Prihatin, 70 Persen Penderita HIV/AIDS Remaja

Prihatin, 70% Penderita HIV/AIDS Remaja

Axel Alana Thabrani, Duta Peduli HIV/AIDS
Sidoarjo, Bhirawa

Melihat kondisi anak-anak remaja sekarang yang berpacaran secara terang-terangan dan berkeliaran di tepi-tepi jalan kalau malam hari, membuat Axel Alana Thabrani merasa sangat prihatin. Ia pun memberanikan diri untuk mendaftarkan diri menjadi Duta Peduli HIV/AIDS. Dan tak disangka ternyata bisa meraih juara 2, kategori Wakil 1 Putra.
Siswa kelas XI SMKN 1 Sidoarjo ini merasa terpanggil untuk memberikan penjelasan dan sosialisasi agar menjauhi sikap dan perilaku yang rentan terkena HIV/AIDS minimal kepada teman-teman sebayanya.
“Apalagi kalau melakukan seks bebas akibatnya bisa terkena penyakit HIV/AIDs,” ujar Axel Alana saat ditemui (11/12) kemarin.
Siswa yang warga Pasar Wisata Tanggulangin tersebut, terdorong mengikuti lomba Duta Peduli HIV/AIDs Kabupaten Sidoarjo. Tanpa diduga, ternyata bisa meraih juara kedua, kategori Wakil I Putra.
Dengan mendapat juara tersebut, Ia semakin yakin bahwa nantinya akan bisa memberikan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya para generasi muda.
Mengingat data yang tercatat di Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo tahun 2001-2017, hingga bulan September tercatat sebanyak 2.361 kasus HIV/AIDS. Ironisnya hampir 70% penderitanya di usia produktif.
“Makanya, saya semakin semangat untuk ikut terlibat memberikan sosialisasi ke masyarakat,” jelas Axel Alana yang juga sebagai Duta Baca di lingkungan sekolahnya.
Sementara itu, Kepala SMKN 1 Sidoarjo Abdul Rofik menuturkan kalau pihak sekolah selalu mendorong kegiatan anak-anak. Apalagi kegiatan diular akadimik juga sangat penting sekali untuk menumbuhkan kepercayaan dan keyakinan mereka dalam berkarya. Jadi kompetensi itu penting, sementara bakat-bakat yang tersembunyi itu juga harus dimunculkan. “Bukan hanya para siswa yang didorong untuk ikut mengikuti lomba, tetapi para guru-guru pun juga sangat kami dorong untuk terus berlomba dan berkarya,” tutur Abdul Rofik. Oleh karena itu, dengan prestasi-prestasi yang diperoleh anak-anak ataupun para guru-guru tersebut akan lebih mendorong mereka berkarya dan mengurangi bermain HP yang kurang manfaat.
“Jadi anak-anak jaman now jangan sampai dikendalikan oleh teknologi, justru kita yang mengenalikan teknologi, termasuk dalam beramain HP,” pungkas Abdul Rofik. [ach]

Tags: