dan sekaligus upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 yang mengalami peningkatan akhir-akhir ini. Pertanyaan susulanpun muncul, metode dan media apa yang cocok saat PPKM darurat bagi siswa seperti saat ini?

Pembelajaran masa pandemi yang sudah terjadi sejak Maret 2020 bagi dunia pendidikan mengalami masa problematika yang serius dan mebutuhkan solusi yang bijak. Artinya, bila memasukkan siswa di tengah pandemi juga sesuatu yang rentan karena pandemi covid-19 mengalami lonjakan. Bahkan problematika serius terkait tata kelola kesehatan. Sementara kalau tidak masuk sekolah siswa telah mengalami hambatan prestasi akademik maupun nonakademik.

Tentunya perlu langkah yang tepat agar siswa tetap melakukan pembelajaran secara normal sambil menunggu pandemi Covid-19 khususnya adanya PPKM darurat. Pertama, membangun komitmen dalam penguatan pembelajaran berbasis karakter. Artinya, adanya komunikasi bentuk pembelajaran yang ideal dengan fokus pada perubahan dan tata kelola bagaimana karakter itu menjadi hal yang utama. Dalam konteks yang demikian, suasana yang dibangun adalah memperdalam keterikatan orang tua dengan anak selama pembelajaran pandemi. Hubungan antara orang tua dengan anak harus erat saling bekerja sama dalam memecahkan persoalan siswa yang dihadapi. Bukan sebatas angka-angka akan tetapi pada proses pendewasaan pada pola keterbukaan hati dan pikiran hidup di tengah PPKM dan pandemi Covid-19. Sudah harus menjadi tanggung jawab kita semua bahwa generasi saat ini harus menjadi sosok pionir dalam menjaga karakter sehat diri sendiri maupun orang lain. Dengan demikian, mereka akan menjadi sosok inspiratif bagi pemutusan penyebaran Covid-19 yng akahir akhir ini menjadi problematika serius.

Kedua, Orang tua harus selalu melakukan penguatan kesadaran moral kepada anak-anak saat di rumah. Mereka harus selalu mendapatkan rasa aman dari orang yang ada di sekelilingnya saat pembelajaran di era pandemi yang seperti ini. Langkah ini sebagai upaya preventif bahwa sejatinya anak-anak yang ada perlu mendapatkan proteksi dari orang-orang dewasa atau juga teman sebaya. Situasi dan suasana lingkungan keluarga khususnya perlindungan kesehatan harus selalu mengedepankan tata kehidupan dalam rangka hidup sehat. Peran orang tua merupakan figur yang efektif terkait sosialisasi hidup sehat dengan prokes 5 M. Alhasil penguatan karakter sehat harus menjadi skala prioritas dalam mengelola tata kehidupan baik di rumah maupun di sekolah.

Guru dan Ortu Harus Kreatif

Pelaksanaan pembelajaran di masa pandemi khususnya saat PPKM tentunya tugas guru dan juga harus saling menguatkan. Guru selalu mengedepankan inovasi pembelajaran khususnya dalam metode dan cara mengajarnya dalam berbagai situasi termasuk era dan pasca Covid-19 menuju kehidupan yang berkualitas. Peran dan tanggung jawab guru dituntut luwes dan adaptif dengan kekinian dalam melakukan pembelajaran. Adaptif terhadap perubahan dan merespon perkembangan dan mengembangkan metode pembelajaran yang inovatif berbasis tehnologi sebuah kebutuhan mendesak.

Pertama, pembelajaran yang berbasis daring di masa PPKM siswa harus mempeoleh layanan dengan cermat dan tidak membosankan. Pembelajaran selama pandemi di era PPKM harus memberikan dampak nyata bagi pemenuhan kualitas karakter dan psikologis. Peran orang tua juga menjadi motivator selama di rumah. Artinya, orang tua perlu menguatkan anak agar selalu melakukan pendampingan dalam pelaksanaan belajar di rumah meski pembelajaran daring dengan panduan guru di sekolah.

Di saat PPKM seperti ini, pembelajaran harus fokus pada penguatan komunikasi dua arah antara guru dan siswa saat pandemi harus berkelanjutan. Dalam tataran ini guru bisa memanfaatkan media yang memungkinan guru bisa tatap muka meski jarah jauh atau daring. Mengapa demikian? Karena cara ini baik guru maupun siswa bisa melakukan poa komunikasi terkat dengan pembelajaran. Lebih esensi lagi komunikasi kedua belah pihak tidak mengalami hambatan sehingga tidak ada kerinduan antara guru dan juga guru kepada semua siswa.

Kedua, inovatif guru sebuah langkah mendesak. Mengutip pendapat Blanchard (2001) menegaskan bahwa pembelajaran inovatif mencakup enam unsur yaitu: pembelajaran bermakna, penerapan pengetahuan, berpikir tingkat tinggi, kurikulum berdasarkan standar, responsif terhadap budaya, dan menggunakan penilaian autentik. Dalam konteks yang demikian, tentunya keberhasilan pembelajaran terbatas harus memenuhi kompleksitas yang berstandar. Hal itu apabila adanya komitmen dalam hal tingkat kepatuhan protokol kesehatan, tingkat efektivitas pembelajaran, pelibatan guru, pelibatan wali murid,serta upaya refleksi dan perbaikan pembelajaran di masa pandemi.

Nah, pembelajaran selama era pandemi Covid-19 khsususnya pada PPKM harus menyenangkan sesuai kondisi psikologis dan jangan sampai mengalami penurunan semangat belajar (Learning Loss). Masyarakat atau orang tua harus sehati dan mendukung program pemerintah bahwa siswa harus tetap berprestasi baik akademik maupun nonakademik. Jangan menjadi alasan karena pandemi karakter siswa tidak mendapatkan perhatian. Pembelajaran harus memberikan penguatan dan pendidikan karakter selain kesehatan serta akhlak mulia.

Pembelajaran daring ataupun PTM terbatas harus memberikan pelayanan kepada siswa agar sealu semangat belajar untuk meraih prestasi baik akademik dan nonakademik.Tentunya semangat berprestasi harus selalu tergelorakan meski pandemi menjadi problematika serius. Maju bersama hebat semua harus menjadi pilihan utama dalam mengawal pendidikan nasional di tengah pandemi.

—— *** ——–

Tags: