Pro Kontra Sekolah Dibuka di Tengah Pandemi

foto ilustrasi

Akhir – akhir keputusan pemerintah memulai tahun ajaran baru sekolah memantik pro dan kontra. Pasalnya, di tengah penyebaran Covid-19 yang terus menunjukkan jumlah peningkatan. Update data terkini sebaran kasus virus corona di Indonesia, Sabtu (30/5/2020), Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Indonesia merilis data sebaran peta penyebaran virus corona menyatakan kasus terkonfirmasi positif corona telah mencapai angka 25.216 pasien. Jumlah ini mengalami penambahan sebanyak 678 kasus, bila dibanding data terakhir pada hari sebelumnya.

Merujuk data tersebut, bisa kita artikan bahwa persebaran kasus virus corona di Indonesia, belum menunjukkan indikasi membaik. Bahkan, bisa terkatakan kurva kasus Corona di negeri ini masih menanjak, ditambah lagi vaksi virus Corona yang sampai saat ini masih terus diujikan untuk diketemukan hasilnya. Namun, pemerintah telah meminta masyarakat beradaptasi memulai tatanan normal baru atau new normal. Salah satunya, di bidang pendidikan, Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan memastikan tahun ajaran baru 2020-2021 untuk sekolah dasar dan menengah, kembali dimulai 13 Juli 2020 mendatang.

Wajar adanya, jika keputusan pemerintah memulai tahun ajaran baru sekolah tersebut mengundang sorotan publik dan polemik. Apalagi, merujuk data Sindonews.com, (28/5), faktanya anak juga rentan tertular virus sebagaimana orang dewasa. Hal ini tergambar dari hasil pendeteksian Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Hingga 18 Mei 2020, anak yang terdata sebagai pasien dalam pengawasan (PDP) mencapai 3.324 orang, 129 di antaranya meninggal dunia. Ada 584 anak terkonfirmasi positif Covid-19, dan 14 di antaranya meninggal dunia. Temuan ini menunjukkan bahwa angka kesakitan dan kematian anak akibat Covid-19 di Indonesia tergolong tinggi.

Melihat tingginya angka anak yang terjangkit virus Corona ini, besar harapan sekiranya kebijakan pemerintah membuka sekolah menjadi pilihan terakhir. Jadi, mohon dengan sangat, rencana membuka sekolah di saat seperti ini sangatlah tidak tepat. Semua itu, demi kesehatan dan keselamatan anak-anak kita.

Ani Sri Rahayu
Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Malang

Tags: