Produksi Susu di Jatim Masih Kurang

Pemprov Jatim, Bhirawa
Produksi susu di Jatim saat ini masih perlu ada peningkatan lagi, sebab susu yang diproduksi peternak utamanya peternak rakyat masih kurang. Padahal pangsa pasar susu sapi ini cukup menjanjikan.
Jika dihitung per harinya, produksi susu di Jatim sebesar 1.030 juta liter. Sedangkan pangsa pasarnya sampai saat ini masih membutuhkan 1,5 juta liter. Menilik hal itu, maka kekurangan produksi susu sapi bekisar 600 ribu liter.
Kepala Dinas Peternakan Jatim, Ir Maskur mengatakan, ada beberapa langkah dalam mengatasi permasalahan kurangnya produksi susu tersebut. Seperti perlunya peningkatan populasi dengan penambahan bibit sapi perah dan melakukan pengendalian pengeluaran terhadap sapi perah.
“Di sisi lain, memang bibit sapi secara internasional harganya masih mahal, hal ini merupakan salah satu kendala dalam pengembangan populasi. Kalau biasanya harganya per ekor sapi senilai Rp 20 juta, kini harganya mencapai Rp 40 juta lebih,” katanya, Kamis (27/3).
Untuk pengembangan sapi ternak di Jatim, kini terbagi menjadi tiga zona. Tiga zona itu adalah wilayah sudah berkembang, wilayah sedang berkembang, dan wilayah yang akan berkembang.
“Untuk wilayah berkembang seperti Malang, Pasuruan, Blitar, Lumajang dan Probolinggo. Sedang berkembang seperti Kediri, Pasuruan, Magetan dan Tulungagung. Dan wilayah akan berkembang seperti wilayah timur dan barat, Jember, Banyuwangi, Ponorogo,” paparnya.
Saat ini populasi sapi perah di Jatim dalam kisaran 300 ribu ekor. Padahal dibutuhkan populasi sapi perah sampai dengan 500 ribu ekor. “Idealnya jika memasukkan 50 ribu ekor sapi perah saja, maka bisa mencukupi kebutuhan 1,5 atau 1,6 juta liter per hari. Dan itu memang membutuhkan investasi Rp 25 triliun, dengan perhitungan produksi harus 20 liter per hari dengan harga Rp 40 juta,” katanya.
Di sisi lain, lanjutnya, ada beberapa permasalahan utama di dalam peternakan diantaranya pakan. Namun, mengenai pakan ini sudah ada sedikit solusi dengan adanya kebijakan Gubernur Jatim memberikan bantuan pakan mini. \
“Harapan bisa dimanfaatkan mengolah pakan dengan komposisi kebutuhan ternak dan menghemat biaya. Jika biasanya membeli produk jadi pabrikan sebesar Rp 2 ribu, maka peternak bisa mencoba dan membuat formula sendiri sehingga menghemat biaya. Bahkan, hasilnya pun juga bisa dijual kelompok yang lain dengan harga yang lumayan. Hal ini juga mengantisipasi adanya musim hujan, harus ada persediaan pakan juga,” katanya.
Masalah lainnya, mengenai penyakit brusella. Dinas Peternakan Jatim berupaya membebaskan seluruh sapi di Jatim baik sapi potong dan sapi perah agar terbebas dari penyakit brusella. Salah satunya memberikan vaksinasi hingga pengetatan jual beli sapi disertai uji lab bebas brusella. “kalau ada jual beli ternak, harus disertai uji lab dulu. Kalau ternaknya terkena brusella harap laporkan ke dinas untuk bisa ditindaklanjuti,” katanya.
Maskur juga mengatakan, potensi peternak dalam mengembangkan produksi susu cukup terbuka. Biasanya pasar penjualan susu sapi perah masih menumpu peternak yang menyetorkan susu ke KUD (Koperasi Unit Desa), lalu KUD kirim ke industri pengolahan susu (IPS).
Padahal, seharusnya peternak sudah harus bisa menciptakan pasar untuk bisa dikonsumsi langsung oleh masyarakat. Diantaranya dengan gerakan minum susu atau terminal gizi seperti STMJ (susu telor madu jahe). “Kami terus memberikan edukasi pada masyarakat untuk mengkonsumsi susu segar,” katanya.  [rac]

Rate this article!
Tags: