Program KRPL Pemprov Jatim Didopsi PBB

Kawasan Rumah Pangan LestariPemprov Jatim, Bhirawa
Program KRPL (Kawasan Rumah Pangan Lestari) yang dicanangkan Pemprov Jawa Timur sejak akhir 2010 kini mulai diadposi oleh lembaga dunia di bawah naungan PBB, yakni WHO dan Unesco.
KRPL dianggap mampu mengatasi ketahanan pangan, karena masyarakat dapat secara mandiri memenuhi kebutuhan konsumsi dengan bercocok tanam di lahan yang sempit sekalipun.
“KRPL Jatim ini cukup sukses bahkan telah jadi percontohan dan program nasional melalui Kementerian Pertanian. Bahkan, WHO dan Unesco juga ikut mengadopsi juga,” kata Kepala Badan Ketahanan Pangan Jatim, Tutut Herawati saat ditemui, Rabu (21/1).
Ia menuturkan, KRPL ini memliki banyak keunggulan dan manfaat. Pertama, yakni mendukung kebutuhan ketersediaan pangan tingkat rumah tangga untuk memenuhi kecukupan gizi.
“Jika KRPL dikembangkan di rumah bisa dikonsumsi sendiri untuk tingkat rumah tangga sehingga mengurangi uang belanja rumah tangga. Selain itu menambah penghasilan karena hasil panen bisa berupa sayur mayur dan TOGA (tanaman obat keluarga) berupa empon-empon bisa dijual,” ungkapnya.
Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, tak hanya cocok tanam sayur, tapi juga ternak unggas kecil seperti ayam, bebek dan kelinci serta ikan di kolam kecil. Kalau ternak unggas atau kelinci, kata dia, disesuaikan dengan kultur daerah setempat, seperti di Magetan lebih banyak ternak kelinci karena terkenal dengan makanan khas sate kelinci.
Sedangkan ternak ikan dilakukan dengan membuat kolam kecil dengan menggunakan terpal berukuran 3×4 meter diisi ikan lele dan nila. Bahkan yang tak miliki lahan terlalu luas bisa menggunakan drum atau tong yang dilubangi.
“Ikan ini tiap tiga bulan sekali bisa panen dan kalau dikonsumsi sendiri pasti lebih dari cukup, bahkan banyak juga yang dijual unutk tambah penghasilan,” ujarnya.
Menurutnya, semua tanaman yang dikembangkan melalui KRPL ini berbasis organic dengan membuat pupuk kompos sendiri. Untuk pembiayaan sebagian besar masih didanai Pemprov Jatim.
“Modal pembuatan KRPL hingga peralatan dan memberikan bibit awalnya diberikan bantuan Pemprov Jatim selama 6 bulan. Kami juga beri pelatihan hingga selanjutnya bisa dikelola secara mandiri,” ungkapnya.
Kesuksesan KRPL juga merambah ke pasar ritel modern. “Di Tulungagung dan Malang sudah ada KRPL yang bisa menjual hasil panennya ke supermarket berupa sawi, kangkung, bayam, dan lombok.  Produknya juga sudah dikemas bagus. Mereka sampai kewalahan penuhi permintaan,” tuturnya.
Keunggulan lain KRPL dikerakan tak hanya digerakkan oleh tingkat rumah tangga saja tapi juga melibatkan Koperasi Wanita (Kopwan) yang digagas pemprov dengan modal Rp 25 juta. “KRPL ini plus-plus karena kopwan dilibatkan. Kopwan ini tidak hanya simpan pinjam. Tapi juga membantu menjualkan hasil panen. Ini bentuk dari ekonomi kreatif desa yang terus kami kembangkan,” tukasnya. [rac]

Tags: