PPKM Skala Mikro

Pemerintah seolah tergagap-gagap menghadapi isu kenaikan kasus positif CoViD-19, bersamaan dengan PPKM. Serta bagai terlilit isu keterbatasan ruang rawat inap. Padahal tidak ada yang salah, dan seluruh program telah berjalan baik. Termasuk pelaksanaan vaksinasi. Hanya program bantuan sosial (Bansos) yang harus diperbaiki, di-inovasi, dan diperluas cakupannya. Pemerintah perlu strategi baru penanganan pandemic dengan menggalang partisipasi masyarakat.

Kekarantinaan merupakan kewenangan sekaligus tanggungjawab pemerintah, sesuai UU Nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Dalam pasal 11 ayat (1) dinyatakan, “Penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan pada Kedaruratan Kesehatan Masyarakat dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat secara cepat dan tepat berdasarkan besarnya ancaman, efektivitas, dukungan sumber daya, dan teknik operasional dengan mempertimbangkan kedaulatan negara, keamanan, ekonomi, sosial, dan budaya.”

Secara spesifik kekarantinaan wilayah diatur diatur dalam Bab VII. Pada pasal 49 ayat (1), dinyatakan “Dalam rangka melakukan tindakan mitigasi faktor risiko di wilayah pada situasi Kedaruratan Kesehatan Masyarakat dilakukan Karantina Rumah, Karantina Wilayah, Karantina Rumah Sakit, atau Pembatasan Sosial Berskala Besar oleh pejabat Karantina Kesehatan.” Pada pasal 49 ayat (3), dinyatakan pelaksanaan karantina wilayah dan PSBB, ditetapkan oleh Menteri.

Berbagai istilah penanganan wabah mulai bermunculan di daerah. Perubahan program PSBB menjadi PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) menjadi bukti ke-gagap-an. Sedangkan Satgas Penanganan CoViD-19 selalu mengumumkan penambahan kasus positif makin tinggi. Per-hari masih melebihi angka 12 ribu. Kasus baru terasa masih mencekam. Pada tataran pengamat kebijakan publik, kembali menyarakan gagasan “lockdown” yang tidak dikenal dalam UU Kekarantinaan Kesehatan.

Di berbagai penjuru dunia, lockdown tidak terbukti menurunkan penyebaran CoViD-19. Di negara-negara Eropa yang melaksanakan lockdown, tetap dilanda peningkatan pandemi. Disertai varian virus baru pula (di Inggris). Serta memperoleh perlawanan publik (di Belanda). Lockdown makin menyegsarakan rakyat. Kini pemerintah menambah PPKM berskala mikro, berbasis wilayah lebih kecil, tingkat RT, RW, dan desa.

UU Kekarantinaan Kesehatan sesungguhnya memiliki konsep yang senafas dengan lockdown. Diatur dalam pasal 53, pasal 54, dan pasal 55. Rada mencekam, seperti diatur dalam pasal 54 ayat (2). Secara tekstual dinyatakan, “Wilayah yang dikarantina diberi garis karantina dan dijaga terus menerus oleh pejabat Karantina Kesehatan dan Kepolisian Negara Republik Indonesia yang berada di luar wilayah karantina .” Suasana akan mirip di rumah sakit khusus CoViD-19 Wisma Atlet.

Namun terdapat prosedur penting Karantina Wilayah. Pada pasal 55 ayat (1), dinyatakan, “Selama dalam Karantina Wilayah, kebutuhan hidup dasar orang dan makanan hewan ternak yang berada di wilayah karantina menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat.” Beberapa daerah, termasuk Jakarta, pernah mencoba Karantina Wilayah skala mikro (tingkat Rukun Tetangga, dan Rukun Warga). Tetapi tidak sesuai prosedur. Biasanya mengabaikan pemenuhan kebutuhan dasar.

Namun beberapa daerah juga melakukan “pembatasan” berupa pengendalian CoViD-19 lingkup kecil yang lebih humanis. Antara lain dengan membentuk “kampung tangguh.” Digagas dan dilaksanakan dengan pembinaan Kepolisian (Polres dan Polsek), bervisi ketahanan kesehatan tingkat RW. Juga berisi kegiatan ke-ekonomi-an kreatif, menyokong ketersediaan pangan. Sebagian malah sukses menjadi kampung wisata, kedatangan pelancong lokal.

Dengan branding sederhana “kampung tangguh” bisa dikreasi menjadi kawasan wisata. Seperti di desa Oro-oro Ombo Kulon, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, menjadi “Area Petik Mangga Alpukat Klonal 21.” Masyarakat berpartisipasi aktif menjaga ketahanan kesehatan kampung, menjaga disiplin Prokes, disertai patrol, dan mendata setiap tamu. “Kampung tangguh” tidak mencekam, karena dilaksanaan kerabat dan tetangga sendiri.

——– 000 ———

Rate this article!
PPKM Skala Mikro,5 / 5 ( 1votes )
Tags: