Pramono Edhie Wibowo : ”Saya Telah Tuntaskan Konvensi Partai Demokrat”

Pramono Edhie Wibowo

Pramono Edhie Wibowo

Jakarta, Bhirawa
Pramono Edhie Wibowo, Peserta Debat Bernegara Konvensi C?alon Presiden Partai Demokrat, mengikuti seri terakhir Debat Bernegara dengan nomer undian 4. Acara di hadiri oleh Ketua Umum Partai Demokrat, dan jajaran elit lainnya. Selain diramaikan kader Partai Demokrat, Komite Konvensi Debat Bernegara Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat juga mengundang Ketua Umum Partai Politik peserta Pemilu lainnya.
Pertanyaan pertama Debat Bernegara Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat mengenai strategi peserta konvensi untuk memelihara dan meningkatkan ?pertumbuhan ekonomi, Pramono Edhie Wibowo menyatakan bahwa menjaga tingkat inflansi adalah penting guna memelihara daya beli masyarakat. Hal lain yang disampaikannya adalah pemberian perhatian yang sama kepada ekonomi dalam negeri dan juga bagian dari pada ekonomi internasional. Dalam rangka meningkatkan investasi, Edhie menyatakan bahwa effiensi birokrasi perlu dilakukan. “Investasi akan ada dan berkembang jika birokrasi disederhanakan dan dipermudah. Semua elemen masyarakat harus mendukung ini,” jelas Edhie. Edhie juga menyampaikan subsidi tetap diperlukan. “Subsidi harus dilakukan tepat sasaran, tepat bentuk dan tepat guna,” kata Edhie.
Mengenai kebijakan apa dalam 5 tahun ke depan untuk menyerap lebih banyak tenaga kerja dan mengurangi pengangguran, Edhie menyatakan bahwa pertahanan dan keamanan menjadi syarat utama pembangunan dan pengembangan investasi. “Ketika jaminan keamanan bisa diberikan oleh negara, investasi bisa direalisasikan dan pembangunan berlanjut. Hal ini tentunya akan jelas menyerap tenaga kerja dan dapat mengurangi pengangguran,” jelas Edhie. Lebih lanjut Edhie menekankan pentingnya mengembangkan kualitas sumber daya manusia. “Saya berharap pengembangan sumber daya manusia untuk selalu disesuaikan dengan potensi kearifan dan budaya setempat. Saya akan mendorong Pemimpin daerah untuk lebih mengenali potensi daerahnya masing-masing,” kata Edhie. “Dengan ini penyerapan tenaga kerja dan penurunan angka kemiskinan bisa ditekan,” jelas Edhie.
Sementara sehubungan dengan pertanyaan mengenai bagaimana menciptakan ketahanan di bidang pangan dan energi, Edhie menyatakan bahwa ketersediaan dan keterjangkauannya menjadi syarat utama. “Untuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pangan diperlukan peningkatan produktifitas pertanian dan industri pangan. Ketersediaan lahan, bibit dan pupuk, harus dijamin keberadaanya dan keterjangkauannya oleh negara. Solusi jangka panjang diutamakan dibandingkan solusi jangka pendek,” tegas Edhie.
Sementara mengenai ketahanan energi, kembali Edhie menekankan pentingnya penggunaan energi alternatif dan terbaharukan. “Indonesia memiliki banyak sumber energi alternatif dan terbaharukan. Ini adalah kunci ketahan energi di masa depanya,” jelas Edhie.
Terkait pentingnya pembangun infrastruktur, infrastruktur apa yang akan dikembangkan dan bagaimana sumber pendanaanya, Edhie menyatakan bahwa sebagai negara kelautan, pembangunan infrastruktur kelautan penting untuk dikembangkan. “Pelabuhan laut diberbagai wilayah harus dibenahi dan atau dibangun. konektivitas antar wilayah sentra ekonomi di Indonesia bisa terjadi,” jelas Edhie. “Selain itu Edhie menyatakan bahwa infrastruktur udara juga perlu dibenahi. “Saya berharap pembangunan pelabuhan udara di wilayah sentra produksi Indonesia untuk dipercepat pembangunanya,” kata Edhie. Sementara di bidang infastruktur darat, perecepatan pembangunan jalur kereta api ganda lah ?yang Edhie akan utamakan selain pertumbuhan jalan.
Bagaimana penggunaan dana yang diberikan kepada desa, sesuai dengan undang-undang desa yang baru diberlakukan? Sehubungan dengan hal ini Edhie menyatakan bahwa bimbingan diperlukan. “Bimbingan perlu dilakukan oleh Pemimpin daerah secara berjenjang. Pengertian, penjelasan dan pengawasan harus dilakukan sehingga desa bisa membangun dan berkembang sesuai arahan Pemerintah Pusat,” kata Edhie. “Pembangunan infrastruktur dasar desa menjadi utama untuk mengembangkan potensi lokal,” tambah Edhie.
Sehubungan dengan penurunan angka kemiskinan yang berkelanjutan, Edhie mengatakan bahwa yang harus dilakukan adalah usaha-usaha terus menerus meningkatkan dan meratakan jaminan sosial kepada seluruh masyarakat Indonesia. “Pemerintah ke depannya harus terus bertanggung jawab mengurangi beban hidup keseharian, di bidang pendidikan dan kesehatan misalnya,” jelas Edhie. “Pendidikan dan penyerapan tenaga kerja sangat erta hubungannya dengan pengurangan tingkat kemiskinan,” lanjut Edhie. Edhie menambahkan bahwa hal lain yang perlu dilakukan adalah kelanjutan program keluarga bencana. “Sesuaikan besar keluarga dengan pendapatan keluarga. Promosi manajemen keluarga yang baik ini, saya percaya bisa membantu menurunkan tingkat kemiskinan di Indonesia,” imbuh Edhie.
Selanjutnya panelis penanya bertanya mengenai apalagi mengenai pendidikan yang harus dilakukan ke depannya untuk meningkatkan kualitas pendidikan manusia Indonesia? Terkait pertanyaan tersebut Edhie menyatakan bahwa wajib belajar 12 tahun akan dilakukannya. “Jika beban hidup keseharian ?dikurangi, masyarakat akan fokus dengan pendidikannya. Kalau wajib belajar diteruskan hingga 12 tahun, saya percaya kualitas sumber daya manusia Indonesia akan siap menghadapi pasar terbuka dan masyarakat ekonomi ASEAN,” tegas Edhie. Edhie melanjutkan bahwa dirinya berkeinginan untuk membnagun universites riset sesuai dengan potensi daerah. “Pengembangan potensi daerah membutuhkan tenaga ahli yang sesuai dan riset. Universitas riset dan sekolah kejuruan memainkan peran utama ke depannya,” kata Edhie. “Saya mengusulkan bahasa Inggris untuk bisa menjadi school language,” lanjut Edhie.? Mengenai kesehatan Edhie mengutamakan konsep pencegahan. “Promosi gaya hidup sehat akan saya utamakan,” tegasnya.
Terkait pertahanan dan keamanan, panelis menanyakan apa yang harus dilakukan agar modernisasi alutsista bisa terus dilakukan tanpa menakutkan negara tetangga, Edhie menyampaikan bahwa selama 20 tahun Indonesia tidak melakukan modernisasi alutsista. “Selama ini negara tetangga memiliki alutsista yang lebih modern dari Indonesia. Sudah waktunya Indonesia melakukan penyetaraan teknologi alutsista? dengan negara tetangga,” kata Edhie. “Kita harus ditakuti, tapi tidak boleh menakut-nakuti,” twgas Edhie. “Hapus kecurigaan negara tetangga dengan patroli dan latihan bersama. Undang mereka untuk secara langsung melihat kemajuan industri pertahanan Indonesia,” tegas Edhie. “Modernisasi alutsista adalah modal untuk menjaga kedaulatan wilayah dan rakyat Indonesia,” yakin Edhie. “Tidak akan ada investasi masuk dan pembangunan jika negara tidak bisa menjamin keamanan,” tambahnya.
?Meningkatkan kinerja POLRI, Edhie menyatakan bahwa teknologi menjadi salah satu faktor penting yang harus diperhatikan. “Di Indonesia perbandingan jumlah Polisi dengan masyarakat adalah 1:500, dari seharusnya 1:300,” kata Edhie. “Untuk menutup kekurangan jumlah personil, mau tidak mau teknologi harus dilibatkan untuk meningkatkan kinerja POLRI,” jelas Edhie. Edhie melanjutkan bahwa sistem pertahanan semesta lah yang cocok dengan kondisi Indonesia. “Pertahanan dan keamanan bukan hanya tugas POLRI, semua pihak bertanggung jawab untuk menciptakan kemanan dan rasa nyaman,” ungkap Edhie. “Sistem perekrutan dan peningkatan profesionalisme POLRI akan terus saya tingkatkan,” tegasnya.
Mengenai langkah-langkah pembrantasan korupsi yang lebih mengutamakan pencegahan, Edhie menegaskan pentingnya transparancy. ?”Dengan transparancy, tidak ada yang ditutup-tutupi dalam proses pengadaan saya percaya tidak ada celah untuk melakukan korupsi,” kata Edhie. Edhie lanjut menghimbau bahwa keterlibatan badan pengawas internal secara profesional potensial untuk mengurangi korupsi. “Pencegahan korupsi bisa dilakukan jika badan pengawas internal melakukan fungsinya dengan baik,” yakin Edhie. Lebih lanjut Edhie menghimbau masyarakat Indonesia hidup apa adanya. “Hidup sederhana, dan sesuai dengan kemampuan, niscaya kita jauh dari korupsi,” kata Edhie.
Diakhir sesi Ramono Edhie Wibowo menyatakan bahwa terkait keputusan konvensi nantinya Edhie menjelaskan bahwa dirinya akan mengikuti apapun keputusan partai. “Menang atau kalah bukanlah tujuan saya. Saya hanya ingin melanjutkan pengabdian jika memang amanah diberikan oleh Yang Maha Kuasa kepada saya,” jelas Edhie. “Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat adalah catatan emas dalam sejarah politik dan demokrasi Indonesia. Saya bangga bisa menjadi bagian penting perjalanan demokrasi dan politik Indonesia,” tutup Edhie. [ant. hel]

Tags: