PPKM Darurat Tak Surutkan Kreatifitas Perajin Batik Tulis Lintang Desain Motif Covid-19

Batik tulis motif covid hasil kreatifitas dari Owner Batik Lintang, Desa Ngijo, Kec Karangploso, Kab Malang, yang tidak diproduksi lagi. [cahyono/Bhirawa]

Kab Malang, Bhirawa
Selama adanya Pandemi Covid-19  melanda Indonesia, hal ini membuat hampir seluruh sektor usaha terdampak, dan tidak sedikit pelaku usaha menutup usahanya karena tidak mampu untuk biaya produksi. Namun, masih ada pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah ((UMKM) masih menjalankan kreatifitasnya agar mendapatkan penghasilan ditengah Pandemi Covid-19.

Yang salah satunya adalah perajin batik tulis asal Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, yang mana masih bertahan untuk memproduksi batik tulis tersebut. Sedangkan untuk memproduksi batik. perajin atau pemilik galeri telah mengandalkan padat karya. Meski, karakteristik peminat yang tidak banyak, sehingga sangat terasa dampaknya. “Kondisi normal saja atau sebelum Pandemi Covid-19, perajin batik tulis harus ekstra dalam memasarkannya, itupun masih belum maksimal dalam penjualan. Apalagi sekaran diterapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat,” kata Perajin Batik Tulis Lintang, Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang Indra, Minggu (25/7), kepada Bhirawa.

Menurutnya, meski dirinya hingga kini masih mampu bertahan dalam menjalankan usaha batik tulis, namun dijalankan dengan separuh nafas. Karena selama penetapan PPPKM darurat secara otomatis minat beli turun hingga 60 persen. Sedangkan untuk mempertahankan usaha saya ini, dirinya telah memiliki pembatik binaan sebanyak 10 orang, itu pun mereka harus rela untuk mengerem produksi karena minat pembeli turun. Dan dengan diperparah beberapa pembatik juga harus isolasi mandiri (isoman), karena ada keluarga pembatiknya terkonfirmasi positif Covid19.

“Dan sebelum Pandemi Covid-19, dirinya mampu memproduksi sebanyak 70 lembar kain dalam sebulan. Tapi dengan kondisi Pandemi Covid-19 ini, dirinya hanya mampu memproduksi 10 lembar kain,” terang Indra.

Dia menegaskan, Pandemi Covid-19 bukan bukan berarti berhenti berkreasi dan menciptakan desain baru. Karena sebagai seniman harus tetap berkreasi yang tidak bisa dibendung, meskipun dengan menjalankan isoman. Sebab, pada beberapa hari ini, dirinya menajalankan isoman, karena terinveksi Covid-19. Sehingga dalam menjalani isoman masih berkreasi untuk menciptakan motif batik yang baru. Dan disela-sela masa istirahat dan pemulihan kesehatan, saya dan istri terus berkarya dalam membuat desain baru pada batik lintang.

“Dalam isoman dirinya dan istri mampu membuat tiga desain baru yang sangat eklusif, seperti batik tulis Kawung Garudeya, Garudeya Sidomukti, dan batiok tulis Covid-19. Namun, untuk desain Covid tidak akan kami produksi lagi meskipun ada yang pesan,” tutur Indra.

Ditempat yang sama, Public Relation (PR) Paguyuban Pembatik Kabupaten Malang Hasta Padma Ita fitriyah yang juga istri dari Owner Batik Tulis Lintang Indra  menambahkan, kenapa desain batik tulis covid tidak kami produksi lagi, karena

Covid-19 adalah penyakit, sehingga tidak layak diabadikan sebagai bagian karya adiluhur budaya bangsa. “Batik tulis covid yang kita buat, karena momentum kesedihan banyak kolega, teman, dan bahkan suami saya sendiri terkonfirmasi Covid-19. Sedangkan dalam kesdian itu, ada yang sehat kembali dan ada yang meninggal, jadi cukup satu ini saja meski ada yang pesan tidak akan saya buatkan,” tegasnya.

Dalam waktu dekat ini, kata dia, batik tulis motif covid berniat untuk kami lelang, dan hasil keuntungannya nanti 50 persen akan disumbangkan kepada anak yatim piatu dan warga disekitar galeri batik Lintang yang sedang menjalankan isoman, serta warga yang terdampak Pandemi Covid-19. Dan selama diterapkan PPKM Darurat, nyaris tidak ada hasil produksi batiknya yang laku. Namun, ada tiga kain batik yang laku dibeli Menteri Pertanian saat berkunjung ke BPTP Jawa Timur, di wilayah Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.

“Motif batik tulis yang dibeli Pak Menteri yakni batik Parang Arjuno Tlogosari, Liris Tlogosari, dan Sidomukti Tlogosari, yang kesemuanya adalah motif asli dari Batik Tulis Lintang,” pungkas Ita. [cyn]

Tags: