Problematika Perempuan dan Kumandang Women Supporting Women

Judul : My New Sister
Penulis : Nicco Machi
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Cetakan : Pertama, Agustus 2023
Tebal : 272 halaman
ISBN : 978-623-253-070-6
Peresensi : Thomas Utomo, Guru SD Negeri 1 Karangbanjar, Purbalingga

Masa depan adalah sesuatu yang tidak pasti. Masa depan tidak bisa ditentukan, hanya bisa dibayangkan dan diupayakan. Tapi bagaimana mengupayakan, sekadar membayangkan saja tidak bisa? Atau parahnya, jangankan membayangkan dan mengupayakan, keadaan sekarang saja pekat dalam gulita. Semua pintu seakan tertutup rapat dan semua jalan seolah tersumbat.

Inilah yang dirasakan Lyra dan Yatri, dua perempuan muda yang menjadi tokoh sentral novel My New Sister.

Lyra hidup dalam keluarga the have. Apapun yang ia butuhkan dan inginkan, tersedia. Harta dan kasih sayang orang tua, melimpah. Fasilitas yang serba memudahkan, mengepung dari semua sisi. Tapi, ya itu tadi, ia tidak tahu impian atau cita-cita macam apa yang bakal ia dikejar? Kelebihan atau potensi diri? Ia merasa tidak punya. Nihil. Kecuali jika hobi menonton drama Korea bisa dikategorikan sebagai kelebihan.

“Ia begitu ketakutan menghadapi masa depan yang masih samar. … Setelah lulus SMA nanti, semua akan berbeda. Lyra harus membuat pilihan-pilihan untuk membuka jalan menuju masa depannya sendiri.” (halaman 90).

Sedangkan Yatri, ia pernah hidup dengan debar optimisme. Studinya di bangku SMP, lancar. Ia harap demikian seterusnya hingga SMA, kuliah, meniti karier. Ia ingin jadi perempuan yang mandiri serta berdaya secara intelektual maupun finansial.

Tapi, harapan sekaligus cita-citanya seperti dekor kain yang mendadak usang. Direnggut lalu dibuang ke sudut entah. Bertubi-tubi lingkungan sekitar, seperti menjerumuskannya ke lumpur isap. Makin dalam, makin dalam. Yatri dipaksa menerima keadaan demi keadaan yang ia tidak inginkan. Lukisan masa depan lenyap, bayangan kelam menyergap.

“Yatri merasa berada di dasar jurang kegelapan, tak tahu bagaimana caranya keluar. Segalanya suram dan meletihkan, membuatnya hampir kehilangan kewarasan.” (halaman 164).

Ketika dua perempuan muda yang serba bertolak belakang itu bertemu, persoalan baru, timbul, bahkan sampai mengancam nyawa salah satunya.

Di sisi lain, ada Vinny, mahasiswi Ilmu Kesejahteraan Sosial yang tahu potensi dirinya dan berani menempuh risiko guna mengejar yang ia sebut panggilan hati. Walau untuk itu, ia harus bersitegang dengan orang tua karena keluar dari jalur yang telah dipetakan keluarga. Ada pula Ratih, seorang perempuan muda yang gigih menjadi pekerja sosial. Ia mendorong serta menunjukkan jalan bagi anak-anak putus sekolah untuk mengambil pendidikan di pusat kegiatan belajar masyarakat.

Tak ketinggalan Bu Elva, perempuan kaya yang naïf, mudah jatuh iba, dan mengedepankan sikap altruisme-kendati kerap merugikannya. Dengan harta dan kedudukannya, Bu Elva yang dijuluki the real Avengers menjadi pelindung dan pemberdaya para janda dengan mendirikan usaha crafting.

Ketiga perempuan ini yang kemudian menyalakan semangat Lyra dan Yatri untuk lebih berani menatap serta menapaki masa depan.

“Semua perempuan ini mempunyai tragedinya masing-masing, tapi mereka berhasil bertahan menghadapi ujiannya dan menjelma menjadi perempuan-perempuan kuat, tegar, tak terkalahkan. Mereka tidak duduk diam meratapi nasib; sebaliknya mereka menerima dan berjuang untuk kehidupan yang lebih baik.” (halaman 60).

Novel peraih Juara Kompetisi Menulis Indiva ini, tak hanya memaparkan sejumlah problematika perempuan dalam memproyeksikan masa depan. Tapi juga menyakinkan pembaca dari kalangan kaum Hawa betapa women supporting women bukan sekadar jargon atau mantra belaka. Melainkan sangat efektif jika diwujudkan sebagai sikap personal maupun komunal guna memberikan dukungan kepada sesama perempuan agar lebih mampu memperoleh akses dan kontrol terhadap sumber daya, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya.

———– *** ————

Tags: